Maharani menempel kartu-kartu di dinding kamar: Jalu, Tantri, Saptono, Arif, Hendro, Dirga. Di bawah setiap nama ia tulis peran.
Dia mulai dari Jalu. "Perekrut. Orang yang mendekati korban dengan tawaran manis: kerja, asuransi, masa depan. Dia tidak membunuh. Dia hanya menyiapkan dompet mayat."
"Kenapa dia penting?" tanya Dani.
"Karena dia satu-satunya yang kenal korban sebelum mati. Satu-satunya yang menyentuh dua dunia: orang biasa di bawah, dan koordinator di atas."
Lalu Tantri dan Saptono. "Pelaksana lapangan. Mereka yang memastikan 'kecelakaan' terjadi. Tantri dengan jarum suntik. Saptono dengan api. Mereka tidak tahu siapa kliennya. Mereka hanya tahu target dan bayaran."
"Berbahaya," kata Dani.
"Sangat. Mereka terlatih, berhati dingin, dan punya banyak darah di tangan. Menyerang mereka langsung sama dengan bunuh diri."
Maharani menulis nama Arif. "Notaris. Dia yang memalsukan persetujuan, surat kuasa, wasiat. Tanpa tangan hukum, polis tidak bisa cair dengan cepat."
Lalu Hendro. "Dokter. Dia yang membersihkan jejak biologis. Surat kematian palsu, visum palsu, pemusnahan spesimen."
Terakhir Dirga. "Koordinator. Mungkin juga klien. Dia yang menerima pesanan, menghitung risiko, dan membagi tugas. Orang yang paling dekat dengan uang — dan paling dekat dengan dendam."
Dani menatap dinding. "Jalu sudah kita kenal. Tantri dan Saptono?"
"Biarkan dulu. Mereka bukan titik masuk. Mereka adalah penjaga gerbang yang membunuh penyerbu." Maharani mengambil spidol merah dan mencoret kartu Tantri, lalu Saptono. "Dua ini kita hindari sampai akhir. Kita butuh bukti dari yang lebih lunak dulu."
"Arif atau Hendro?"
"Notaris itu tua, kaya, dan berpikir seperti orang yang membeli surga dengan uang. Dokter itu juga tua, tapi sudah terbiasa melihat mayat." Maharani tersenyum getir. "Aku pilih yang masih takut mati."