Yang belum diceritakan Dede ke Valen adalah, salah satu kebiasaan Arsya dari dulu itu menelponnya kapan saja tanpa ada keperluannya. Masalahnya Dede tidak tahu apakah sekarang masih seperti itu atau tidak.
Ponselnya masih bergetar minta diangkat.
Dede menarik napas dalam - dalam, lalu mengangguk kecil.
"Oke," katanya lirih.
Ia menggeser ikon hijau itu.
Wajah Arsya langsung muncul di layar. Rambutnya sedikit berantakan karena angin, latar belakangnya seperti di sebuah taman besar dengan beberapa pohon, tapi tidak banyak orang, entah di taman umum atau taman kampusnya, Dede belum tahu.
"Eh," sapa Arsya ringan ketika melihat wajah Dede, lalu matanya menyipit sedikit.
"Kok rame kali di belakangmu, De?"
Dede menoleh ke belakangnya, memang terlihat bangku lain yang terisi.
"Aku Lagi di