"Oh, lupa, ya?" katanya pelan. "Kalau mama bilang pacar Mas Arsya ke sini nangis - nangis, bilang nggak bisa menghubungi Mas Arsya, itu tandanya lupa juga ya?"
Kalimat itu terdengar mengisi udara di balkon ini seperti sesuatu yang berat.
Arsya langsung tertegun. Tangannya yang tadi santai menopang dagu kini turun perlahan. Matanya melebar sedikit, jelas kaget. Bukan hanya Arsya. Arman ikut membeku. Tanti spontan menoleh cepat, sementara Dede yang sejak tadi diam langsung mengangkat wajahnya, sorot matanya berubah.
Tidak ada suara selama beberapa detik. Angin menjelang masih bertiup, daun - daun tetap bergerak, tapi di balkon itu suasana mendadak menegang.
"Hah?" Arsya akhirnya bersuara. Nadanya pelan, nyaris tidak percaya.
Mama Ana menghela napas di seberang layar. "Iya. barusan ini y