Pembacaan wasiat itu berlangsung empat puluh hari setelah pemakaman, di kantor notaris keluarga, dihadiri oleh orang-orang yang wajahnya sudah berlatih menunggu: Erlangga di kursi utama, dua adiknya, para komisaris senior, dan Hana — yang datang karena notaris secara khusus meminta kehadirannya, sesuatu yang tidak biasa.
Notaris tua itu membaca dengan suara datar yang menjadi lebih berat di setiap lembar. Pembagian biasa untuk adik-adik: rumah, dana, saham minoritas. Lalu tibalah bagian yang ditunggu semua orang: saham pengendali Grup Suryawan, lima puluh satu persen, mahkota kerajaan.
'Untuk putra sulung saya, Erlangga Suryawan,' baca notaris itu, 'saham pengendali Grup Suryawan, sebesar lima puluh satu persen...'
Erlangga menegakkan bahunya. Dan notaris itu melanjutkan:
'...DENGAN SYARAT: bahwa pada saat wasiat ini dijalankan, dan selama dua puluh empat bulan sesudahnya, beliau tetap terikat dalam perkawinan yang sah dengan Istrinya, Hana Suryawan. Apabila perkawinan tersebut berakhir — dengan alasan apa pun, dari pihak mana pun — dalam masa dua puluh empat bulan itu, maka saham pengendali TIDAK beralih kepada beliau, melainkan dialihkan sepenuhnya kepada Yayasan Surya Sejahtera, yang diketuai oleh wali yang saya tunjuk: Ibu Hana Suryawan.'
Ruangan itu meledak dalam keheningan.
Erlangga berdiri perlahan. 'Bacakan lagi bagian itu.'
Notaris itu membacanya lagi. Sama persis. Dua puluh empat bulan. Pernikahan utuh, atau takhta beralih — bukan ke kantong lain, tetapi ke yayasan yang diketuai oleh istrinya sendiri.
Hana duduk mematung. Ia datang ke ruangan itu mengira akan menerima kenang-kenangan kecil dari lelaki yang memanggilnya 'anakku'. Ia pulang dari ruangan itu sebagai perempuan yang — tanpa pernah diminta, tanpa pernah diperingatkan — memegang kunci seluruh kerajaan Suryawan.
Di mobil pulang, Erlangga menyetir dengan rahang terkunci. Hana menatap jalanan. Keduanya tidak bicara sampai rumah, sampai pintu tertutup, sampai Erlangga akhirnya meledak di ruang tengah.
'Ayahku gila.' Ia berbalik menghadap Hana. 'Dia menjadikan pernikahan kita klausul kontrak! Dua tahun! Dua tahun aku harus—' Ia menggigit kata-katanya.
'Harus tetap menjadi suamiku,' lanjut Hana pelan. 'Kata-kata itu tidak berbahaya, Erlangga. Kamu mengucapkannya seperti ancaman.'
'Kamu tahu pernikahan kita seperti apa, Hana.' Erlangga menatapnya — dan di matanya, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Hana melihat istrinya itu benar-benar dilihat: sebagai pihak yang harus dihitung. 'Kita berdua tahu. Dan sekarang aku harus mempertahankannya dua tahun demi perusahaan yang kubangun sepuluh tahun.'
'Yang Ayahmu bangun,' koreksi Hana lembut. 'Kamu mewarisinya. Ada bedanya.'
Erlangga menatapnya tajam — kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Hana duga — lalu mengambil napas, menata wajahnya, dan berubah. Di depan mata Hana, suaminya bertransformasi: bahu turun, rahang mengendur, dan sesuatu yang hangat muncul di wajahnya seperti lampu yang dinyalakan.
'Kamu benar. Maaf.' Ia menggeleng, tersenyum lelah. 'Hari ini berat buat kita berdua. Ayahku baru empat puluh hari, dan kita sudah bertengkar soal warisan. Dia pasti kecewa melihat ini.' Ia mendekat, menyentuh lengan Hana dengan kelembutan yang sudah dua tahun tidak ada. 'Kita jalani saja ya, Han. Berdua. Seperti dulu.'
*Seperti dulu* — kapan itu, tidak jelas.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Erlangga makan malam di rumah empat kali seminggu. Membawakan Hana bunga. Menanyakan harinya dengan perhatian yang rapi dan tepat waktu.
Dan Hana menyambut semuanya dengan senyum seorang istri — sambil di kepalanya, lulusan hukum itu membaca ulang satu kalimat wasiat yang tidak berhenti berdengung:
*'Dengan alasan apa pun, dari pihak mana pun.'*
Ayah mertuanya menulis itu dengan sengaja. Lelaki secerdas Pak Surya tidak menulis klausul selebar itu tanpa tujuan. Klausul itu bukan untuk mengikat Erlangga.
Klausul itu adalah peringatan. Dan Hana bermaksud mencari tahu dari apa.