Reza Aljabar punya kantor di lantai dua sebuah ruko di kawasan Sudirman pinggiran, dengan papan nama berkilau dan resepsionis yang dipilih lebih karena penampilan daripada ketelitian. Maharani tahu itu sebelum masuk, karena ia sudah mengamati tempat itu selama empat hari dari kafe seberang jalan, memesan satu gelas teh tawar yang sama tiap pagi dan duduk di sudut yang sama, menjadi perempuan yang tak diingat siapa pun.
Empat hari cukup untuk membaca pola. Reza datang pukul setengah sepuluh, tidak pernah lebih pagi; ia tipe yang ingin terlihat sibuk tanpa benar-benar sibuk. Mobilnya sedan Jerman keluaran tahun lalu, dicuci tiap Senin. Ia merokok di balkon belakang pukul sebelas dan pukul tiga, selalu, seperti jam yang diatur kecanduannya sendiri. Ia makan siang di tempat yang sama, memesan yang sama, dan memberi tip terlalu besar pada pelayan perempuan muda dan terlalu kecil pada yang tua. Ia tertawa keras di telepon ketika menutup transaksi, dan menutup pintu kacanya ketika menerima telepon yang membuatnya menunduk. Ada dua Reza: yang berisik untuk dilihat orang, dan yang bisu untuk disembunyikan.
Maharani tidak tertarik pada yang berisik.
Ia menyusun dirinya menjadi calon nasabah yang persis akan menarik perhatian Reza. Bukan kaya yang mencolok — orang kaya mencolok membuat broker waspada karena biasanya itu pura-pura. Ia memilih versi yang lebih halus: seorang perempuan paruh baya yang baru saja menerima warisan, canggung dengan uang, takut salah langkah, butuh diyakinkan. Ia meminjam blazer dari Yuli, membeli tas kulit imitasi yang cukup meyakinkan dari pasar, dan melatih cara bicara orang yang punya uang tapi tidak punya rasa percaya diri atasnya. Reza akan mencium itu dari kejauhan seperti hiu mencium darah. Orang yang takut salah adalah orang yang mudah digiring.
Ia menelepon membuat janji dengan nama palsu: Ibu Lestari. Suaranya ia buat sedikit bergetar, sedikit terlalu sopan. Resepsionis menjadwalkannya untuk Kamis pukul sebelas — Maharani sengaja meminta jam itu, jam rokok Reza, karena ia ingin melihat apakah Reza akan menunda kecanduannya demi calon nasabah, atau membuat nasabah menunggu demi rokok. Cara seseorang memperlakukan dua keinginan yang berbenturan menunjukkan apa yang sebenarnya ia hargai.
Kamis pukul sebelas, Reza membuatnya menunggu tujuh menit. Lalu keluar dengan bau rokok samar yang ditutupi parfum. Maharani mencatatnya. Kecanduan menang. Itu berarti Reza mendahulukan kenyamanan dirinya di atas uang yang belum pasti — sebuah kelemahan yang bisa diukur, dan apa pun yang bisa diukur bisa dipakai.
"Ibu Lestari, ya? Mari, mari, silakan masuk." Senyum Reza lebar dan hangat dan sama sekali tidak sampai ke matanya. Enam tahun tidak banyak mengubahnya; sedikit lebih gemuk, sedikit lebih mahal, garis di sekitar mata yang menandakan tidur yang tak nyenyak. Ia tidak mengenali Maharani. Tentu saja tidak. Perempuan yang dulu ia hancurkan adalah angka di berkas, bukan wajah yang ia ingat. Dan Maharani yang sekarang sudah bukan perempuan dari foto identitas itu.
Maharani duduk dengan tangan terlipat di pangkuan, seperti orang yang takut menyentuh apa pun. Ia membiarkan Reza memimpin. Reza menyukai memimpin. Selama empat puluh menit ia bicara tentang produk, tentang proteksi, tentang bagaimana "orang seperti Ibu" perlu merencanakan masa depan. Maharani mengangguk di tempat yang tepat, memuji di tempat yang tepat, dan mengajukan satu-dua pertanyaan polos yang sebenarnya adalah jarum. "Kalau saya, misalnya, mau memberi proteksi untuk keponakan saya, tapi saya tidak mau ribet tanda tangan ini-itu... bisa diuruskan?"
Mata Reza berkilat sedikit. Hanya sepersekian detik. Tapi Maharani membaca manusia seperti membaca tabel; sepersekian detik itu adalah satu baris penuh data. Reza menjawab dengan hati-hati, terlalu hati-hati, lalu mengalihkan dengan kelakar. Tapi pertanyaan itu sudah memetik senar yang benar. Pria ini masih melakukannya. Masih menguruskan tanda tangan yang bukan miliknya. Kebiasaan adalah hal paling jujur tentang seseorang; orang berbohong soal niat, tidak soal kebiasaan.
Maharani pamit dengan janji akan kembali membawa dokumen warisannya. Reza mengantarnya sampai pintu, memberi kartu nama, menyebut nomor pribadinya "kalau ada apa-apa di luar jam kantor." Itu juga data. Reza memberi nomor pribadi pada perempuan yang ia kira pemilik uang baru dan kesepian. Maharani tersenyum malu-malu dan menyimpan kartu itu seperti benda berharga.
Di tangga turun, ia berpapasan dengan seorang office boy yang membawa setumpuk map ke ruang arsip kecil di ujung lorong. Maharani memperlambat langkah, cukup untuk melihat bahwa pintu arsip itu tidak ber-kunci elektronik, hanya gembok biasa, dan bahwa office boy itu meninggalkannya tidak terkunci karena akan bolak-balik. Ia mencatat letaknya, jam si office boy mengangkut map, dan kebiasaan kecil itu — pintu yang malas dikunci — ke dalam peta yang ia susun di kepala.
Di kafe seberang, ia menulis di buku hitam dengan kode-kode kecilnya. Bukan rencana balas dendam yang berapi-api. Sebuah profil. Jam, kebiasaan, kelemahan, kesombongan, ketakutan. Reza menutup transaksi dengan suara keras tapi menerima ancaman dengan pintu tertutup; berarti ada yang ia takuti, dan rasa takut itu di atasnya, bukan di bawahnya. Reza, untuk semua kelicikannya, hanyalah orang tengah. Ia memalsukan tanda tangan, tapi seseorang menyuruhnya. Maharani tidak hanya ingin menjatuhkan Reza. Ia ingin menjadikan Reza sebagai pintu menuju tangan yang menyuruhnya.
Untuk itu ia tidak boleh menyentuh Reza dengan kekerasan. Reza yang terluka akan diam atau lari ke pelindungnya. Reza yang terjebak oleh kelakuannya sendiri akan panik, dan orang yang panik bicara. Ia harus membuat Reza melakukan kesalahan yang Reza kira aman, lalu memastikan kesalahan itu menjeratnya dalam jaring yang tidak bisa ia tuding pada orang lain.
Maharani menyesap teh tawarnya yang sudah dingin. Di kepalanya, sebuah rencana mulai mengambil bentuk — bukan ledakan, melainkan persamaan. Ia butuh sebuah polis. Sebuah transaksi yang menggoda, yang akan membuat Reza tak tahan untuk tidak memalsukan satu tanda tangan lagi. Dan ia butuh seseorang yang bisa membuka pintu data yang sudah dihapus, untuk memastikan setiap langkah Reza terekam di tempat yang tidak bisa ia bersihkan.
Ia membayar tehnya, meninggalkan recehan yang pas, dan keluar ke trotoar yang panas. Empat hari pengamatan sudah memberi tahu segalanya tentang siapa Reza ketika ia merasa aman. Yang Maharani butuhkan berikutnya adalah seseorang yang tahu di mana Reza menyimpan apa yang ia kira sudah aman terkubur.