Berkas perkaranya, secara hukum, masih ada. Salinan vonis bisa ia minta. Tapi yang Maharani cari bukan vonisnya — itu sudah ia hafal sampai ke titik komanya. Yang ia cari adalah jejak transaksi asli: kapan polis Arga benar-benar diterbitkan, lewat sistem mana, siapa yang mengoreksinya, dan kemana premi pertama dibayarkan. Data mentah, sebelum diceritakan ulang oleh jaksa. Karena di antara cerita dan data, selalu data yang berbohong lebih sulit.
Masalahnya, ketika ia mencoba — lewat seorang pengacara pro bono yang masih mau menerima teleponnya — meminta arsip elektronik klaim perusahaan dari masa itu, jawabannya seragam dan dingin: berkas tidak ditemukan. Migrasi sistem tahun ketiga. Kerusakan basis data. Retensi dokumen yang sudah lewat masa simpan. Setiap alasan terdengar masuk akal sendiri-sendiri, dan justru karena masing-masing masuk akal, gabungannya membuat Maharani yakin: berkas itu tidak hilang. Berkas itu dibersihkan. Seseorang menyapu lantai digital itu hingga tak bersisa, lalu meletakkan keset "kerusakan sistem" di atas noda yang masih basah.
Untuk membaca lantai yang sudah disapu, ia butuh seseorang yang pernah memegang sapunya.
Namanya Dani. Maharani mengingatnya samar dari masa kerjanya dulu — anak IT divisi klaim, kurus, selalu memakai earphone sebelah, yang memperbaiki printer macet dan menarik laporan untuk para penyidik. Ia mencari kabar lewat Yuli, lewat grup mantan karyawan yang masih hidup di aplikasi pesan, dan menemukan bahwa Dani dipecat empat tahun lalu. Bukan karena tidak becus. Karena, kata desas-desus, ia menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat dan terlalu banyak bertanya. Versi resminya: pelanggaran prosedur akses data. Versi yang Maharani percaya: ia melihat lantai sedang disapu, dan disingkirkan bersama debunya.
Mereka bertemu di sebuah warung kopi sachet di Tebet, tempat yang dipilih Dani, dengan kursi plastik dan kipas angin yang berdebu. Dani sekarang tiga puluhan, lebih kurus dari yang Maharani ingat, dengan kantong mata seseorang yang mencari kerja terlalu lama. Ia mengenali Maharani begitu duduk, dan matanya melebar.
"Bu Maharani." Suaranya pelan, hampir berbisik, dan ia melirik kanan-kiri seperti orang yang sudah belajar bahwa dinding pun bertelinga. "Saya... saya pikir Ibu..."
"Di penjara. Ya. Sekarang tidak lagi." Maharani memesan dua kopi dan tidak menyentuh basa-basi. "Kamu dipecat karena melihat sesuatu, Dani. Aku dipenjara karena melihat hal yang sama. Aku rasa kita melihat lantai yang sedang disapu orang yang sama."
Dani diam lama. Tangannya membungkus gelas kopi panas seolah mencari kehangatan di ruangan yang sudah panas. Akhirnya ia bicara, dan yang keluar bukan keberanian, melainkan kepahitan. "Saya nemu folder. Pas migrasi tahun itu. Ada batch klaim yang dihapus permanen, bukan diarsip — dihapus. Saya iseng tanya ke atasan kenapa nggak diarsip sesuai SOP. Tiga minggu kemudian saya kena surat peringatan, terus dirumahkan, terus dipecat. Empat tahun saya nggak bisa kerja di asuransi mana pun. Rekam jejak saya kayak ada capnya. Saya nggak ngerti gimana caranya, tapi nama saya kayak diblok di seluruh industri."
Maharani mengangguk pelan. "Karena memang diblok. Orang yang menyapu lantai itu tidak suka ada saksi yang masih bisa cari makan dan cerita."
Dani menatapnya tajam, dan untuk pertama kali ada api kecil di balik kelelahannya. "Ibu mau apa dari saya?"
"Yang dihapus permanen tidak selalu hilang permanen," kata Maharani. "Kamu IT. Kamu tahu ada cadangan. Ada log. Ada jejak di sistem pihak ketiga, di reasuransi, di bank tempat premi mengalir. Data tidak punya satu rumah. Itu kesalahan mereka — mereka membersihkan satu meja dan mengira ruangan jadi bersih."
"Itu... bisa. Mungkin. Tapi Bu," Dani menurunkan suaranya lagi, "orang yang bisa nge-block saya di seluruh industri itu bukan orang sembarangan. Kalau saya gali lagi, dan ketahuan—"
"Kamu sudah kehilangan empat tahun, Dani. Mereka mengambilnya tanpa kamu lawan. Aku tidak menjanjikan kamu aman. Aku menjanjikan kamu balas." Maharani menatapnya rata. "Dan aku membayar. Tidak banyak sekarang, tapi setiap yang aku dapat dari ini, kamu dapat bagian."
Di sinilah Dani menunjukkan bahwa ia bukan sekutu murni. "Berapa bagian?" tanyanya cepat, dan ada perhitungan di matanya yang membuat Maharani diam-diam menghargainya sekaligus mewaspadainya. Orang yang lurus murni tidak berguna dalam pekerjaan ini; orang yang punya harga adalah orang yang bisa diandalkan untuk satu hal — mengejar harganya. Tapi orang yang punya harga juga bisa dibeli orang lain. Maharani mencatat itu, sama seperti ia mencatat rokok Reza.
Mereka tawar-menawar seperti dua pedagang. Dani menuntut lebih dari yang Maharani mampu dan menyebut, di tengah, bahwa ia punya "urusan sendiri" dengan orang-orang itu, sebuah agenda yang tidak ia jelaskan dan Maharani tidak desak. Setiap orang yang masuk ke dalam ini membawa dendamnya masing-masing; selama arah dendam mereka searah, ia bisa berjalan bersama Dani. Sampai tidak lagi searah.
Kesepakatan tercapai dengan jabat tangan yang sama-sama tidak sepenuhnya percaya. Dani akan mulai dengan satu hal: menarik jejak premi pertama polis Arga. Bukan dari server perusahaan yang sudah disapu, melainkan dari sisi bank dan dari rekonsiliasi reasuransi, tempat-tempat yang tidak terpikir untuk dibersihkan karena bukan milik mereka.
"Satu lagi," kata Maharani sebelum berdiri. "Perusahaan cangkang yang jadi penerima manfaat di kasus saya. Aku ingat namanya. Aku ingin tahu apa perusahaan itu masih hidup, dan rekening mana yang masih menyusu padanya. Kalau masih hidup—" ia berhenti.
Kalau masih hidup, berarti mesinnya belum dimatikan. Berarti yang menjeratnya bukan kejadian sekali yang sudah selesai, melainkan sesuatu yang masih berputar sampai hari ini. Maharani belum berani mengucapkannya. Tapi angka di kepalanya sudah mulai menyusun kemungkinan itu, dan ia tidak suka bentuk yang ia lihat.
Dani mengangguk, mencatat nama cangkang itu di ponselnya dengan jari yang sedikit gemetar. Saat mereka berpisah di mulut gang, ia menoleh sekali. "Bu Maharani. Kalau ternyata yang kita gali ini lebih besar dari yang Ibu kira... Ibu masih mau lanjut?"
Maharani memikirkannya sejenak, jujur pada dirinya sendiri seperti yang selalu ia paksakan. "Aku sudah kehilangan suami, nama, dan enam tahun," katanya. "Yang tersisa cuma satu hal yang bisa aku kehilangan lagi. Dan aku berniat menghabiskannya dengan baik."
Ia berjalan pulang melewati pasar yang mulai tutup, di antara bau ikan dan sayur layu, menghitung langkah seperti biasa. Tujuh belas dari halte. Tiga ratus ribu yang menyusut. Lima nama, kini dengan satu sekutu dan satu kecurigaan yang tumbuh: bahwa angka-angka di kasusnya tidak akan cocok bukan karena ada kesalahan, melainkan karena seseorang sengaja membuatnya tidak cocok. Dan pekerjaan seumur hidupnya adalah menemukan persis di mana sebuah angka berbohong.