***
Selesai merapal segala macam doa yang ia ingat, Kanaya membuka pintu kamar kosnya. Wanita dengan perawakan yang lebih dari cukup untuk mengikuti audisi model majalah itu, berusaha membuat perasaan tegang yang sejak pagi menghantuinya untuk segera menghilang. Ada tiga alasan dirinya menjadi tegang seperti ini, pertama karena setelah bertahun-tahun akhirnya ia kembali ke Ibu kota, kedua ia akan bekerja disebuah perusahaan periklanan yang cukup besar, ketiga ia akan kembali satu kantor dengan Fatur Rahman.
Mengingat hal yang terakhir, membuat Kanaya kembali merapal doa. Terlalu banyak berdoa membuat Kanaya tidak sadar kalau dirinya sudah terlalu lama berdiri diam, sementara waktu terus berlalu. Wanita berjalan terburu-buru menuju gerbang depan kos, sambil sibuk memesan ojek online. Untung saja ia tidak sampai tersandung kakinya sendiri, karena melangkah tanpa memperhatikan apa yang dipijaknya.
Begitu sampai di depan gedung kantor, Kanaya segera merapikan rambutnya dengan jari setelah mengembalikan helm pada abang ojek yang mengantarnya. Masih ada waktu lima belas menit sebelum jam masuk kantor, tapi tentu saja itu bukan waktu yang cukup untuk memberikan kesan pegawai teladan di hari pertama. Bahkan hari ini ia tidak sempat berdandan, penampilannya benar-benar terlalu apa adanya. Sepertinya kesan pertamanya di perusahaan ini tidak akan terlalu luar biasa.
Lobi gedung kantor ini terlihat ramai, sebelumnya ia sudah diberitahu kalau ruangannya berada di lantai lima. Bersama banyak orang lainnya, Kanaya menunggu pintu lift terbuka. Wanita itu terus menunduk dan hanya sesekali mengangkat kepalanya, takut matanya akan menemukan sosok yang sedang ia hindari. Kanaya terus bersikap seperti itu sampai tiba di lantai yang ia tuju, tempat dimana ruangan tim kreatif berada, tempatnya akan kembali memulai kehidupan sebagai copywriter.
Kanaya mengetuk pintu yang bertuliskan Creative Departement itu satu kali, sebelum membuka pintunya. Ada empat orang pria di dalam ruangan, mereka sudah duduk di mejanya masing-masing. Ia yang lebih dulu tersenyum menyapa semuanya, barulah mereka menyambut kedatangan Kanaya. Brahma, Satrio, Julio, dan Rangga, keempatnya memperkenalkan dirinya masing-masing. Tentu saja mereka sudah tau kalau akan kedatangan anggota baru hari ini, jadi sebuah meja sudah disiapkan untuk Kanaya.
Ada dua meja yang masih belum terisi dan meja Kanaya berada di paling ujung, di samping Brahma dan berhadapan dengan meja milik Julio. Sedangkan satu meja lainnya adalah milik creative director, yang masih belum terlihat batang hidungnya. Melihat orang-orang yang berada di tim kreatif membuat Kanaya bisa bernapas lega, setidaknya yang ia takutkan tidak terjadi.
"Tumben Bang Fatur belum dateng." ujar Julio, membuat Kanaya yang sedang menunggu laptopnya menyala langsung menengok pada pria yang memiliki kulit cerah itu.
"Tuh, panjang umur." ucap Rangga sambil menoleh ke arah pintu masuk.
Mata Kanaya langsung dibuat membulat sempurna begitu melihat wajah orang yang baru saja masuk ruangan, perasaan tidak enak saat tadi mendengar rekan kerja barunya menyebutkan nama yang tidak asing terwujud sudah. Pandangannya terus mengekori pria itu, sedangkan orang yang membuatnya kaget luar biasa itu hanya berwajah datar dan langsung berjalan ke arah meja kerjanya, meja yang letaknya berada di sudut lain yang berlawanan dengan milik Kanaya.
"Oh, selamat datang di tim ... Kanaya." sambut Fatur setelah mengeluarkan laptop dari dalam tasnya, dia bicara sambil menatap ke arah Kanaya, membuat keduanya berpandangan.
"Semoga kamu nyaman jadi satu-satunya perempuan di ruangan ini." lanjutnya disertai sebuah senyuman yang terlihat ramah, seperti halnya saat menemui orang baru.
"Iya." sahut Kanaya singkat, ia juga membalas senyuman pria itu.
Setelah mendapat balasan dari Kanaya, Fatur menyalakan laptopnya, lalu duduk di kursinya. Kanaya melirik pada yang lainnya, Brahma dan Satrio terlihat santai dan ikut sibuk dengan laptopnya, sementara Rangga dan Julio saling bertukar pandang lalu tersenyum canggung padanya. Kanaya jadi ikutan bingung, karena melihat sikap Rangga dan Julio yang seolah baru melihat sesuatu yang tidak biasa.
“Di sebelah kamu ada Brahma dan Satrio. Tugas mereka sama kayak kamu, copywriter ..." Fatur kembali tiba-tiba bersuara, tapi tanpa melihat ke arah orang yang dia ajak bicara. Membuat Kanaya tidak terlalu yakin sebenarnya Fatur sedang bicara padanya atau pada orang lain.
"Di depan kamu ada Julio dan Mas Rangga, mereka art director.” Kali ini Fatur melihat ke arahnya, Kanaya mengangguk dan Fatur langsung kembali menatap layar laptopnya.
“Aku ..." seru Kanaya, membuat semua mata tertuju padanya.
"Kanaya.” lanjutnya sambil menatap Fatur.
"Saya tau." ucap Fatur dengan wajah datar, membuat Kanaya jadi merasa malu. Wanita itu langsung menundukkan kepala, dalam hati dia sibuk menyesali ucapan perkenalannya tadi. Seharusnya dia tidak perlu bicara, karena Fatur memang tau dirinya itu siapa.
“Di sini, saya sebagai creative director. Tapi gak perlu terlalu kaku, santai aja. Prioritas kita yang penting kerjaan bagus, tepat waktu, dan no complain.” tambah Fatur lagi, membuat Kanaya harus kembali menatap ke arahnya. Menurut Kanaya wajah pria itu kali ini terlihat lebih bersahabat, tidak seperti saat menanggapi perkenalan dirinya tadi.
“Bapak creative director kita namanya Fatur, Nay.” Kanaya menengok pada Julio yang menjadi sumber suara, ia tersenyum tipis tanda mengerti.
“Dia tau saya Jul, kita udah kenal sebelumnya.” aku Fatur saat mendengar Julio bicara pada Kanaya.
Kanaya langsung memalingkan wajahnya untuk menatap Fatur, ia tidak menyangka kalau pria itu bisa bicara santai mengatakan kalau mereka sudah saling mengenal sebelum ini, sedangkan dirinya sendiri masih sibuk menghilangkan rasa canggung aneh yang mengganggunya sejak Fatur masuk ruangan sampai dengan saat ini. Wanita itu tadinya berharap kalau orang-orang di sini tidak akan pernah tau kalau ia dan Fatur saling mengenal, tapi Fatur malah mengumumkan hal itu.
“Oh ya? Kenal di mana?” Rangga langsung menatap Fatur, menunggu jawaban.
“Dulu kita sempat satu kantor.” jawab Fatur singkat, tak berniat memperpanjang pembicaraan.
“Sekarang satu kantor lagi. Oh, wow! Pakai koneksi Bang Fatur gak Nay, masuk sini?” tanya Julio.
“Sejak kapan saya rekrut orang pakai koneksi, Jul?” Fatur menatap galak pada Julio, membuat Julio menggumamkan kata maaf tanpa suara pada Kanaya.
Setelah keributan kecil itu selesai, mereka semua kembali serius dengan pekerjaannya masing-masing. Begitu juga Kanaya yang ditugaskan Fatur untuk membantu Satrio, sementara sebelum Kanaya mendapatkan proyeknya sendiri. Keduanya mengambil tempat di meja yang biasa digunakan untuk rapat, untuk mempermudah komunikasi karena meja kerja keduanya terhalang oleh meja Brahma.
Sudah masuk jam makan siang tapi semuanya masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya, padahal perut Kanaya sudah mulai berdemo minta diisi. Dia kebingungan sendiri sampai beberapa kali melirik pada Satrio, tapi enggan saat melihat raut serius di wajah pria itu. Tak perlu waktu lama sampai perut kosong Kanaya berbunyi, wajahnya langsung terasa panas begitu semua memandang ke arahnya.
“Oh ... udah waktunya makan siang ya?” Satrio langsung bersuara sambil melirik jam tangannya, menyadari Kanaya menunduk malu karena menjadi pusat perhatian.
“Eh, iya. Pesan antar aja ya? Mau makan apa kita?” Rangga berdiri, ikut berusaha mengalihkan perhatian.
"Ayam! Ayam penyet aja, Mas. Setuju ya semua!" usul Julio, yang langsung disetujui semuanya.
Akhirnya setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, pesanan makanan mereka datang. Ruangan yang tadinya hening kembali menjadi ramai, dengan Julio yang Brahma yang sibuk saling meledek soal status jomblo Brahma sambil makan.
“Jul, lo sibuk amat dah! Bang Satrio sama Bang Fatur yang udah kepala tiga aja masih santai.” sela Brahma yang sudah bosan mendengar ucapan Julio.
"Gak usah bahas orang lain, apalagi orang tua Bram ... kualat lo! Tapi kan Bang Fatur ada pasangannya, paling bentar lagi. Sama kayak gue," Julio memamerkan cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya, "Iya gak, Bang?" Julio melirik pada Fatur.
Kanaya langsung terbatuk-batuk sampai mengeluarkan air mata, bukan karena ucapan Julio soal Fatur tapi karena dia memang tersedak sambal. Brahma yang duduk di sebelahnya dengan sigap menyodorkan air minum, karena Kanaya terlihat sangat mengkhawatirkan.
“Belum, Jul.” suara Fatur terdengar tenang saat menjawab pertanyaan Julio, Kanaya yang sibuk meneguk air tidak berusaha melihat ekspresi pria itu.
"Jul, bukan masalah besar kok orang punya pasangan atau nggak." Satrio akhirnya ikut bersuara setelah namanya ikut disebut-sebut.
“Ya memang nggak ... tapi masalahnya dia gak pernah kelihatan gandeng cewek selama ini, gimana gue gak curiga.” Julio menyipitkan matanya, menatap Brahma.
“Sial!” Brahma melempar tutup pulpen pada Julio, disambut tawa yang lainnya.
“Kalau Kanaya punya pacar atau masih sendiri? Atau malah udah ada calonnya?” Pertanyaan Rangga membuat semua mata sekarang kembali tertuju pada Kanaya, menunggu jawabannya.
“Hah? Ng—nggak ada.” jawab Kanaya, matanya terlihat sedikit bingung saat menjawab pertanyaan tiba-tiba itu.
“Kalau sama Brahma atau Bang Satrio mau gak? Mereka berdua jomblo akut nih, siapa tau bisa jadi romance in office.” tawar Julio dengan tatapan jahilnya.
“Ah? Gimana ya ... soalnya aku enggak tertarik sama romance in office.” Kanaya tersenyum canggung, merasa tak enak.
“Di sini gak ada larangan untuk pacaran atau menikah sama sesama pegawai kok, Nay.” Suara dari Brahma membuat Kanaya melirik ke arahnya, tapi pandangannya sekilas malah bertemu dengan Fatur.
“Brahma tancap gas!” Julio langsung heboh, yang membuatnya kali ini mendapatkan lemparan gulungan kertas dari Brahma.
Kanaya jadi mengatakan kalau sebelumnya ia pernah terlibat dengan situasi semacam itu dan malah membuatnya tidak nyaman, karena apapun akan selalu dihubung-hubungkan. Jawaban Kanaya ini membuat yang lainnya jadi penasaran, mereka mulai bertanya banyak hal padanya. Akhirnya Fatur memotong pembicaraan karena menyadari Kanaya beberapa kali melirik ke arahnya, meminta bantuan agar bisa keluar dari situasi ini. Fatur mengatakan kalau waktu makan siang mereka sudah lewat dan meminta semuanya untuk kembali fokus bekerja.
“Ay, bisa ikut saya keluar sebentar?” Fatur yang berdiri di belakang Kanaya sedikit membungkuk saat bicara, tangannya menunjuk arah pintu.
Walaupun bingung Kanaya tetap mengikuti Fatur keluar dari ruangan, pikir Kanaya karena di sini Fatur adalah atasannya jadi ia harus mengikuti perkataan pria itu selama di kantor. Rangga dan Julio terlihat tidak terlalu peduli dengan kepergian Kanaya dan Fatur walau sebenarnya aneh, karena mereka bisa saja bicara di dalam ruangan kalau soal pekerjaan. Sementara Satrio dan Brahma merasa tidak nyaman dengan kepergian keduanya, terutama Brahma yang jelas-jelas mendengar panggilan Fatur pada Kanaya tadi.
Kanaya yang masih mengekor di belakang Fatur merasa semakin kebingungan karena pria itu malah memasuki area tangga darurat, tapi ia memilih tak bertanya dan tetap mengikutinya. Pintu kembali tertutup rapat saat Kanaya masuk, Fatur menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Kanaya.
“Kenapa berhenti?” Kanaya masih tidak mengerti dengan sikap aneh Fatur, padahal selama di ruangan pria itu bersikap biasa saja.
“Kamu tau kan saya kerja di sini?” tanya Fatur, membuat kening Kanaya berkerut.
“Tau.” sahut Kanaya yang dalam hatinya menggerutu, jelas-jelas dialah orang yang memasukkan lamaran Fatur ke perusahaan ini. Jadi dirinya tentu sudah tau kalau Fatur bekerja di sini.
“Terus kenapa kamu masukin lamaran kerja ke perusahaan ini?” Nada suara dan raut wajah Fatur sebenarnya biasa saja, tapi entah kenapa Kanaya merasa kesal.
“Maksud Kak Fatur, aku sengaja kerja di sini biar ketemu Kakak gitu? Aku bukan tipe orang yang kaya gitu kok. Karena memang hanya tempat ini yang terima aku, jadi aku kerja di sini. Walaupun ini perusahaan bagus tapi kalau ada pilihan lain aku akan milih yang lain, aku juga bukannya mau ketemu Kak Fatur lagi. Mutusin buat kerja di sini itu bukan keputusan yang gampang buat aku ambil. Lagian juga, aku mana tau jabatan Kakak sekarang di sini apa, aku juga kaget liat Kakak di ruangan tadi pagi.” ucap Kanaya, tidak memberikan kesempatan Fatur untuk menyela.
“Maksud saya gak kayak gitu, Ay.” Sekarang Fatur yang bingung melihat Kanaya jadi marah-marah padanya.
“Terus maksudnya apa? Lagian nih, selama yang aku tau creative director itu terlibat langsung dalam pengambilan keputusan buat masukin orang ke dalam timnya, jadi kenapa Bapak Fatur menerima saya jadi bagian timnya?” Kanaya masih bicara dengan nada yang sama.
“Jadi sekarang kamu minta untuk dikeluarin dari tim?” Fatur yang mulai merasa kesal pada cara bicara Kanaya padanya melangkah mendekat, tapi Kanaya tetap berdiri tegak di posisinya.
“Kakak terima aku karena Kakak tau kemampuan aku, kan? Kalau memang ternyata aku gak cukup bagus, dengan senang hati aku akan mengundurkan diri.” ucap Kanaya sama sekali tak terintimidasi oleh Fatur.
Fatur kembali melangkah mundur lalu menaruh tangannya ke dalam kantong celana jeans yang dia gunakan. Wajahnya berubah lebih santai, walau keningnya menunjukkan beberapa kerutan.
“Sejak kapan kamu kayak gini?” tanya Fatur.
Kanaya menatapnya bingung, tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Fatur. Beberapa detik lalu mereka untuk pertama kalinya sedang beradu argumen, tapi sekarang pria itu malah tersenyum dan memberikan pertanyaan yang bahkan tidak ia mengerti.
“Maksudnya?” Kanaya benar-benar tidak bisa menebak maksud Fatur.
“Udahlah, balik kerja aja yang bener. Saya gak mau kamu sampai mengundurkan diri.” Fatur lalu keluar kembali menuju ke ruangannya.
Kanaya menghembuskan napas kasar, ia tidak mengerti kenapa bahkan baru beberapa jam di hari pertama pertemuan mereka setelah bertahun-tahun Fatur malah membuatnya salah tingkah, bingung dan kesal.
***