Hendro tidak ada di rumah sakit. Cuti mendadak. Dirga mungkin sudah memberi kode sebelum tertangkap.
"Dia lari," kata Dani.
Maharani menyerahkan Dirga pada Mbak Santi. "Bawa ke polisi. Katakan menemukannya mabuk dengan brankas terbuka."
Mereka bergegas ke apartemen Hendro di Kelapa Gading. Pintu terbuka. Tas koper setengah tertutup.
Hendro sudah pergi. Tapi ia meninggalkan kertas: "Maaf. Saya takut. Saya ke Bandung. Alamat di belakang."
"Kita ke Bandung," kata Maharani. "Sekarang."
Mereka berangkat. Mobil meluncur di tol Cipularang. Maharani memegang pistol kecil, tidak ingin menggunakannya, tapi tidak ingin kehilangan saksi.
Pukul sembilan, mereka tiba di Lembang. Vila kecil di lereng bukit, pintu terbuka.
Di dapur, Hendro duduk memegang ponsel. Di depannya, pria berjas hitam memegang pistol.
"Tamu terakhir sudah datang," kata pria itu tanpa menoleh.
"Siapa Anda?"
"Seseorang yang lebih berhati-hati daripada Dirga." Pria itu menoleh. "Saya investor. Saya tidak suka investasi gagal."
"Anda klien?"
"Saya investor." Ia tersenyum. "Serahkan semua bukti. Chip. Foto. Rekaman."
Maharani melempar ponsel ke udara. Pria itu refleks menatap. Dani melompat. Tembakan meletus.