Dede mengangguk. "Itu karena dari dulu udah biasa kumpul."
"Iya," tambah Arsya. "Kalau nggak rame, malah aneh."
"Kalo di rumahku isinya juga nggak banyak, tapi suara mamakku kalo lagi ngomong sudah kek orang sepuluh."
"Dengan kau jadi dua belas, kan?" sahut Dede yang meledek Tanti.
"Salah kau, kalo ditambah aku jadi lima belas...kan aku keturunan mamakku versi muda, tua dikit baru bisa kusamakan kekuatannya."
Mereka tertawa mendengar Tanti meledek diri sendiri.
Angin malam ini bertiup lebih kencang sampai membawa aroma rumput dan tanah basah. Jakarta malam itu terasa berbeda lebih tenang dari yang Tanti bayangkan. Dari Balkon lantai dua itu mereka juga bisa melihat gedung tinggi yang Arman bilang gedung - gedung yang berada di SCBD.
"Aku kira Jakarta tuh selalu ribut," kata Tanti. "