Portal pagi tidak menulis cap. Portal menulis yang lebih licin: *Dewan Tahan Darurat, Yayasan Menang.* Menang adalah kata yang salah napas. Hana tidak menang. Orang di dalam menahan cap. Yayasan mengirim kertas. Mesin masih tanpa CEO. Menang di kolom adalah pesta yang dipasang orang lain ke kepalanya.
Farida sudah menutup layar. 'Jangan hafal. Jangan rilis bantahan "kami tidak menang". Bantahan itu merancang di telinga yang sudah percaya judul. Makan dulu. Koreksi sebelum makan adalah umpat. Ada yang lebih penting dari judul: dewan, karena cap ditahan, terpaksa menulis draf syarat seleksi. Draf. Bukan kalender yang jujur. Bukan nama. Syarat. Itu yang kamu minta sejak shortlist. Kamu jangan susun. Kamu tinjau. Mengawasi tanpa mencengkeram: baca, minta yang kurang, jangan jadi panitia ratu. Jangan senyum. Senyum pesta. Jangan marah karena kata menang. Marah merancang. Menang biar lapar di kolom. Kolom tidak boleh dikasih wajah.'
Hana makan, hambar, habis. Ia membaca draf syarat dua kali, seperti wasiat. Ada yang sah: pengalaman, integritas, kandidat dalam dan luar, bukan keluarga. Ada yang lapar: kalimat 'memperhatikan stabilitas dan kesinambungan' yang bisa dibaca sebagai pintu Raka. Ada yang kosong: tanggal. Tanggal masih coretan di undangan yang belum cap.
Ia mencoret di tepi, untuk dirinya, bukan untuk kolom: *stabilitas ≠ satu wajah. tanggal proses ≠ tanggal RUPS. jangan susun sendirian.* Tiga baris. Pagar. Lalu ia biarkan Farida yang menulis ke dewan. Menulis sendiri ke koridor adalah panitia yang menyamar jadi ratu. 'Kita tidak coret nama di syarat,' kata Hana pelan. 'Tidak ada nama. Bagus. Kita minta tanggal proses, bukan tanggal RUPS. Kita minta "kesinambungan" tidak diartikan satu orang koridor. Kering. Pintu depan. Aku tidak masuk. Aku tidak komentari menang. Menang biar lapar sendiri.'
Farida menulis. Hana tidak ke gedung. Siang, kertas masuk. Tanda terima, bukan pujian. Seorang staf meletakkan kliping judul menang, tangan gemetar. 'Mereka tulis kita menang, Bu.'
'Biarkan,' kata Hana. 'Menang yang dikutip kolom lebih berbahaya daripada kalah yang jujur. Kalah yang jujur masih bisa dikoreksi. Menang butuh foto. Kita tidak kasih foto. Syarat cukup. Syarat tidak fotogenik. Urutan ada: syarat dulu, nama belakangan, kalender yang jujur. Urutan jangan kacau hanya karena kolom sudah menulis menang.'
Raka tembusan, menghormati draf syarat, tidak menempatkan dirinya. Pak Heru tidak menulis. Diam komisaris yang syaratnya mulai tertulis lebih mahal daripada surat percepatan. Ibu Lestari: *Saya baca syarat. Saya tidak mau restoran. Saya tidak pecah. Tangan saya wasiat.* Hana: *Tinjau. Tertutup.* Pos. Gunawan: *Saya duduk. Saya tidak ke portal.* Pos yang capek, jujur. Dimas: *Lihat, proses. Luwes sekarang.* Farida tidak balas. Sinta: *Aku makan. Jangan raya menang.* Hana: *Makan. Tidak raya.* Pos. Erlangga sepi. Talia sepi.
Hana ke jendela. Orang masih masuk. Syarat yang mulai tertulis tidak membuat lampu berubah. Itu angka. Angka lebih jujur daripada judul menang. Ia ingin merapikan draf sampai malam, menulis sendiri yang kurang, menjadi panitia. Ingin itu sah, dan justru karena sah bisa jadi mencengkeram. Ia menuang air, berdiri sampai keinginan itu turun. Turun bukan kalah. Turun, sore ini, mengawasi.
Di map ia menambah satu baris: *jangan raya judul.* Judul menang akan hidup lebih lama dari draf syarat. Itu fakta. Fakta tidak boleh jadi alasan masuk lift untuk 'meluruskan'. Meluruskan perang. Perang masuk kolom.
Ia paraf gaji, sewa, sekali lagi, pelan, supaya tangan ingat kerja yang sah. Kerja yang sah tidak menidurkannya. Kerja yang sah hanya membuat syarat mulai tertulis, dan syarat itu tidak bisa diduduki seperti kursi teras. Kursi teras, malam nanti, lebih jujur. Jujur tidak nyaman.
Seorang staf hampir bilang selamat. Hana geleng, pelan. 'Selamat adalah pesta. Pesta merampas. Kerja: gaji, sewa, syarat ditinjau. Titik.' Staf angguk, kaku, lebih jujur daripada semangat.
Hana paraf yang sah di meja. Hidup yang sah harus kelihatan di hari judul menang, supaya menang tidak menjadi satu-satunya napas. Farida melihat, tidak pujian. Pujian menghangatkan tinjauan menjadi pesta. Hangat untuk rumah. Rumah masih libur. Di kop draf syarat tidak ada nama Hana sebagai panitia. Itu jarak yang jujur. Jarak yang jujur belum damai. Damai belum. Ia minum air. Dada tidak. Ia berdiri sampai lutut kaku, lalu kembali ke kursi. Kerja: tinjau, jangan susun, jangan raya. Tiga itu cukup sampai sore. Cukup bukan selesai.
Farida merapikan map. 'Ini bukan CEO. Ini bukan RUPS. Ini papan yang mulai kebaca. Heru belum kalah. Faksi masih di dalam. Narasi merancang masih di arsip. Kamu jangan samakan syarat dengan damai. Syarat adalah jarak yang jujur. Damai belum. Pulang. Jangan Google menang. Google kejar. Jangan susun draf sampai malam di rumah. Rumah bukan panitia. Rumah masih libur. Kantor daftar.'
Pulang, rantai, kunci, teras, papan. Teh pahit. Televisi mati. Debu. Ia tidak merapikan. Ia tidak mencari judul menang. Mencari adalah kejar. 'Ayah, syarat mulai tertulis. Mereka tulis aku menang. Aku tidak. Aku tidak jadi CEO. Aku tidak masuk. Aku tidak raya. Aku tidak sapu. Aku tidak wawancara. Proses yang jujur belum selesai. Daftar yang lapar belum mati. Aku coba tidur. Coba kebijakan. Kebijakan menahan pesta. Pesta tidak masuk ranjang. Ranjang hanya lebar. Lebar, malam ini, jujur. Jujur tidak hangat. Hangat untuk hari yang lain. Hari yang lain tidak aku namai selesai.'
Pukul tiga ia bangun, minum air di wastafel. Kata menang satu menit di kepala, draf syarat satu menit, lalu papan. Papan masih ada. Ada cukup. Gagal tidur, tercatat, bukan dosa. Dosa adalah raya, atau menyusun syarat sendirian, atau masuk lift. Tiga hal itu ia tahan. Rumah menahannya, diduduki, belum tenang. Belum. Kunci. Kebijakan. Rantai. Syarat mulai. Belum selesai. Belum. Pagi menagih tinjauan lagi, bukan pesta. Bukan kalah. Belum. Dua itu cukup sampai pagi. Pagi jujur. Jujur cukup.