Udara mendadak dingin. Keheningan menyelimuti ruangan nyonya tua, sampai Ming Lan mengira dia sedang sendirian.
Ka--kau!" Telunjuk sang mertua menunjuk ke arahnya. Ekspresi wajah itu tak perlu diceritakan lagi bagaimana bentuknya. Keriput di bawah mata dan kening nampak semakin dalam. "Dasar menantu durhaka! Kau pikir keluarga Chu peduli dengan mas kawinmu yang tak seberapa, hah?"
Kedua bola mata Ming Lan refleks memutar. Kalau memang tak peduli, kenapa harus dipertahankan? Gengsi orang tua memang selalu lebih besar dari kemampuan mereka.
"Maaf, Ibu." Dia berkata dengan sikap tenang, seperti menantu yang penurut. "Saya hanya merasa berdosa selama ini sudah jadi menantu tak berbakti. Gara-gara kesehatan yang buruk, terpaksa merepotkan anda untuk mengelola toko tersebut."
Alasannya yang rendah hati membuat raut muka nyonya tua sedikit membaik. Wanita yang sudah berumur setengah abad itu memperbaiki kalung mutiara, dan berbicara penuh martabat.
"Soal itu, kau tak perlu khawatir. Sebagai mertua yang baik, sudah sepatutnya aku berbagi beban denganmu. Apa yang paling penting bagi wanita adalah merawat tubuh agar keharmonisan dalam rumah tangga tetap terjaga."
Keharmonisan apanya?
Wanita licik yang tersenyum lebar ini bahkan tak sabar menjejalkan selir ke kediaman putranya saat umur pernikahan mereka masih tiga bulan, lalu keharmonisan apa lagi yang diharapkan?
Sejak zaman dulu, sudah jadi hukum alam bahwa cinta ingin selalu memiliki. Wanita hanya ikhlas berbagi kasih sayang jika memang tak peduli lagi dengan suaminya.
Dia yang dulu sangat mencintai perdana menteri, tetapi tanpa ragu, wanita yang tersenyum ini mengundang Yan Yan dan juga Kecubung ke dalam kediaman serta seorang selir lagi sudah dipukuli sampai mati karena ketahuan mencuri.
Jiwa yang naif dipaksa bersaing dengan tiga wanita yang lebih muda, bagaimana mungkin tidak depresi?
"Menantu berterima kasih atas kebaikan ibu." Ming Lan pura-pura dilema. "Akan tetapi, jika orang luar mendengar bahwa nyonya muda keluarga Chu tak bisa mengurus apapun, kemana lagi wajah menantu mau ditaruh? Jangan-jangan, mereka juga akan menertawakan xiangye karena tidak bisa mendidik istri sendiri."
"Tidak mungkin. Chu Yang selalu punya reputasi yang baik. Tak mungkin ada yang berani bergosip."
Berlagak seperti bangsawan tulen, nyonya tua menghirup teh dari cangkir porselen yang dikenali Ming Lan sebagai salah satu hadiah dalam mas kawinnya. Set cangkir yang nampak polos ini sebenarnya sangat berharga. Kaisar terdahulu memberikannya sebagai hadiah pada keluarga almarhum ibunya, keluarga Xie.
Saat ibunya menikah ke kediaman keluarga Hua, nyonya tua di keluarga Xie memberikan benda ini sebagai harta sesan untuk putri tunggal mereka.
Waktu dia menikah ke kediaman keluarga Chu, ibu tirinya yang berasal dari kalangan pejabat rendahan, mengira benda ini tak bernilai, lalu memasukkannya jadi bagian harta sesan untuknya.
"Lagi pula, keluarga Hua kalian adalah keluarga bangsawan tinggi (guo), mana mungkin ada yang berani menggosipkanmu?"
Bukan main! Nyonya tua kembali mengolok situasi keluarganya. Di ibu kota, siapa yang tak menggunjing keluarga Hua?
Putra pertama yang diharapkan jadi pewaris, sibuk di rumah b****l sedangkan guo (duke) yang sekarang menghabiskan waktu di meja judi. Hampir setiap hari ada saja surat hutang yang mampir ke kediaman keluarga Hua.
Kalau bukan karena segan pada keluarga Xie, mungkin saja nyonya tua sudah memaksa perdana menteri untuk menceraikannya. Punya besan yang penuh skandal, memang sangat memalukan.
"Ibu terlalu menyanjung. Mau keluarga Hua atau pun Xie, saat ini keluarga Chu adalah tempat saya bernaung. Menantu tak ingin ada kritik sedikit pun terhadap xiangye. Bisa saja itu menghambat karir beliau. Anda tentu tak menginginkan hal ini, kan?"
"Baam!"
Hilang kesabaran, nyonya tua memukul meja. "Kenapa kau susah sekali dikasih tahu? Sejak kemarin, selalu membawa-bawa nama Fei Yang untuk menekanku."
Selir Yan yang sejak tadi menikmati camilan sambil menonton pertunjukan gratis, berlagak panik. Dia pura-pura mengusap kening nyonya tua penuh kekhawatiran.
"Bibi, tolong jangan terbawa emosi. Kesehatan anda yang paling penting. Kalau xiangye tahu anda begini, beliau pasti akan khawatir."
Nyonya tua bersandar lemah ke kursi. Tubuhnya dibuat seringkih mungkin, seperti mau mati. "Yan'er, apa lagi yang kuharapkan? Langit sedang menghukum keluarga Chu. Kalau tidak, kenapa dapat menantu seperti ini?"
"Tidak mungkin, Bibi. Keluarga Chu kita selalu berbakti dan berbuat baik. Hukuman apa yang bisa diberikan langit?"
Mata Yan Yan tampak berkaca-kaca. Wajahnya menatap Ming Lan dengan sedih. "Furen, anda tak boleh begini. Bibi jadi sedih karena anda selalu membantah."
"Yan yiniang, telingamu yang mana mendengarku membantah? Aku hanya mau berbakti pada ibu, tak punya maksud lain."
"Kalau begitu terima saja niat baik, Bibi. Tak usah membawa nama xiangye untuk menekan beliau. Sebagai ibu kandung, sudah pasti Bibi menginginkan yang terbaik untuk putranya."
Wah, betapa hebat pasangan Bibi dan keponakan memutar-balikkan fakta. Dua cecunguk ini bahkan bisa mencampur hitam dan putih sesuka hati, tanpa berkedip.
Baiklah, dia akan meladeni permainan ini.
"Kurasa pun begitu. Tak mungkin ibu mau putranya jadi bahan gunjingan hanya karena harta sesanku yang tidak seberapa."
Pasangan Bibi dan keponakan saling tatap, mencoba memahami makna sebenarnya dari kalimat yang terdengar ambigu ini.
Saat mereka masih bertanya-tanya dalam hati, Ming Lan melanjutkan, "sebab itu, aku jadi curiga. Jangan-jangan ada pihak yang membujuk ibu agar tetap mengerjakan hal merepotkan seperti itu untuk kepentingan pribadi."
Tampak serius berpikir, Ming Lan berjalan mengitari ruangan sambil bicara penuh keyakinan.
"Coba kita pikirkan.Kesehatan ibu sudah memburuk, bahkan bicara dua tiga kalimat saja, beliau langsung kelelahan. Tetapi orang licik ini tetap membujuk ibu untuk mengelola keuangan keluarga, termasuk toko kecil yang untungnya tidak seberapa. Kalau bukan bermaksud membuat ibu sakit parah, apa lagi maksudnya?"
Semua orang saling pandang, penuh kebingungan. Selir Yan yang dikenal paling pintar bersandiwara pun, tidak berkutik.
Ketika Ming Lan mulai sakit-sakitan karena depresi, dia langsung bersiasat agar dirinya dan nyonya tua yang mengelola keuangan keluarga, beserta semua bisnis. Dengan begitu, pasangan bibi dan keponakan keluarga Yan, bisa menikmati keuntungan pribadi.
Tetapi sekarang, tak mungkin lagi nyonya tua berkeras sehat saat dirinya pura-pura sekarat. Selain itu, jika Yan Yan mengakui bahwa dia yang membujuk, bagaimana penilaian Fei Yang terhadapnya kelak? Selama ini, perdana menteri selalu memandangnya sebagai sosok lembut dan pengertian.
Saat keduanya dilanda dilema, Kecubung yang sejak tadi berdiri sebagai latar belakang, maju dan bersimpuh di depan Ming Lan.
"Maafkan hamba, Furen." Sembari mengusap wajahnya dengan sapu tangan bersulam dedaunan, dia bicara begitu lirih. "Hamba yang sudah membujuk nyonya tua agar tetap mengelola keuangan karena khawatir akan kesehatan anda. Siapa sangka, gagasan saya malah membuat kesehatan beliau memburuk. Hamba siap menerima hukuman."
Ming Lan memandangi perempuan yang pernah jadi pelayannya acuh tak acuh. Dulu dia menyelamatkan Kecubung dari perdagangan manusia. Mendidiknya dengan berbagai keahlian, termasuk baca-tulis. Sekarang, orang yang sama memilih untuk berdiri di pihak lawan.
Mendadak sebuah pengumuman terdengar dari penjaga pintu.
"Tuan perdana menteri, datang!"