Ke nada Arsya yang terdengar santai, seolah tidak terjadi apa - apa, padahal setiap kalimatnya seperti sengaja menekan titik - titik sensitif yang bahkan Dede sendiri baru menyadarinya hari ini.
Sendok Dede berhenti di udara.
Ia menghela napas pelan, lalu melanjutkan makan lagi, meski kini lebih lambat. Ada rasa bersalah yang tidak jelas arahnya. Bukan sepenuhnya salah Arsya. Bukan juga salah Valen. Tapi entah kenapa, semuanya terasa bermuara ke dirinya.
Ponselnya yang tergeletak di meja bergetar.
Nama Tanti muncul di layar.
Dede langsung menegakkan badan, hampir saja mie itu tersenggol.
"Ya?" jawabnya cepat.
"Aku bisa nelpon bentar," suara Tanti terdengar agak berbisik. "Bang Arman diajak makan malam sama eyang Nino."
"Akhirnya," gumam Dede, lalu suaranya terdengar lebih serius. "