Gadis muda bertampang lugu itu langsung tersungkur di hadapan Kecubung. Air matanya terurai di pipi kemerahan.
"Nyonya, anda bisa jadi saksi. Kotak itu terlepas dari tangan Chun Tao bukan saya."
"Berani sekali kau memfitnahku. Sekarang ikut aku ke paviliun Feng Yue untuk menjelaskan semuanya."
Fei menggeleng keras, matanya memohon pada Kecubung. Siapapun yang tinggal cukup lama di kediaman pasti paham betapa buruk temperamen Yan Yan di belakang perdana menteri dan nyonya tua. Beberapa b***k sudah kehilangan nyawa di tangannya.
Kecubung menepis tangan Fei dari ujung sepatunya, lalu bangkit berdiri dengan anggun. "Untuk apa kau menangis di sini. Tentu saja kita harus menjelaskan semuanya pada Yan yiniang."
Melihat pemilik kediaman He Xiang berusaha keras tampil seperti salah satu majikan, Chun Tao makin jengkel. Andai wajahnya sedikit lebih cantik, sudah tentu dia bisa seperti kecubung. Seekor ayam yang berubah jadi burung feniks hanya karena naik ke tempat tidur majikan.
Dia menatap Kecubung sejenak sebelum memimpin jalan ke paviliun Feng Yue.
"Fei, hati-hati saat berjalan. Di sini banyak tanaman langka. Jangan merusaknya dan membuat Yan yiniang makin kesal."
Kecubung tersenyum dingin mendengar peringatan Chun Tao. Siapa yang tak tahu kalau kalimat ini sebenarnya ditujukan padanya. Dibanding paviliun ini, kediamannya memang tak ada apa-apanya.
Paviliun Feng Yue bertetangga dengan paviliun An Ning milik nyonya tua, dan tepat berada di belakang paviliun Zun Zhong milik perdana menteri, sehingga pemandangan di sini sangat indah. Ada kolam ikan, taman bunga, serta bukit buatan. Pendeknya, kemakmuran xiangfu dicurahkan sepenuhnya di sayap kiri.
Jadi, tepat sekali kata-kata Chun Tao diucapkan untuk menyindirnya, seorang selir yang tak punya apa-apa selain tubuh dan wajah yang cantik.
"Yan yiniang memang sangat beruntung," puji Kecubung tanpa ragu. "Bisa tinggal di tempat semulia ini adalah keberuntungan yang belum tentu bisa dimiliki kaum bangsawan."
"Sebaiknya, anda tidak bicara sembarangan."
"Apa yang salah? Aku cuma memuji keberuntungan Yan yiniang."
Chun Tao mendengus kesal sebelum melanjutkan langkah. Memangnya membandingkan majikannya dengan kaum bangsawan bisa dilakukan sembrono? Kalau sampai orang luar mendengar hal ini, bisa-bisa kediaman perdana menteri (xiangfu) jadi bahan tertawaan.
Sepertinya, dia harus mengusulkan pada majikannya agar memberi pelajaran pada selir rendahan ini.
Sejurus kemudian, mereka sampai di hadapan Yan Yan. Perempuan bertubuh mungil tersebut sedang memainkan Guzheng dengan lincah. Alunan yang dimainkannya mendayu-dayu dibawa angin.
"Baru saja bertemu di kediaman nyonya tua, sekarang Meimei (adik) sudah mengunjungiku. Ada apa gerangan?" ujarnya saat lagu yang dimainkan sudah berakhir.
"Alunan lagu yang dimainkan Jiejie (kakak) begitu indah, sampai aku tak bisa menahan diri untuk mendengar lebih dekat."
Senyum tipis di wajah Yan Yan tidak berubah sama sekali. Sekali kedipan mata, pelayan yang berdiri di belakangnya beranjak ke belakang, lalu kembali dengan nampan berisi kudapan dan teh.
"Baru-baru ini aku mulai tertarik membuat camilan dari buah kering. Mei mei silakan mencobanya. Mari kita lihat, apakah itu sesuai seleramu."
Perlahan, Kecubung meraih sebuah kudapan dan memakannya segigit sebelum menyimpan sisanya di balik sapu tangan. "Wah, rasanya manis dan sedikit asam. Sangat cocok untuk dinikmati setelah bersantap siang."
"Bagus sekali. Nanti Meimei boleh membawa sebagian ke paviliun He Xiang untuk dinikmati saat senggang."
"Terima kasih atas kebaikan Jiejie. Kalau begitu aku tak akan sungkan."
Kedua selir tertawa manis, seperti teman lama yang punya ikatan erat. Hanya orang jeli yang bisa melihat kewaspadaan dalam tatapan mereka.
"Berhubung Jie jie sedang dalam suasana hati yang baik, izinkan aku mengatakan sesuatu."
"Oh, tentu saja." Yan Yan berkata santai sambil melirik sekilas pada Fei yang sudah berlutut sejak masuk tadi. Kejadian di paviliun He Xiang sudah sampai ditelinganya, sebab itu suasana hatinya sedang baik karena ingin melihat si jalang Kecubung memohon padanya.
"Pelayanku yang bodoh sudah melakukan kejahatan tak termaafkan. Dia menjatuhkan kotak hadiah yang Jiejie kirimkan. Aku mohon padamu agar menghukumnya dengan baik."
Apa-apaan! Kenapa si jalang tak memohon agar dia mengampuni Fei? Bukankah gadis muda itu pelayan utamanya?
Meski bingung, Yan Yan menghirup teh-nya seraya memikirkan strategi apa yang sedang dipikirkan Kecubung.
"Tentu saja dia harus dihukum," ujarnya tenang. "Setidaknya harus dipukul dengan tongkat sebanyak tiga puluh kali."
Fei yang malang mulai meraung. Memikirkan tongkat besar dari kayu keras dihantamkan tiga puluh kali ke tubuhnya, dia nyaris pingsan.
Saat pelayannya panik, raut wajah Kecubung tidak berubah sedikit pun. Dia menyesap teh perlahan, sebelum mengatakan hal lain. "Itu hukuman yang masuk akal. Hanya saja, aku takut Jiejie belum bisa melakukannya sekarang."
"Kenapa begitu?"
"Entah ini penting atau tidak, tapi menyangkut situasi furen. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, kita perlu banyak tenaga. Kurasa, Fei orang yang cocok melakukannya."
Senyum di wajah Yan Yan membeku. Si Ja-lang mencoba menukar nasib pelayannya dengan sepotong informasi. Tapi bagaimana ini?
Dia sangat ingin mengetahui semua hal menyangkut Ming Lan. Jalang tua itu sudah mengacaukan hidupnya dua hari terakhir.
"Benarkah?" sahutnya pura-pura tak acuh. "Aku belum bisa memutuskan sebelum kudengar informasi penting apa yang kau bawa."
Kecubung tersenyum sinis di balik kipas sutranya. Memangnya dia orang bodoh? Informasi bisa berguna hanya ketika belum dibocorkan.
"Kalau begitu, silakan Jiejie pikirkan dulu. Nanti kalau sudah punya jawaban, aku datang lagi kemari."
Kedua tangan Yan Yan mengepal. Beraninya selir rendahan mempermainkannya. Menahan rasa geram, dia bicara seramah mungkin.
"Kelihatannya Meimei tidak begitu mempercayaiku. Baiklah, aku akan memaafkan Fei kali ini asalkan kau bersedia berbagi cerita."
Kecubung yang sudah bangkit, duduk kembali. Dia mendekat ke arah Yan Yan dan membisikkan sesuatu. Detik berikutnya, selir manja ini bicara lebih keras dari sebelumnya.
"Hmph, memangnya dia mengharap keluarga Xie melakukan apa?"
"Soal itu... Meimei kurang paham, makanya datang kemari meminta petunjuk Jiejie."
Yan Yan tampak berpikir keras. Kalau dia langsung memberitahu bibinya sekarang, wanita tua pasti marah lagi dan menuduhnya berpikir berlebihan. Tapi kalau diam saja, siapa yang tahu apa rencana Ming Lan? Sejak bangun dari tidur panjang, wanita itu banyak berubah. Tindak-tanduknya tidak tertebak lagi.
"Sepertinya, aku harus mengirim orang untuk menangkap dan menginterogasi Mawar."
"Bagaimana kalau kita kirim Fei dan Chun Tao. Bagaimana pun, mereka berdua adalah pelayan kepercayaan kita."
Seperti tadi, Yan Yan menimbang sekejap lagi. Dia benci bila harus bekerja sama dengan manusia rendahan. Tetapi untuk saat ini, tak ada pilihan. Masih ada banyak waktu untuk memberi pelajaran pada Kecubung.
"Baik, kalau begitu." Yan Yan akhirnya setuju lalu menoleh pada Chun Tao dan Fei. "Kalian berdua cepat cari dan tangkap Mawar. Kalau sampai gagal, lebih baik jangan kembali."
Sementara itu, suasana di aula leluhur sangat hening. Ming Lan menulis dengan serius hingga tak terasa setengah buku Nasihat untuk Wanita sudah rampung. Cuaca terasa sangat panas, sampai kepalanya mulai berdenyut.
Dia menatap ke arah cawan kotor berisi air. Rasa dahaga meronta-ronta namun selera hilang ketika melihat kerak dan karat yang menempel pada cawan. Nyonya tua sungguh tak sungkan membalas dendam.
Bisikan penuh tekad membuatnya bisa terus melanjutkan kegiatan menulis.
"Sabarlah, sebentar lagi Mawar datang kemari."