Tembakan mengenai langit-langit. Dani menerjang pria berjas. Pistol meluncur. Yuli mengambilnya.
"Lari!" teriak Maharani pada Hendro.
Hendro tidak bisa bergerak. Maharani menyeretnya keluar. Dani dan pria berjas berguling di lantai. Pria itu kuat, menusukkan siku ke perut Dani. Tapi Dani memukul rahangnya dua kali. Pria itu terkulai.
Yuli mengarahkan pistol. "Jangan bergerak."
Pria itu tertawa. "Kau pikir ini berakhir dengan saya? Ada puluhan seperti saya. Dirga hanya penjaga toko."
"Penjaga toko yang sekarang kami punya."
Dani bangun, memegangi perut. "Kita harus pergi."
Mereka mengikat pria berjas. Maharani mengambil ponsel dan chip. Hendro akhirnya berdiri, gemetar. "Saya ikut. Saya akan bicara."
Di perjalanan pulang, Maharani membawa mereka ke kantor Komisaris Lidya Sucipto, perwira yang tidak bisa dibeli.
Lidya mendengarkan tiga puluh menit tanpa menyela. "Ini besar. Terlalu besar untuk kantor ini saja."
"Saya percaya pada Anda."
"Jangan percaya. Verifikasi." Lidya mengambil perekam dan chip. "Saya akan periksa. Kalau benar, saya tangani. Kalau salah, Anda masuk penjara lagi."
Mereka menyerahkan semua bukti. Dua tahanan: Dirga dan pria berjas. Saksi: Hendro, Arif, Mbak Santi, Yuli, Dani, Maharani.
Komisaris Lidya mengangguk. "Pergi. Saya yang urus."