Dengan data dari server di tangannya, Renjana tidak lagi membutuhkan kerja sama Sigit. Tapi ia membutuhkan sesuatu yang lebih berharga dari data: ia membutuhkan kesaksian. Data bisa dibantah, dimanipulasi balik, disebut palsu oleh pengacara mahal. Tapi seorang akuntan hitam yang duduk di kursi saksi dan menjelaskan, baris demi baris, bagaimana ia mencuci uang darah—itu adalah senjata yang tidak bisa dilawan.
Maka Renjana melakukan apa yang ia rancang sejak awal: ia menutup jerat, dan memberi Sigit hanya dua pintu, keduanya mengarah pada kehancuran lelaki itu, tapi hanya satu yang membiarkannya hidup.
Ia mengatur agar "bukti" penggelapan Sigit—selisih ilusi yang ia lukis berminggu-minggu lalu—sampai ke meja Reksa dalam bentuk yang tidak bisa diabaikan: bukan lagi anomali kecil, tapi pola yang, di mata Reksa yang paranoid, tampak persis seperti seorang CFO bayangan yang diam-diam menyedot dari dana PA selama berbulan-bulan. Renjana tahu persis apa artinya itu bagi Reksa. Mencuri dari Reksa bisa diampuni. Mencuri dari kaisar yang tidak terlihat di atas Reksa—itu adalah dosa yang dibayar dengan nyawa, dan bukan hanya nyawa Sigit, tapi nyawa Reksa sendiri jika ketahuan ia tidak menyelesaikannya.
Renjana datang ke Sigit pada malam sebelum Reksa bertindak, di apartemen aman yang ia siapkan, dengan map berisi semuanya.
"Reksa akan menyelesaikanmu besok," kata Renjana, meletakkan map di meja di antara mereka. "Bukan memecat. Menyelesaikan. Kau tahu apa artinya itu. Kau yang menulis pembayaran untuk Garda di buku besar selama bertahun-tahun. Sekarang nomor itu akan tertulis untukmu."
Sigit menatap map itu, lalu menatap Renjana, dan wajah akuntan tanpa wajah itu akhirnya retak sepenuhnya. Topeng kesempurnaan yang ia kenakan sepanjang hidup luruh, dan yang tersisa hanyalah seorang lelaki di ambang lima puluh yang baru menyadari ia telah menghabiskan hidupnya membangun labirin yang kini menjadi kuburannya sendiri.
"Kau yang melakukan ini," kata Sigit pelan. Bukan pertanyaan. "Selisih itu. Semuanya. Kau menata papan sejak awal."
"Ya," kata Renjana. Tidak ada gunanya menyangkal pada orang yang membaca angka sebaik dirinya. "Aku menata papan. Tapi aku tidak membunuhmu, Sigit. Reksa yang akan melakukan itu. Aku hanya memberimu satu hal yang tidak pernah Reksa berikan pada siapa pun: pilihan."
Ia mendorong map kedua ke depan—lebih tipis, lebih berbahaya.
"Di dalam itu ada nomor kontak. Inspektur Larasati, unit kejahatan keuangan. Bersih. Tak tersentuh Wibowo. Kalau kau menghubunginya malam ini, menyerahkan seluruh peta pencucian, seluruh nama, seluruh aliran—termasuk ke mana uang itu benar-benar pergi, ke siapa di atas Reksa—dia akan melindungimu sebagai saksi. Kau menghilang ke dalam program perlindungan, hidup, dengan namamu sendiri tapi tubuh yang masih bernapas. Atau," Renjana menatapnya dingin, "kau menunggu Garda di apartemenmu besok pagi."
Sigit terdiam lama. Jemarinya yang biasa mengetuk meja kini diam total. Di luar, hujan mulai turun di atas Kota Pradipa, membasuh menara-menara kaca tempat uang kotor mengalir tak terlihat.
"Kau tahu siapa di atas Reksa," kata Sigit akhirnya, suaranya tipis. "Kau menyebut 'ke siapa uang itu benar-benar pergi'. Kau tahu tentang PA."
Renjana tidak menjawab. Ia hanya menatap.
Sesuatu yang menyerupai tawa pahit lolos dari Sigit. "Kau tidak tahu apa yang kau gali, anak muda. Reksa hanya bendahara. Yang di atasnya—" Ia menggeleng, ngeri. "Aku merancang aliran ke dia selama bertahun-tahun dan aku bahkan tidak berani menulis namanya lengkap. Dua huruf. Itu saja yang berani aku tulis."
"Maka tulislah lengkap," kata Renjana, "di hadapan Inspektur Larasati. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupmu, kau akan melakukan sesuatu yang membersihkan, bukan mengotori."
Pada pukul dua dini hari, Sigit Prawira menelepon nomor di map itu. Renjana mendengar dari kejauhan, lewat pengaturan yang ia buat dengan hati-hati agar tak satu pun benang menuntun kembali ke dirinya, ketika sebuah mobil tanpa tanda menjemput Sigit dari sudut jalan yang sepi dan membawanya ke dalam perlindungan—ke dalam tahanan rumah aman Inspektur Larasati, sebagai saksi rahasia yang namanya tidak akan muncul di dokumen mana pun sampai saatnya tiba.
Pagi berikutnya, ketika Garda tiba di apartemen Sigit, ia menemukan ruangan kosong, brankas kosong, dan tidak ada satu pun jejak. Akuntan hitam itu telah menghilang seperti uang yang ia cuci—ada lalu tiada.
Reksa Wijanarko mengamuk dalam diam yang dingin di lantai empat puluh, menyadari bahwa tulang punggung keuangannya—lelaki yang mengetahui setiap belokan labirin pencucian, setiap nama, setiap aliran ke PA—kini berada di tangan yang salah. Untuk pertama kalinya, retakan di kerajaannya tidak bisa lagi disembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.
Dan di apartemen amannya, Renjana menutup buku catatan. Satu nama lagi telah jatuh—bukan ke dalam tanah, tapi ke dalam terang, di mana ia akan bersaksi. Lewat angka. Lewat kebenaran. Persis seperti yang ayahnya akan lakukan.