Maharani menghabiskan tiga hari membaca Arif Wibisono dari kejauhan. Pagi ia ke gereja. Siang ia makan di restoran mahal. Sore ia main golf sendirian. Malam ia tidur di rumah kolonial dengan pagar besi dan anjing gembala Jerman.
"Tidak ada yang menarik?" tanya Dani.
"Justru semuanya menarik." Maharani menunjuk foto-foto di layar. "Rumahnya penuh lukisan religius. Ia pergi gereja setiap hari. Ia membeli polis jiwa untuk dirinya sendiri dengan nilai sangat besar."
"Orang religius biasanya?"
"Orang religius yang takut mati. Kalau ia benar-benar percaya surga, ia tidak perlu asuransi kematian sebesar itu. Asuransi itu adalah ketakutan yang tertulis di atas kertas."
Dani mengangguk. "Jadi kita godah ketakutannya."
"Bukan godah. Kita datangi dengan fakta." Maharani meletakkan berkas di meja. "Ini salinan akta palsu yang ia tandatangani untuk Fajar. Dan ini akta serupa untuk Ratri. Dua mayat, satu pena, satu notaris."
"Kau akan konfrontasi?"
"Terlalu kasar. Arif bukan pria yang bisa dihadapi di tengah jalan. Ia butuh meja, kursi, dan ilusi bahwa ia masih punya pilihan."
Maharani menulis surat singkat di kertas putih:
"Tuan Arif, saya tahu bagaimana Tantri membunuh Fajar. Saya juga tahu siapa yang memesan kematian Ratri. Besok jam tujuh malam, warung kopi Terminal Pondok Cabe. Datang sendiri, atau saya kirim salinan akta palsu ke KPK dan gereja Anda."
Ia memasukkan surat ke amplop tanpa nama pengirim.
"Kau yakin ia datang?" tanya Dani.
"Orang yang takut mati tidak tahan rasa ingin tahu. Dan orang yang takut neraka tidak tahan rahasia terbongkar." Maharani menutup amplop. "Besok, kita mulai dari yang paling lemah."