"Kalau kedekatan itu memang tidak pernah benar - benar hilang, lalu aku ini ada di posisi apa?"
Valen menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Ia merasa bodoh karena cemburu pada seseorang yang bahkan belum ia kenal. Tapi perasaan tidak mengenal itulah yang justru menakutkan. Arsya bukan orang baru bagi Dede, Arsya hanya baru baginya.
Dan kadang, orang dari masa lalu punya cara sendiri untuk kembali mengambil tempat, tanpa harus meminta izin.
"Hfft ..."
Valen menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar.
Ia belum siap bertanya lebih jauh kepada Dede atau berdebat berdasarkan asumsinya sendiri. apalagi mengambil keputusan. Yang ia tahu, sepertinya malam ini ia tidak tidur dengan perasaan tenang seperti biasanya.
Hubungannya dengan Dede belum berubah. Namun rasa amannya sedikit d