Rabu tangan Hana tidak gemetar di atas pena. Yang gemetar adalah napas ketika Farida meletakkan kliping yang belum naik: draf judul di grup redaksi, tertahan, belum terbit. *Ketua Yayasan Dikabarkan Lelah, Proses Seleksi Melambat.* Lelah adalah kata yang benar. Benar yang dikutip menjadi cuaca. Cuaca menjadi pecah. Pecah menjadi mahkota Heru.
'Belum tayang,' kata Farida. 'Ada yang menahan. Bukan kita. Jangan kejar siapa. Mengejar menjadikannya pahlawan atau pengkhianat. Dua judul. Kamu makan. Jangan klinik di kop. Jangan dokter yang suka kamera. Kalau tulang minta, dokter biasa, tanpa yayasan. Hari ini belum. Hari ini kerja yang sah kelihatan, supaya lelah tidak jadi satu-satunya napas. Paraf gaji, sewa. Pulang kalau tangan bilang. Aku tahan telepon. Heru akan pakai kata lelah meski judul ini mati. Kata yang mati di portal masih hidup di koridor.'
Hana makan, hambar, hampir tidak turun, habis karena perintah. Piring kosong syarat paraf. Di dada, malu yang tidak masuk sidang: orang sudah membaca tulangnya dari jauh, dan tulang yang dibaca orang adalah papan. Ia tidak merilis bantahan *saya tidak lelah*. Bantahan itu merancang di telinga yang sudah percaya judul. Ia paraf gaji, sewa, berkas beasiswa yang masih ditahan sebagai kerja, bukan museum ayah. Kerja yang sah harus kelihatan di hari kata lelah beredar, supaya lelah tidak menjadi alasan Heru untuk jarak.
Lulusan hukum itu merapikan di kepala: draf judul bukan terbitan; terbitan bukan vonis; vonis sudah; lelah bukan alasan turun dari amanat. Empat kotak. Empat kotak kelihatan rapi. Di tulang, yang tidak rapi justru keinginan masuk lift dengan muka rapi, supaya orang lihat ketua tidak rubuh. Muka rapi adalah foto. Foto sudah cukup merusak Minggu-Minggu yang lalu. Rabu ini tanpa foto. Tanpa dokter. Tanpa kolom. Hanya paraf, dan perintah pulang yang lebih jujur daripada kalimat kuat.
Farida berdiri di samping, tidak memuji paraf yang rapi. Pujian mahkota. 'Bagus kamu tidak tulis aku kuat. Kuat yang dipamerkan kolom. Kolom lapar janda yang kelihatan utuh atau janda yang kelihatan rubuh. Dua lapar. Kamu pilih kertas. Kertas tidak fotogenik. Itu kelebihannya.'
Siang Ibu Lestari sepuluh menit tertutup. 'Saya dengar kata lelah. Saya tidak mau restoran. Saya tidak pecah. Tangan saya wasiat. Ibu jaga rumah. Jangan masuk lift supaya orang lihat Ibu tidak lelah. Itu foto. Foto sudah cukup. Gunawan duduk. Saya tidak sapu. Ibu juga jangan. Dua jangan. Tertutup.' Hana menunggu titik. 'Saya jaga rumah. Kerja tetap. Bukan hiasan. Bukan CEO. Tertutup.' Lestari mengangguk, kering. Engsel.
Gunawan tidak datang. Pesan ke Farida: *Saya duduk. Jangan sampai yayasan kelihatan menahan karena satu orang capek.* Farida tidak teruskan sampai Hana makan lagi, lalu kering: duduk, belum pecah, cuaca hidup. Dimas: *Lelah = luwes. Kasih tanggal, selesai.* Farida tidak balas. Sinta: *Aku makan. Jangan dokter di koran. Jangan aku jadi pos.* Hana: *Makan. Tidak judul. Tidak pos.* Pos. Raka menghormati dari jauh, tidak menyinggung tulang. Diamnya bersih. Erlangga sepi. Talia sepi. Heru diam. Diam yang menunggu judul, meski judul belum tayang, lebih mahal daripada surat percepatan.
Sore Hana ke jendela sebentar, bukan penuh hari. Gedung seberang. Orang masuk. Mesin jalan. Lelahnya tidak kelihatan dari seberang. Itu mengawasi. Itu belum damai. Ia menuang air, berdiri sampai keinginan menelepon redaksi — *jangan naik* — turun. Menelpon redaksi adalah kejar. Kejar altar. Farida melihat, tidak pujian. 'Pulang. Setengah hari. Bukan bukti. Bukti lapar. Rumah. Duduk. Papan boleh, perang tidak. Kata lelah biar lapar di koridor. Koridor tidak dikasih wajah.'
Pulang, rantai, kunci. Rumah di Rabu siang masih kantor libur: jam dinding jalan, dapur sepi, teras menunggu orang yang tidak akan menggeser bidak. Ia tidur satu jam, berhasil sebagian, bangun dengan muka yang bukan basah sidang — hanya capek. Capek jujur. Capek yang tidak boleh jadi judul. Ia ke teras, tidak main, debu, teh. Teh ia biarkan dingin. Minum terasa kerja. Kerja Rabu ini adalah tidak memberi kolom kalimat.
Ia berjalan inventaris: sofa terlalu besar, map, pena, pagar yang sudah bertambah *jangan judul lelah*. Dapur piring untuk satu. Teras papan. Inventaris jujur. Jujur tidak hangat. Ia tidak mengubah susunan. Mengubah Rabu ini berkabung yang spektakel. Spektakel kolom. Kolom tidak ia kasih. Ia masak nasi terlalu banyak, makan di ujung, sisa di panci. Sisa besok. Tidak beli roti kesukaan orang yang jauh. Jauh bukan alasan akting.
Sore Farida pesan: *Judul belum tayang. Syarat hidup. Kalender belum angguk. Kamu duduk. Jangan Google kota lain.* Hana: *Duduk. Tidak.* Pos. Ia tidak mencari apakah Erlangga juga dengar kata lelah. Mencari adalah menyamakan duka dengan kabar jarak. Dua papan. Ia pilih yang rumah. Teh pahit. Televisi mati. Ia tidak membuka portal. Membuka adalah mengisi capek dengan mulut orang lain. Ranjang lebar. Ujung jujur. Lingkaran debu di nakas ia biarkan. Menyekalah merayakan. Rabu ini notulennya: paraf, pulang, tidak judul, tidak kejar.
'Ayah, mereka hampir tulis aku lelah. Aku lelah. Aku tidak kasih itu ke kolom. Aku tidak jadi CEO. Aku tidak masuk. Aku tidak klinik di judul. Aku tidak susun kalender supaya orang diam. Diam yang dibeli dengan mahkota bukan damai. Aku coba tidur. Coba kebijakan. Kebijakan menahan judul yang benar. Benar yang dikutip jadi senjata. Senjata tidak masuk ranjang. Ranjang hanya lebar. Lebar, malam ini, jujur.'
Pukul tiga ia bangun, minum air di wastafel. Draf judul satu menit di kepala, paraf yang sempat ia takutkan gemetar satu menit, lalu papan. Papan ada. Ada cukup. Gagal tidur, tercatat, bukan dosa. Dosa adalah bantahan di portal, atau dokter kamera, atau tanggal nama karena capek. Tiga hal itu ia tahan. Rumah menahannya. Kunci. Rantai. Lelah ada. Judul tidak. Dua itu cukup sampai pagi. Pagi menagih kerja tanpa foto tulang.