Selasa Farida tidak membawa kopi. Ia membawa notulen rapat klarifikasi yang Hana tidak datangi. Kertas itu kelihatan administratif, dan justru karena administratif ia lapar. Di baris kehadiran: nama ketua yayasan, lalu strip. Di bawahnya, kalimat yang belum disepakati tapi sudah diketik seolah hampir jadi: *Dewan mencatat ketidakhadiran sebagai sinyal perlunya percepatan, mengingat operasional.*
'Sama seperti notulen jarak dulu,' kata Farida, kacamata turun. 'Tidak hadir mereka tempel ke kata percepatan. Percepatan Heru. Bukan percepatan kita. Makan dulu. Koreksi sebelum makan adalah umpat. Lalu kertas: ketidakhadiran tidak mengubah amanat; tinjauan tertulis sudah masuk; kehadiran bukan syarat sah; usul percepatan karena strip nama tidak disepakati, maka tidak boleh jadi catatan dewan. Pintu depan. Kamu tidak masuk. Masuk hari ini foto istri yang datang terlambat, lalu orang bilang Ibu mengalah. Terlambat altar. Altar tidak kita bangun.'
Hana makan nasi kotak, hambar, habis. Piring kosong syarat kertas. Ia membaca notulen dua kali, seperti wasiat. Ada yang sah: rapat terjadi, kuasa hukum tercatat menerima surat. Ada yang lapar: strip namanya dijadikan cuaca. Ada yang menyamar: percepatan yang kemarin gagal di kalender, kini mencoba lahir dari kursi kosong. Kursi kosong bukan angguk. Angguk butuh mahkota. Mahkota tidak ia kasih.
Di tulang, keinginan datang besok hampir menang: duduk di seberang Heru, menunjuk kalimat itu, membaca papan sampai strip namanya tidak dijadikan senjata. Ingin itu perang. Perang masuk cerita koridor yang kemarin sudah lapar wajah. Ia tidak datang. Mengawasi tanpa mencengkeram hari ini artinya: koreksi tertulis, bukan tubuh yang menyusul undangan yang sudah ditolak.
Ruang kecil yayasan pagi itu terlalu terang untuk strip nama. Lampu tidak peduli kursi kosong. Lampu hanya menyala. Farida tidak menutup tirai. Ia biarkan Hana melihat gedung seberang, orang masuk, mesin jalan, supaya keinginan menyusul bertemu angka. Angka: mesin tidak mati karena ketua tidak duduk di meja dewan kemarin. Yang mati jika ia menyusul adalah jarak yang jujur. Jarak yang jujur belum damai. Ia minum air. Dada tidak.
'Kita tidak jelaskan perasaan,' katanya setelah piring. 'Kita catat fakta. Tidak hadir bukan melepaskan. Bukan angguk. Bukan lelah yang dijadikan alasan dewan. Tiga itu. Aku tidak jadi CEO. Aku tidak masuk. Kering.'
Farida menulis. Hana mencoret 'menyesatkan' dan 'seolah-olah' di draf. Hangat terdengar dakwaan. Dakwaan sidang. Sidang sudah cukup. Kering yang tersisa: ketidakhadiran tidak mengubah amanat; usul percepatan dari strip nama tidak disepakati; kalender tetap usulan yang ditinjau; operasional tiga paraf tidak dihalangi. Titik. Siang, pintu depan. Tanda terima, bukan pujian.
Seorang staf hampir bertanya apakah Ibu akan 'konfirmasi ke lantai bahwa notulen salah'. 'Tidak. Konfirmasi ke lantai adalah podium. Podium merampas. Kalimat dari kertas. Mesin dari dewan. Aku tidak jadi wajah yang menenangkan strip.' Staf angguk, kaku, jujur.
Ibu Lestari: *Saya baca notulen. Saya tidak mau restoran. Saya tidak pecah. Tangan saya wasiat. Strip bukan percepatan.* Hana: *Koreksi. Tertutup.* Pos. Gunawan: *Tidak hadir ditulis begitu. Cuaca. Saya duduk.* Pos yang capek, jujur, masih duduk, belum pindah papan. Dimas ke Farida: *Tidak datang, lalu koreksi — kelihatan perang.* Farida tidak balas. Sinta: *Aku makan. Jangan ke gedung karena satu strip.* Hana: *Makan. Tidak.* Pos. Raka tembusan, menghormati, tidak menyinggung kursi kosong. Diamnya bersih. Pak Heru diam. Diam komisaris setelah notulen dikoreksi lebih mahal daripada undangan kecil. Erlangga sepi. Talia sepi. Sepi bukan damai.
Sore Hana ke jendela. Gedung seberang menyala. Orang masuk. Mesin jalan tanpa wajahnya di rapat kemarin, tanpa satu mahkota, tanpa percepatan yang sah dari strip. Itu angka. Angka tidak menidurkan malu. Malu yang tidak masuk sidang: namanya di baris hadir, lalu kosong, lalu orang lain menulis artinya. Ia menuang air, berdiri sampai keinginan menyusul ke sekretariat turun. Turun bukan kalah. Turun, sore ini, mengawasi.
Di map, pena yang sama: *jangan menyusul undangan. jangan baca strip sebagai kalah. jangan tukar malu dengan wajah.* Tiga baris. Pagar. Pagar agar Selasa tidak berubah jadi tubuh yang datang terlambat. Ia tutup map. Wajah di kaca jendela bukan wajah yang basah di teras. Itu cukup. Itu belum damai. Dua hal itu harus duduk di kursi yang sama.
Farida merapikan. 'Mereka akan tulis kamu tidak peduli notulen. Tidak peduli lebih aman daripada datang memperbaiki dengan muka. Muka butuh foto. Kertas cukup jejak. Pulang. Jangan susun bantahan di teras. Rumah bukan sekretariat. Rumah masih libur. Aku belum pensiun. Kamu belum selesai. Selesai jebakan.'
Pulang, rantai, kunci, teras. Debu di raja hitam. Teh pahit. Televisi mati. Ia tidak membuka portal. Ia tidak mencari apakah strip namanya sudah jadi berita. Mencari adalah kejar. Kejar altar. Ia duduk di kursi Pak Surya, tidak main. Membaca papan tanpa menggerakkan bidak. Notulen lapar adalah papan yang dipasang orang lain setelah ia menolak duduk. Menolak duduk bukan kalah. Menolak duduk, malam ini, jarak yang jujur. Jarak yang jujur belum damai.
Rumah masih kantor libur: tidak ada rapat di ruang tengah, tidak ada undangan di meja teras, hanya debu dan teh yang sudah dingin. Ia tidak memanaskan ulang. Memanaskan merayakan. Ia tidak membawa salinan notulen ke pangkuan. Membawa adalah menyusul. Menyusul tidak duduk di kursi orang mati.
'Ayah,' katanya pelan, bukan pidato. 'Mereka tulis kursi kosongku sebagai percepatan. Aku koreksi. Aku tidak datang. Aku tidak jadi CEO. Aku tidak wakil. Aku tidak kejar anakmu. Duka tidak ikut vonis. Kertas tidak ikut duka. Tubuh tidak ikut meja mereka. Strip tidak ikut jadi mahkota. Aku coba tidur. Coba kebijakan. Kebijakan menahan menyusul. Menyusul tidak masuk ranjang. Ranjang hanya lebar. Lebar, malam ini, jujur. Jujur tidak hangat. Hangat untuk hari yang lain.'
Pukul tiga ia bangun, minum air di wastafel, berdiri di ambang kamar yang terlalu lebar. Strip nama satu menit di kepala, keinginan datang besok satu menit, lalu papan. Papan ada. Ada cukup. Gagal tidur, tercatat, bukan dosa. Dosa adalah menyusul, atau angguk karena malu, atau rilis bantahan. Tiga hal itu ia tahan. Rumah menahannya. Kunci. Rantai. Koreksi hidup. Hadir tidak. Dua itu cukup sampai pagi. Pagi menagih apakah dewan mengedarkan ulang, atau menulis cuaca yang lain.