Jantung Arsya seperti lupa cara berdetak normal.
Ia gelagapan, tapi tentu saja tidak mau memperlihatkannya.
"Dia kan harus ada visanya juga, Ma. Belum tentu Dede ada."
"Ada. Kami semua buat kok. Kan Mama bilang kami juga mau ke Eropa."
"Oh."
Satu kata itu keluar pelan, hampir tak terdengar.
"Nanti kasih tahu Mama Mas Arsya mau ke mana aja. Jangan pesan tiket dulu ya. Biar nanti sama - sama dengan Dede. Mama nanti bilang sama Tante Indah."
"Iya, Ma."
Percakapan berakhir tidak lama setelah itu. Arsya menurunkan ponselnya, menatap layar hitam yang kini memantulkan wajahnya sendiri. Wajah yang tampak tenang, padahal pikirannya sudah kacau.
Ia duduk di kursi, menatap kotak pasta di hadapannya. Uap hangat sudah tidak terlihat, aromanya memenuhi ruangan kecil apartemen itu. Tapi mendadak