Renjana berdiri membeku di depan pintu apartemennya, foto itu bergetar di tangannya.
Foto Silla Mahendra usia tujuh belas, tersenyum di hari ulang tahunnya, dalam gaun biru yang dibelikan ibunya. Foto yang seharusnya ikut terbakar dalam kebakaran itu. Foto yang tidak mungkin dimiliki siapa pun—kecuali seseorang yang menyimpannya dengan sengaja, sebagai jejak, sebagai ancaman.
Di balik foto, ada tulisan tangan rapi:
"Aku tahu kau masih hidup. Pertanyaannya, apa kau cukup pintar untuk tetap hidup?"
Renjana masuk ke apartemennya, mengunci pintu, dan duduk dalam gelap selama satu jam penuh, memaksa pikirannya yang berpacu untuk kembali tenang. Panik adalah kemewahan yang tidak ia miliki. Ketakutan adalah racun yang sudah lama ia latih untuk dinetralkan.
Siapa?
Damar tidak mungkin—lelaki itu terlalu bodoh untuk bermain teka-teki. Hartono baru saja ia tekan, dan ia terlalu takut. Reksa? Kalau Reksa tahu, ia tidak akan mengirim foto. Ia akan langsung mengirim pembunuh.
Berarti orang keempat. Atau orang yang belum ada dalam daftarnya.
Renjana menyalakan lampu dan membuka buku catatannya. Empat nama. Damar. Hartono. Bagas. Reksa. Ia menatap nama Bagas—komisaris polisi yang menutup kasusnya. Dari semua, hanya Bagas yang punya akses ke berkas penyelidikan asli. Hanya Bagas yang mungkin pernah melihat bahwa jumlah jenazah tidak cocok, bahwa salah satu mayat bukan keluarga Mahendra. Hanya Bagas yang mungkin diam-diam menyimpan kecurigaan bahwa salah satu korban selamat.
Tapi kenapa Bagas tidak melapor pada Reksa? Kenapa malah memperingatkannya?
Kecuali Bagas punya agenda sendiri.
Tiga hari kemudian, jawabannya datang. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal: sebuah alamat, dan waktu. Pukul sebelas malam.
Renjana tahu ini jebakan. Tapi ia juga tahu bahwa menghindari jebakan kadang lebih berbahaya daripada memasukinya dengan mata terbuka. Ia datang—tapi tidak sendirian. Ia menyewa dua mantan tentara lewat jaringan Wira untuk berjaga di luar, dan ia membawa perekam tersembunyi di balik mantelnya.
Tempat itu sebuah gudang kosong di tepi kota. Di tengahnya, di bawah satu lampu redup, berdiri seorang pria. Tinggi, kurus, rambut sudah putih semua. Wajahnya lebih tua dari yang Renjana ingat, tapi ia mengenalinya.
Komisaris Bagas. Sekarang sudah pensiun.
"Akhirnya," kata Bagas, suaranya bergema di gudang kosong. "Silla Mahendra. Aku menunggu tujuh tahun untuk memastikan firasatku benar."
"Firasat apa?" Renjana menjaga jaraknya, suaranya datar.
"Bahwa kau tidak mati." Bagas melangkah maju, perlahan. "Aku yang memeriksa jenazah di lokasi. Lima mayat. Tapi salah satu gadis itu—giginya tidak cocok dengan catatan dokter gigi keluarga Mahendra. Aku tahu seseorang menukar mayat. Aku tahu salah satu kalian lolos." Ia berhenti. "Dan aku menutup kasus itu, bukan karena Reksa membayarku, tapi karena aku tahu, suatu hari, yang selamat itu akan kembali. Dan aku ingin ada di sana saat dia menjatuhkan Reksa."
Renjana menyipitkan mata. "Kau menutup pembunuhan keluargaku, lalu berharap aku berterima kasih?"
"Aku tidak berharap apa-apa selain satu hal." Wajah lelaki tua itu mengeras menjadi sesuatu yang penuh kebencian lama. "Reksa Wijanarko membunuh putraku enam tahun lalu. Anakku jaksa muda yang mulai menyelidikinya. Mereka bilang kecelakaan. Aku tahu itu bukan." Suaranya bergetar. "Aku terlalu tua dan terlalu sendirian untuk melawannya. Tapi kau—kau punya kebencian yang masih muda. Kau punya cara masuk. Aku ingin bersekutu denganmu."
Renjana menatap lelaki itu lama. Setiap insting memperingatkannya: jangan percaya orang yang menutup kasus keluargamu. Tapi setiap insting juga berkata: musuh dari musuhmu, kalau dikendalikan, adalah pisau tambahan.
"Kalau aku tolak?" tanyanya.
Bagas tersenyum lelah. "Maka foto itu, dan kebenaran tentang siapa kau, akan sampai ke meja Reksa besok pagi. Dan kali ini, dia tidak akan membuangmu ke sungai. Dia akan memastikan."
Ancaman yang jelas. Tapi Renjana tidak gentar. Ia justru tersenyum—senyum yang membuat lelaki tua itu sedikit mundur.
"Pak Bagas," katanya tenang. "Anda baru saja melakukan kesalahan terbesar Anda."
"Apa maksudmu?"
"Anda mengaku punya bukti bahwa Reksa membunuh keluarga saya. Dan Anda baru saja merekamnya untuk saya." Ia menepuk dada mantelnya. "Jadi sekarang, pertanyaannya bukan apakah saya butuh Anda. Tapi apakah Anda cukup berguna untuk saya biarkan tetap hidup."