Minggu Sinta datang tanpa Dimas, tanpa jas, dengan nasi kotak yang bukan strategi. Hana terima di teras, bukan ruang tengah. Ruang tengah masih panggung kardus, meski kardusnya sudah tidak ada: udara masih ingat orang yang menghitung barang. Teras punya debu dan raja hitam. Mereka makan di ujung, bukan tengah. Tengah altar. Sinta tidak foto. Tidak tanya saham. Tidak tanya kota lain. Tidak tanya gemetar.
Hana menuang teh, pahit, dua gelas. Gula di meja ia tidak tawarkan. Gula merayakan. Mereka tidak merayakan. Sinta meletakkan kotak nasi seperti orang yang takut salah ukur: terlalu dekat ke papan terasa main, terlalu jauh ke pintu terasa tamu. Ujung teras cukup. Cukup bukan damai. Cukup, Minggu ini, agar dua orang bisa makan tanpa menjadi pos.
'Aku makan,' kata Sinta, capek, jujur. 'Aku tidak jadi pos. Aku juga tidak minta kamu jadi ibu sidang. Erlangga jauh. Dimas lapar. Aku di tengah. Tengah ini nasi. Kalau kamu gemetar, jangan ke lift. Farida benar. Aku dengar dari bukan kolom.'
'Farida tidak rilis,' kata Hana. 'Kamu makan. Teras bukan wasiat. Papan tidak kita mainkan. Main museum. Museum dulu. Terima kasih tanpa Dimas. Terima kasih tanpa foto.'
Mereka duduk sampai teh kedua. Tidak damai simetris. Damai yang ada hanya dua orang makan tanpa agenda. Sinta tidak menyentuh papan. Hana tidak menggerakkan bidak. Debu tetap. Debu jujur. Sinta bilang pelan, bukan sidang: 'Aku kangen ayah di sini, bukan di kolom. Kolom pakai tertawanya. Aku tidak. Terima kasih tidak turunkan papan.' Hana mengangguk. Tidak pidato. Pidato pesta. Pesta tidak di teras Minggu.
Sinta pulang sebelum sore. Engsel. Hana tidak merapikan kursi tamu segera. Merapikan terasa pesta. Ia biarkan hangat sampai dingin. Lalu ia makan sisa, hambar, piring kosong syarat malam. Teh. Ia tidak membuka portal. Ia tidak mencari foto kota lain. Ia tidak menelepon siapa pun untuk melaporkan bahwa teras sudah diduduki tanpa sidang. Rumah menahannya, diduduki dua orang sebentar, lalu satu lagi. Satu lagi jujur. Jujur tidak simetris.
Malam Minggu ia duduk di kursi Pak Surya, tidak main. Debu di raja. 'Ayah, anakmu perempuan makan di sini. Tidak pos. Tidak foto. Aku tidak turunkan papan. Papan masih debu. Debu jujur. Besok koridor. Malam ini sisa nasi. Sisa itu cukup. Cukup bukan selesai.' Ranjang lebar. Ujung jujur. Ia tidur lebih awal dari Kamis, berhasil sebagian. Sebagian tercatat. Dosa adalah raya. Raya tidak ia kasih.
Senin Farida tidak membawa kopi. Ia membawa kertas koridor yang tidak menunggu duka: Heru menulis lagi, singkat, minta *percepatan kalender syarat, mengingat operasional*. Bukan RUPS. Bukan cap. Kalender. Kalender adalah langkah ketiga yang sopan. Sopan senjata, versi tanggal.
'Faksi masih. Duka kamu tidak menahan kertas mereka. Itu fakta. Kamu makan. Tangan. Kalau gemetar, aku yang paraf kuasa untuk yang administratif, bukan untuk mahkota. Kamu tinjau kalender, jangan susun. Jangan raya Sinta di notulen. Jangan masuk gedung. Dua papan: rumah kemarin, koridor hari ini. Keduanya tidak lulus bareng. Jangan samakan. Jangan buang duka karena Heru lapar. Jangan buang kertas karena duka basah. Dua kerja. Satu orang. Tulang. Jujur.'
Hana makan, hambar, habis. Tangan pagi ini cukup. Ia baca surat Heru dua kali, seperti wasiat: lapar nama yang menyamar jadi tanggal. Kalender proses sah. Kalender RUPS mahkota. Dua itu jangan samakan. Di tulang, keinginan menunda semua kertas karena teras kemarin sempat basah hampir menang. Menunda itu perang yang menyamar jadi duka. Duka sudah duduk Selasa. Kertas Senin tidak boleh diusir karena duka. Dua kerja. Satu orang.
'Balas: kalender proses, bukan tanggal RUPS, bukan satu nama. Tiga paraf tetap. Aku tidak jadi CEO. Aku tidak masuk. Aku tidak raya. Duka tidak masuk surat. Surat tidak masuk teras. Dua itu. Jangan sebut Sinta. Jangan sebut gemetar. Jangan sebut kota lain.'
Farida menulis. Hana tidak ke gedung. Siang, pintu depan. Tanda terima, bukan pujian. Seorang staf hampir senyum karena Ibu kembali penuh hari. Hana tidak senyum balik. Senyum pesta. Pesta merampas pulang Kamis. Kerja: tinjau, jangan susun. Titik. Lestari: *Saya tidak pecah. Tangan saya wasiat.* Gunawan: *Saya duduk.* Dimas: *Kalender = luwes.* Farida tidak balas. Sinta: *Aku makan. Terima kasih teras.* Hana: *Makan.* Pos. Erlangga sepi. Talia sepi. Heru diam menunggu tanggal. Sepi bukan damai.
Sore jendela. Orang masuk. Mesin jalan. Faksi bergerak. Rumah kemarin sempat basah. Dua papan. Kunci tidak mengunci keduanya sekaligus. Itu fakta yang lebih jujur daripada sidang, lebih jujur daripada judul menang, lebih jujur daripada nasi Minggu. Ia minum air. Dada tidak. Farida merapikan map. 'Pulang. Jangan raya kalender yang belum. Jangan raya teras yang sudah. Dua raya. Dua lapar. Kamu makan malam. Tidur. Aku belum pensiun.'
Pulang, rantai, kunci, teras, papan. Debu. Teh. 'Ayah, Sinta makan di sini. Tidak pos. Heru minta kalender. Aku tidak paraf mahkota. Aku tidak kejar anakmu. Aku tidak ke makam. Aku tidak jadi CEO. Duka tidak ikut vonis, dan kertas tidak ikut duka. Dua itu belum lulus bareng. Aku coba tidur. Coba kebijakan. Kebijakan menahan samakan. Samakan tidak masuk ranjang. Ranjang hanya lebar. Lebar, malam ini, jujur. Besok koridor. Malam ini debu. Belum. Bukan kalah. Belum. Bukan selesai. Belum.'
Pukul tiga, air. Kalender Heru satu menit, teras Sinta satu menit, lalu papan. Papan masih ada. Ada cukup untuk tidak menulis judul ratu. Ratu tidak ia kasih. Meja yang tidak difoto: piring, gelas, ranjang lebar, janji tidak memburu yang masih utuh meski kunci di tangan, meski duka sudah duduk, meski faksi masih menulis tanggal, meski kota lain jauh dan rumah masih libur. Utuh. Bukan selesai. Utuh cukup sampai pagi. Pagi menagih dua papan. Dua, dengan tulang yang kelihatan, dengan ayah mertua yang tidak menggerakkan bidak. Bidak di tangan yang capek. Capek tidak ke kolom. Kunci. Rantai. Dua itu cukup.