Arini tidak menemui Andreas selama tiga minggu. Ia tetap bekerja, membaca untuk anak-anak, dan menulis jawaban surat, tetapi tidak datang ke Rumah Cinta pada hari ketika Andreas berada di sana.
Sesuai kesepakatan, Arini mengirim pesan setiap beberapa hari bahwa dirinya aman dan masih membutuhkan waktu. Andreas selalu membalas singkat tanpa membujuk.
Ia ingin mengirim bunga, makanan, atau surat panjang, tetapi Bima menahannya.
'Kalau dia meminta ruang, memenuhi ruang itu dengan hadiah tetap bentuk gangguan,' katanya.
Andreas memilih bekerja memperbaiki kebijakan perusahaan. Komite etik menemukan tiga pegawai lain pernah diminta mengakses informasi Allea di luar kebutuhan kerja. Tidak ada yang dipecat secara sembarangan; setiap peran diperiksa, data dihapus sesuai prosedur, dan pelatihan diwajibkan.
Allea menghadiri pertemuan hasil pemeriksaan bersama pendamping. Ia menyatakan tidak ingin kasusnya digunakan sebagai kampanye pencitraan perusahaan.
'Perbaikan cukup diumumkan sebagai kebijakan perlindungan data,' katanya. 'Nama saya tidak perlu disebut.'
Andreas menyetujui.
Arini membaca laporan akhir yang diberikan Allea. Ia melihat Andreas benar-benar menerima pemeriksaan, termasuk pembatasan aksesnya sendiri terhadap data pegawai.
'Ibu masih marah?' tanya Allea.
'Iya. Tapi marah tidak berarti Ibu tidak melihat perubahan.'
'Apa Ibu akan menemuinya?'
'Saat siap.'
Pada minggu keempat, Arini mengirim undangan bertemu di pasar tanaman yang pernah mereka kunjungi. Andreas tiba lebih awal tetapi menunggu di luar sampai waktu yang disepakati.
'Terima kasih sudah datang,' kata Arini.
'Terima kasih sudah mengundang.'
Mereka berjalan tanpa menyentuh. Arini menjelaskan bahwa pencarian rahasia Andreas membuatnya merasa kembali menjadi objek yang diamati.
'Kamu melakukan itu sebelum tahu aku adalah Arini, tapi kamu melakukannya kepada Allea karena melihat bayanganku. Itu menyakiti kami berdua.'
'Aku tahu.'
'Apa kamu masih mencari informasi tentangku tanpa bertanya?'
'Tidak. Aku hanya mengetahui hal yang kamu sampaikan atau yang diperlukan secara terbuka dalam kegiatan perpustakaan.'
'Kalau rasa takutmu muncul lagi?'
'Aku akan bertanya apakah kamu bersedia memberi kabar. Kalau jawabannya tidak, aku harus mengelola ketakutanku sendiri.'
Arini menatapnya, mencari tanda bahwa jawaban itu hanya kalimat yang dipelajari. Ia tidak dapat memastikan dari satu pertemuan.
'Aku belum sepenuhnya percaya,' katanya.
'Aku tidak meminta kamu percaya hari ini.'
Mereka berhenti di penjual bunga melati. Tanaman yang dibeli Arini sebelumnya mulai tumbuh, dan ia ingin mencari pot lebih besar.
Andreas membantu membawa pot setelah ditawari. Mereka duduk minum teh di warung pasar.
'Aku membaca surat baru tentang perjalanan bus,' kata Arini. 'Aku menyukainya.'
'Aku senang.'
'Tapi jangan menulis setiap pertemuan kita. Aku ingin beberapa hari hanya menjadi hari biasa.'
'Baik.'
'Kamu kecewa?'
'Sedikit. Menulis adalah caraku memahami sesuatu. Tapi aku bisa menulis untuk diriku tanpa mengirim atau menerbitkan.'
'Itu cukup.'
Arini kemudian mengeluarkan surat keempat belas jawabannya. Ia belum menyerahkan.
'Aku ingin melanjutkan membaca dan bertemu. Bukan karena pemeriksaan itu selesai, tetapi karena kamu menghormati jarak yang kuminta.'
Andreas mengembuskan napas yang seolah ditahannya selama berminggu-minggu.
'Aku akan berusaha terus menghormatinya.'
'Dan aku akan mengatakan kalau membutuhkan jarak, bukan menghilang.'
Ia menyerahkan surat tersebut. Andreas menyimpannya tanpa membuka.
Saat hendak berpisah, Andreas bertanya, 'Boleh aku menggenggam tanganmu?'
Arini mempertimbangkan, lalu mengangguk. Genggaman itu hanya berlangsung beberapa detik.
'Gilang,' katanya, 'aku mulai memiliki perasaan kepadamu lagi. Tapi perasaan itu tidak membatalkan kemarahanku.'
'Keduanya boleh ada.'
'Aku belum siap menyebut hubungan kita.'
'Kita tidak perlu memberi nama.'
Arini melepaskan tangan lebih dahulu. Kali ini Andreas tidak merasa ditolak. Ia memahami kepercayaan tidak kembali sebagai hadiah setelah satu tindakan benar. Kepercayaan tumbuh dari banyak kesempatan ketika seseorang memiliki kuasa melanggar batas, lalu memilih berhenti.
Di rumah, Andreas membaca surat keempat belas. Arini menulis tentang rasa marah dan rindu yang hidup berdampingan. Pada akhir surat, ada satu kalimat yang membuatnya menangis:
Gilang, mungkin aku tidak kembali kepadamu. Mungkin kita sedang berjalan menuju seseorang yang belum pernah kita kenal sebelumnya: kita yang jujur.
Andreas melipat surat itu dan menyimpannya. Ia tidak segera membalas. Untuk pertama kali, ia membiarkan kata-kata Arini berdiri sendiri tanpa buru-buru menambahkan suaranya.