Senin Farida tidak membawa kopi. Ia membawa bisik, pintu tertutup. 'Tiga. Satu: dewan grup minta kalender CEO. Ada yang lirik RUPS darurat — bukan untuk menunjuk profesional, untuk menunjuk orang Erlangga yang masih di dalam, bahasa stabilitas. Dua: portal kecil, bukan yang kemarin: *Istri Merancang Jebakan Wasiat, Sekretaris Dipecat Jadi Sumber.* Nama sekretaris tidak penuh, cukup untuk lapar. Jangan rilis. Jangan sidang ulang. Tiga: Talia tidak angkat, tapi orang pemasarannya masih di lantai. Lubang. Jangan panggil. Memanggil piala atau altar. Ibu makan. Jangan ke gedung grup. Gedung grup foto merampas.'
Hana makan dulu, hambar, habis. Piring kosong syarat tiga. Ia membaca papan sebelum menjawab, karena tiga berita itu adalah tiga bidak sekaligus: kekosongan CEO, spin jebakan, lubang di lantai pemasaran. Orang yang tergesa-gesa menyerang di langkah ketiga. Ia tidak.
'Tidak rilis. Tidak sidang ulang. Tidak panggil Talia. Tidak ke lift grup. Kalender CEO: profesional, dari dalam atau luar, bukan aku, bukan Dimas, bukan orang yang lapar stabilitas. Farida, surat ke dewan, pintu depan, kering. Kalau RUPS darurat, kita bawa wasiat, bukan umpat. Hari ini tidak. Hari ini kertas. Jangan Google nama sekretaris. Google sidang.'
Farida mengangguk, kacamata, tua. 'Kamu benar tidak masuk. Masuk hari ini aula. Aku tangan di surat. Anggota dewan yayasan sudah takut restoran dan takut kosong. Kamu kasih jadwal, bukan mahkota. Pulang sore. Tulang. Klinik dan RUPS jangan jadi satu judul. Senyum orang dalam biar lapar di darurat. Darurat biar lapar sendiri. Hangat untuk rumah. Rumah masih libur. Kantor daftar. Jangan telepon Erlangga soal orangnya. Telepon mediasi. Mediasi aula.'
Hana menatap jendela. Gedung seberang menyala. Di kepalanya, klausul wasiat dan RUPS darurat duduk di papan yang sama. RUPS darurat sah jika syaratnya terpenuhi. Syarat yang dilirik orang dalam bukan syarat wasiat — syarat lapar. Lapar stabilitas. Stabilitas yang artinya: kembalikan wajah Erlangga dalam versi lain. 'Kalau mereka pakai kata stabilitas, Bu, itu langkah ketiga. Mereka belum baca papan. Kita kirim kalender. Kalender memaksa orang baca.'
Siang, surat masuk kalender dewan: yayasan merujuk wasiat, menolak penunjukan dari koridor, meminta proses CEO profesional tertulis, bukan mulut, bukan darah. Tanda terima, bukan pujian. Pujian dari orang dewan adalah jebakan. Hana paraf yang sah di yayasan: gaji, sewa, beasiswa yang belum ia buka — belum, jujur, jangan museum ayah.
Portal memutar jebakan, bukan surat. Kemewahan yang pahit. Saham datar. Datar bisa jadi jebakan. Ia tidak menjelaskan. Komisaris yang kemarin tertutup menulis lewat Farida: *Saya baca darurat. Saya tidak mau restoran. Saya juga tidak mau Ibu jadi CEO hari ini. Tangan saya wasiat.* Hana balas, kering: *Bukan CEO. Proses. Tertutup.* Pos. Dimas tidak datang. Tidak datang bukan damai. Sinta: *Aku makan. Jangan jadi ratu di RUPS.* Hana: *Makan. Tidak.* Pos. Erlangga sepi. Sepi bukan damai.
Farida meletakkan satu kliping portal kecil di tepi map, terlipat, tidak dibuka penuh. 'Cukup tahu ada. Jangan hafal. Menghafal judul adalah sidang ulang di kepala.' Hana mengangguk, tidak membuka. Nama sekretaris yang dipecat sudah cukup sebagai bayangan. Bayangan tidak boleh jadi agenda. Agenda hari ini kalender, bukan dendam.
'Kalau RUPS itu jadi,' kata Hana pelan, 'aku tidak akan berdiri di podium. Aku akan kirim kertas. Kertas lebih jujur daripada wajah. Wajah hari ini masih wajah istri yang menang, dan wajah itu lapar kolom.'
'Kalau jadi, kita bawa wasiat,' ulang Farida. 'Hari ini belum jadi. Orang yang lirik darurat sering hanya menguji apakah kamu masuk lift. Kamu tidak masuk. Itu jawaban.'
Sore ia tidak ke grup. Ia ke jendela, kota, gedung seberang, orang yang masih masuk. Perusahaan masih bergerak. Faksi masih bergerak. Judul masih bergerak. Kunci di tangannya tidak membuat gerakan itu berhenti. Itu fakta yang lebih jujur daripada sidang. Ia minum air. Dada tidak. Farida tidak tanya.
'Besok mereka akan duduk,' kata Farida, merapikan map. 'Duduk bukan kalah. Duduk bisa jadi RUPS yang dilirik, bisa jadi kalender yang kita kirim. Kamu tidak perlu hadir di gedung grup untuk hadir di kertas. Hadir di kertas lebih sah. Hadir di lift lebih fotogenik. Kita pilih yang sah.'
'Aku tahu,' kata Hana. 'Aku hanya belum terbiasa memegang kunci yang tidak mengunci apa pun malam ini. Rumah masih libur. Perusahaan masih bergerak. Dua papan. Aku hanya boleh main di satu.'
Pulang, rantai, kunci, teras, papan. Teh. Televisi mati. Ia tidak kejar portal. Ia tidak dokter. Ia tidak raya. Tiga tidak. Ujung salah. Jam dinding. Rumah belum. 'Mereka masih bergerak, Ayah. Bukan di kafe. Di dalam. Aku tidak masuk lift. Aku tidak jadi CEO. Aku tidak sidang sekretaris. Aku tidak ATM. Kunci sudah di tangan, dan tangan ini masih gemetar karena kebiasaan perang. Aku coba tidur. Coba kebijakan. Kebijakan menahan darurat. Darurat tidak masuk ranjang. Ranjang hanya lebar. Lebar, malam ini, jujur. Besok dewan akan duduk. Duduk, bukan podium. Podium sudah kutolak. Tolak, malam ini, pagar. Pagar tidak memeluk. Pagar menahan mahkota tanpa memakainya. Mahkota kerja wasiat. Wasiat tidak masuk kolom. Kolom lapar jebakan. Jebakan biar lapar. Piring kosong. Kosong cukup. Cukup bukan selesai.'
Pukul tiga ia bangun, minum air. RUPS satu menit di kepala, spin jebakan satu menit, lalu papan. Papan masih ada. Ada cukup untuk tidak menulis judul. Judul menunggu ratu. Ratu tidak ia kasih.
Meja yang tidak difoto, Senin malam, yang ia izinkan: piring kosong, gelas, ranjang terlalu lebar, janji tidak memburu yang masih utuh meski kunci sudah di tangan, meski rumah masih libur, meski orang dalam masih menulis nama Erlangga di kepala. Utuh. Bukan selesai. Utuh cukup sampai pagi. Pagi menagih duduk. Duduk, dengan proses CEO yang belum, dan dengan faksi yang masih, dan dengan ayah mertua yang tidak bisa menggerakkan bidak lagi. Bidak, malam ini, di tangan yang capek. Capek tidak ke kolom. Kolom lapar. Lapar biar lapar. Kunci. Rantai. Dua itu cukup.