"Kopi kayaknya enak nih, De." Kata Arsya.
"Mau? Kopi apa, biar kuminta sama Kak Tiar."
"Kopi gula aren lah."
Dede langsung mengambil ponselnya dan menelepon Kak Tiar. Tak lama kemudian, ia mematikan panggilan itu sambil menggeleng. "Adanya kopi hitam."
Arsya meringis. "Ah, nggak mau. Pahit kali itu."
Hening sebentar. Arsya menoleh ke arah jendela, lalu ke Dede. "Kita beli di simpang sana aja sebentar yuk. Ada kafe di sana."
"Ah, nggak lah. Malas aku ganti baju," jawab Dede spontan.
Padahal Dede sendiri tahu, bajunya tidak terlalu rumahan. Ia hanya memakai kaos polos dan celana panjang. Rambutnya pun sudah rapi sejak tadi.
"Nggak usah ganti. Cuma dekat sini aja," bujuk Arsya sambil tersenyum tipis.
Dede tampak ragu. Dia melirik jam dinding, lalu ke arah tangga. "Sebentar aja ya?"