Bu Ratri Wijanarko menerima Renjana di ruang tamu rumahnya yang seputih tulang, di antara lukisan-lukisan mahal dan bunga lili yang baunya menyengat seperti pemakaman.
Ia mengenakan sutra abu-abu dan ekspresi yang sempurna—tapi Renjana, yang telah menghabiskan tujuh tahun membaca wajah-wajah orang yang berpura-pura, melihat retakan halus di sudut matanya. Retakan seseorang yang baru saja menyaksikan kekayaannya menguap dan menyadari bahwa kapal sedang tenggelam.
"Anak Bramantyo," kata Ratri, menuangkan teh yang tak akan diminum siapa pun. Tangannya hanya sedikit gemetar. "Iparku selalu bilang dia membunuh seluruh keluarga itu dengan bersih. Rupanya 'bersih' bukan keahlian Reksa."
"Reksa tak pernah ahli dalam apa pun kecuali mengira dirinya ahli," kata Renjana, duduk tanpa diundang. "Itu kelemahan yang sama yang membuat dia tak melihat kerajaannya runtuh sampai sudah terlambat. Dan itu kelemahan yang akan menyeretmu bersamanya, Bu Ratri—kecuali kau lebih pintar dari iparmu."
Ratri tertawa kecil, dingin. "Kau pikir aku akan menyerah karena seorang gadis muda datang ke rumahku dengan ancaman?"
"Aku tidak datang dengan ancaman," kata Renjana. "Aku datang dengan aritmatika."
Ia meletakkan tablet di meja. Di layar: yayasan amal Ratri—mesin pencuci uang paling terhormat di Pradipa, yang selama bertahun-tahun mengubah uang darah menjadi gedung sekolah dengan plakat namanya dan klinik dengan foto-foto senyumnya. Renjana menggeser layar. Di sebelahnya: peta Sigit, menunjukkan persis bagaimana setiap rupiah "amal" itu mengalir dari, dan kembali ke, kantong Wijanarko. Dan di sebelahnya lagi: daftar nama. Korban. Keluarga-keluarga yang ditelantarkan oleh klinik yang dananya ternyata diselewengkan; anak-anak yang beasiswanya menguap; nama-nama nyata, wajah-wajah nyata, yang akan menatap dari halaman depan koran Maya.
"Dalam empat puluh delapan jam," kata Renjana pelan, "kerja jurnalistik akan terbit. Bukan tuduhan kosong—bukti, terverifikasi, tahan secara hukum. Wajah-wajah ini. Nama-nama ini. Dan namamu, Bu Ratri, di setiap dokumen. Bukan Reksa. Kau. Karena yayasan ini atas namamu. Reksa membangunnya begitu, dengan sengaja, agar jika ada yang jatuh, kau yang jatuh duluan."
Untuk pertama kalinya, topeng Ratri retak penuh. Bukan karena ancaman publik. Karena kebenaran tentang iparnya sendiri.
"Dia menjadikanku perisai," bisik Ratri.
"Dia menjadikan semua orang perisai," kata Renjana. "Hartono. Hendra. Damar. Garda. Dan sekarang dia akan membiarkanmu terbakar di depan publik sementara dia bersembunyi di belakang Pandu Adiwangsa. Kau tahu nama itu. Aku lihat di wajahmu kau tahu."
Ratri tak menyangkal. Tangannya kini gemetar nyata, dan ia meletakkan cangkir teh sebelum menumpahkannya.
"Aku menawarkanmu hal yang sama yang kutawarkan pada Damar," kata Renjana, berdiri. "Pilihan. Kau bisa tenggelam bersama Reksa, namamu menjadi sinonim pencuri uang anak yatim untuk satu generasi. Atau kau bisa menyeret—menyerahkan apa yang kau tahu tentang aliran dana yayasan, tentang dari mana uang itu berasal, tentang siapa yang mengendalikannya di atas Reksa. Bersaksi, dan kau menjadi orang yang membongkar, bukan yang membobol. Putri-putrimu—" Renjana melihat reaksi, dan tahu ia telah menemukan titik yang sama yang ada pada setiap orang ini, "—tidak harus mewarisi namamu sebagai aib."
Ratri terdiam lama. Di luar jendela, taman yang dirawat sempurna menggigil dalam angin sore.
"Reksa membunuh keluargamu," kata Ratri akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Dan kau datang ke rumahku menawarkan jalan keluar daripada dendam. Kenapa?"
"Karena kau bukan yang menarik pelatuk," kata Renjana. "Kau pencuci uang, bukan pembunuh. Hukum membedakan keduanya. Dan aku—" ia berhenti di pintu, "—aku belajar untuk membedakan juga. Kalau aku menghancurkan setiap orang yang menyentuh uang itu sama kejamnya dengan Reksa menghancurkan keluargaku, lalu apa bedanya aku dengan dia?"
Ia keluar. Di mobil, Arsa menunggu.
"Dia akan menyeret atau melawan?" tanya Arsa.
"Belum tahu," kata Renjana. "Tapi aku menanam perpecahan di keluarga Wijanarko. Ratri kini takut pada Reksa, bukan setia padanya. Dan keluarga yang saling takut—" ia menatap ke depan, "—adalah keluarga yang runtuh dari dalam."
Dua hari kemudian, liputan Maya terbit. Tapi bukan Maya yang menggulingkan yayasan Ratri.
Ratri sendiri yang melakukannya—dengan konferensi pers mendadak di mana, dengan air mata yang entah palsu entah nyata, ia "membongkar penyelewengan yang baru ia ketahui", menyerahkan dokumen ke kejaksaan, dan menyebut—dengan hati-hati, dengan ketakutan yang terkalkulasi—bahwa pengendali sesungguhnya bukan dirinya, melainkan jaringan di atasnya.
Front publik menyala. Nama Wijanarko, yang dulu berarti dermawan, kini berarti pencuri. Dan di menara kaca lantai empat puluh, Reksa Wijanarko menonton iparnya sendiri mengkhianatinya di televisi nasional, dan untuk pertama kali, mengerti bahwa ia sendirian.