"Apa?" sahutnya datar, suaranya masih serak karena kantuk.
"Nggak kuliah kau, De?" suara Tanti terdengar cerah, terlalu bersemangat untuk ukuran pagi hari.
"Nanti siang," jawab Dede singkat.
"Enaknya hidupmu," lanjut Tanti tanpa memberi jeda."Sementara aku udah nyampe depan kampus, pagi - pagi harus jalan kaki masuknya. O penderitaanku di perantauan ini. Sementara kau di rumah tidur di kasur empuk. Pas bangun sarapan pun sudah ada dibuatkan kak Tiar. Pulang kuliah langsung pacaran. Cemana lah nasibku ini?"
Nada suara Tanti dibuat - buat agak drama, tapi Dede sudah hafal benar gaya sahabatnya itu. Ia terkekeh kecil, lalu memaksa matanya terbuka. Cahaya pagi yang masuk lewat sela - sela gorden membuatnya menyipit sebentar sebelum akhirnya bangkit setengah duduk.
"Kok senang aku bangun d