Reksa Wijanarko mengaktifkan Garda pada hari ketika ia akhirnya menerima, di dasar perutnya yang dingin, bahwa ia sedang dikepung.
Renjana mengetahuinya dari perubahan kecil yang hanya bisa dibaca oleh seseorang yang telah mempelajari sarang ini setiap hari selama berbulan-bulan. Sebuah rekening operasi yang sudah lama dorman tiba-tiba menerima dana tunai dalam jumlah yang tidak dicatat di mana pun—pembayaran yang tidak boleh meninggalkan jejak, untuk pekerjaan yang tidak boleh memiliki nama. Pola transfer yang sama, Kelana mengonfirmasi setelah menyilangkannya dengan arsip lama, yang muncul tujuh tahun lalu, beberapa hari sebelum malam ketika dunia Silla Mahendra runtuh.
"Aku menemukan namanya di catatan keuangan tua yang Pak Bagas kasih," kata Kelana lewat sambungan terenkripsi, suaranya kehilangan kegetiran biasanya. "Bukan nama asli. Cuma sebutan operasi. 'Garda'. Bos, orang ini... pembayaran ke dia di tujuh tahun lalu, tanggalnya. Tepat sebelum—" Kelana tidak menyelesaikannya. Ia tidak perlu.
Garda. Eksekutor malam pembantaian.
Renjana menutup mata, dan ingatan yang ia kunci selama tujuh tahun terbuka tanpa izin. Sebuah siluet di ambang pintu rumahnya, tenang di tengah teriakan, bergerak tanpa tergesa, tanpa amarah, tanpa apa pun—efisien seperti mesin. Ia ingat suara yang datar memerintahkan, "Yang ini juga," sambil menunjuk ke arahnya, ke arah Silla berusia tujuh belas yang meringkuk di lantai. Ia ingat tangan-tangan yang mengangkatnya. Ia ingat pukulan yang mengirimnya ke dalam gelap. Ia ingat dingin air sungai. Dan di tengah semua itu, ia ingat satu hal dengan kejernihan yang menyiksa: lelaki di ambang pintu itu tidak pernah menaikkan suaranya. Membunuh, baginya, sama membosankannya dengan menutup pintu.
Untuk Hartono, untuk Hendra, untuk Sigit—Renjana merasakan strategi, perhitungan, kepuasan dingin seorang pemain catur. Tapi untuk Garda, sesuatu yang lebih tua dan lebih gelap bergerak di dalam dadanya. Bukan rencana. Kebencian. Kebencian murni yang sudah mengeras menjadi tulang selama tujuh tahun, kini hidup kembali dengan satu nama.
Ia harus berhati-hati. Kebencian membuat orang ceroboh, dan kecerobohan membuat orang mati. Garda bukan Hendra yang serakah atau Sigit yang sombong. Garda adalah profesional yang tidak punya kelemahan finansial, tidak punya ego untuk dimanipulasi, tidak punya moral untuk diserang. Ia hanya punya satu fungsi, dan ia melakukannya dengan sempurna.
Dan kini Reksa telah melepasnya untuk berburu.
Sasaran pertama Garda menjadi jelas dalam dua hari. Maya, jurnalis investigatif yang Renjana beri remah-remah, melaporkan dirinya diikuti—sebuah mobil tanpa pelat yang sama tiga kali, seseorang yang berdiri terlalu lama di seberang apartemennya. Kelana menemukan ponselnya sendiri diprobe oleh perangkat yang sangat canggih, lalu mundur, seakan penyerang itu hanya menguji ketebalan tembok sebelum memutuskan apakah perlu menerobosnya. Bahkan apartemen aman Renjana—yang ia jaga dengan paranoia total—suatu pagi memiliki kotak surat yang terbuka, tanpa ada yang hilang. Hanya pesan. *Aku tahu kalian ada. Aku sedang mencari.*
Garda tidak menyerang. Belum. Ia berburu—memetakan, mengukur, mempersempit—persis seperti Renjana sendiri berburu mangsanya. Dua predator mengendus medan yang sama, masing-masing tahu yang lain ada, masing-masing menunggu kesalahan.
Renjana mengumpulkan timnya yang tersisa di apartemen aman cadangan malam itu—Arsa, Kelana lewat layar, peta Kota Pradipa terbentang di meja seperti medan perang.
"Garda akan datang dari arah orang-orang di sekelilingku," kata Renjana, suaranya rata, mengubur kebencian di bawah disiplin. "Maya, Kelana, Pak Wira di rumah sakit. Dia tahu cara kita yang paling rapuh adalah lewat orang yang kita lindungi. Jadi kita ubah aturannya. Mulai malam ini, tidak ada dari kita yang bergerak sendiri, tidak ada pola yang bisa diprediksi, tidak ada rumah yang tetap." Ia menatap mereka satu per satu. "Dan kita percepat Sigit. Karena begitu aku punya peta keuangan lengkap di tangan, aku tidak perlu lagi berada di dalam sarang Reksa. Garda hanya berbahaya selama kita masih harus mendekatinya. Begitu kita punya cukup untuk menjatuhkan struktur dari jauh, dia memburu bayangan."
"Dan kalau dia menemukan kita sebelum itu?" tanya Arsa pelan.
Renjana menatap peta, ke arah menara Wijanarko yang menjulang di pusat kota, tempat di mana data Sigit tersimpan, tempat di mana ia harus masuk sekali lagi.
"Maka kita pastikan dia menemukan bayangan," katanya. "Bukan kita."
Tapi malam itu, sendirian, ia membuka buku catatannya dan menatap empat nama lama dan dua huruf baru. Ia tidak menambahkan Garda ke daftar. Garda bukan target dalam pengertian yang sama—Garda adalah hantu dari malam yang melahirkan seluruh dendam ini. Dan ketika saatnya tiba, Renjana tahu, ia harus menghadapi hantu itu tanpa membiarkan dirinya menjadi sama dinginnya dengan hantu itu. Itu, ia menyadari dengan ngeri, mungkin ujian terberat dari semuanya.