"Bedanya di mana?" Dede tertawa, tapi menertawakan hal yang tidak lucu. Ia mentertawakan logika Valen saja. "Aku tetap aku. Arsya ya tetap Arsya. Waktu SMA kan bukan anak - anak lagi, bang, sudah pecah bulu pun ku rasa...."
Valen terdiam sejenak. Sendoknya ia letakkan di piring.
"Kamu tahu nggak," katanya pelan, " ... yang bikin aku nggak tenang itu bukan cuma soal Arsya. Tapi soal kamu."
Dede menatapnya heran, "Aku? ... kok aku?"
"Kamu nggak pernah cerita banyak tentang Arsya. Dan tiba - tiba dia muncul begitu aja. Tahu - tahu sudah ngomong soal liburan berdua ke Eropa. Ngatur - ngatur kamu seolah dia punya tempat di hidupmu yang aku bahkan baru tahu sekarang. Dan rupanya kamu sudah terbiasa dengan itu."
Dede terdiam. Kata - kata itu menusuk dengan cara yang tidak kasar, tapi tepat.