Bu Farida benar tentang satu hal: selingkuhan tidak pernah sabar.
Sembilan bulan menunggu dalam bayang-bayang membuat Talia Maheswari retak di sela-sela kemenangan korporatnya. Ia sudah memetakan hidup barunya — kursi istri CEO, pernikahan megah, dan nama Maheswari di pintu keluarga Suryawan — dan peta itu membutuhkan satu hal yang tidak kunjung datang: perceraian.
'Dia masih diam saja?' tanyanya pada Erlangga, untuk kesekian kalinya, di apartemen Kuningan itu.
'Dia perempuan paling membosankan di dunia, itu masalahnya.' Erlangga menuang minuman. 'Kubanting dingin, dia makin perhatian. Kutinggalkan, dia makin sabar. Seperti meninju bantal.'
'Maka banting lebih keras.'
'Dan merusak citraku di depan dewan yayasan? Ayahku mengikat segalanya pada penilaian mereka, Tal. Aku harus terlihat sebagai suami yang berusaha.'
Talia menatapnya dengan sesuatu yang menyala di matanya. 'Atau aku yang menyelesaikannya.'
'Jangan.' Erlangga menunjuknya dengan gelas. 'Jangan dekati dia. Kamu terlalu mudah terbaca.'
Talia tersenyum — senyum orang yang sudah memutuskan sebelum diberi nasihat.
Dua hari kemudian, ia mendatangi Hana.
Bukan di kantor — Talia lebih cerdas dari itu. Ia 'kebetulan' satu lift dengan Hana di pusat perbelanjaan, dan 'kebetulan' mengajaknya minum kopi, dan 'kebetulan' memilih meja sudut yang sepi. Hana menerima semua kebetulan itu dengan wajah hangat seorang istri yang tidak tahu apa-apa — dan dengan ponsel di tasnya yang merekam, diletakkan menghadap atas seperti orang menaruh ponsel sembarangan.
'Saya selalu kagum pada Ibu,' buka Talia, menyesap kopinya. 'Tegar. Pernikahan Ibu kan... tidak mudah. Semua orang di kantor membicarakannya.'
'Semua orang selalu membicarakan yang tidak mereka mengerti,' jawab Hana lembut.
'Dan Ibu tidak pernah bertanya?' Talia mencondongkan badan, matanya berbinar dengan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan: kemenangan yang ingin dipamerkan. 'Tentang malam-malam beliau tidak pulang? Tentang di mana beliau sebenarnya?'
Hana menatapnya — dan membiarkan keheningan bekerja. Orang yang ingin memamerkan kemenangan tidak tahan keheningan. Bu Farida mengajarinya itu.
Dan Talia, seperti diprediksi, tidak tahan.
'Saya yang menemani beliau, Bu.' Suaranya turun, tetapi nadanya naik. 'Sudah hampir dua tahun. Apartemen di Kuningan — beliau bilang Ibu tidak pernah bertanya, jadi saya pikir Ibu tidak keberatan. Pernikahan tanpa cinta itu hanya kontrak, kan? Dan kontrak bisa dinegosiasikan ulang. Apalagi sekarang, dengan wasiat itu... kita semua tahu pernikahan Ibu sedang ditunggu kedaluwarsanya.'
Hana memegang cangkirnya dengan dua tangan, seperti orang yang perlu berpegang pada sesuatu. Akting yang sempurna.
'Dua tahun,' ulangnya pelan.
'Dua tahun,' kata Talia, mengira itu kehancuran — padahal itu konfirmasi. 'Jadi saran saya, dengan segala hormat: jangan tunggu sampai Ibu yang terluka. Mundur dengan harga diri lebih baik daripada menunggu digeser. Beliau sudah memilih, Bu. Sudah lama.'
Hana menunduk. Menelan. Lalu mengangkat wajah dengan mata yang ia biarkan berkaca-kaca.
'Terima kasih sudah jujur, Mbak Talia,' katanya lirih. 'Setidaknya ada satu orang yang mau jujur ke saya.'
Talia pulang dengan dada ringan, merasa telah menggeser pion terakhir. Ia bahkan melaporkannya kepada Erlangga dengan bangga: 'Dia akan menyerah. Aku melihatnya di matanya.'
Yang tidak mereka berdua ketahui: di tas Hana, tersimpan satu jam rekaman suara — suara direktur pemasaran Grup Suryawan yang mengakui perselingkuhan dua tahun, apartemen di Kuningan, dan strategi menunggu kedaluwarsa sebuah pernikahan, semuanya dengan suaranya sendiri, di tempat umum, tanpa satu pun paksaan.
Bu Farida menangis tertawa saat mendengarnya. 'Nak,' katanya, menyeka sudut matanya, 'kalau pengadilan bisa memberi piala, kamu dapat emas.'