Arsya terpancing.
"Rahasia apa?"
"Kau tahu kan rahasia itu apa? Nggak bleh diceritakan ke orang lain."
"Aku kan bukan orang lain."
"Memangnya kau siapa?"
"Aku kan adekmu, kok kau lupa bang?"
"Maksudku ke Dede, bukan aku."
"Aku bestienya dia."
"Masih?"
"Masih lah!"
"Nggak kliatan."
Arsya menghela nafas.
"Aneh abang ini.."
"Ya terserah kau aja lah."
Nada Arman mulai datar, khas abang yang tidak mau ribut tapi juga malas mengalah.
Arsya melangkah lebih dekat ke meja. "Pokoknya kalau beli tiket, masuk kan namaku juga."
Arman meliriknya sekilas. "Nama pacarmu juga? Sorry lah ya, nggak masuk hitungan."
"Ih ... siapa pula yang mau ngajak dia." Arsya langsung bereaksi. "Abang jangan nambah - nambahkan pula."
"Aku kan cuma mastikan aja," kata Arman sambil menyandarkan punggung ke