Kelana sudah berada di dalam selama sembilan hari.
Setelah jatuhnya Hendra Lawu, jalur pelabuhan timur yang dulu dikuasai penyelundup itu kini berada di bawah kendali tak langsung Renjana — sebuah keping yang ia rebut dalam permainan yang lebih besar. Dan jalur itu, ternyata, adalah arteri pasokan menuju vila terpencil tempat Dani disekap. Setiap dua minggu, sebuah truk logistik membawa kebutuhan ke vila itu. Renjana telah menyusupkan Kelana sebagai teknisi pemeliharaan sistem keamanan, menumpang dalam jaringan kontraktor yang melayani properti-properti Wijanarko.
Sekarang, di apartemen rumah aman, Renjana menatap layar laptop dan menunggu. Tangannya, yang selalu ia banggakan tenang, tidak sepenuhnya diam.
"Aku dapat akses ke arsip kamera dalam," suara Kelana berbisik lewat earpiece, gugup. "Mereka simpan rekaman tujuh hari. Aku tarik satu... ini berisiko, kalau mereka cek log aku ketahuan. Tapi kau bilang kau harus lihat."
"Tarik."
Layar berkedip. Lalu sebuah rekaman terbuka.
Sebuah ruangan. Bukan sel kotor seperti yang Renjana bayangkan bertahun-tahun dalam mimpi buruknya. Ruangan yang bersih, hampir mewah — sebuah perpustakaan kecil, meja belajar, rak penuh buku. Dan di sana, duduk di meja itu, seorang pemuda.
Renjana berhenti bernapas.
Dani. Tujuh belas tahun. Tinggi, kurus, rambut dipotong rapi. Wajah yang masih menyimpan garis-garis adik kecil yang dulu memeluk lututnya saat takut petir — tapi sekarang berbeda. Wajah itu tidak takut. Wajah itu dingin, terkontrol, terlatih. Mata yang dulu jenaka kini datar, waspada, seperti mata orang yang sudah belajar untuk tidak pernah menunjukkan apa yang ia rasakan.
Dani membaca. Lalu seorang penjaga masuk membawa nampan, dan Dani mengangguk padanya — sopan, tenang, tanpa kebencian. Seperti seseorang yang berada di rumah, bukan di penjara.
Itu yang menghancurkan Renjana lebih dari jeruji mana pun.
"Ada suara?" tanyanya, suaranya nyaris tak terdengar.
Kelana memutar audio. Rekaman lain, hari lain. Dani sedang berbicara dengan seseorang di luar bingkai — nada suara seorang dewasa, dan Renjana mengenali suara itu meski sudah tujuh tahun. Reksa.
"...kau sudah jauh lebih tenang dari setahun lalu, Nak," suara Reksa, hangat, palsu, mengerikan dalam kelembutannya. "Kakakmu... seandainya dia hidup, dia tak akan mengenalimu. Dia akan bangga kau jadi sekuat ini."
Dan suara Dani — berubah, lebih dalam dari yang Renjana ingat, tapi tak salah lagi miliknya — menjawab pelan, "Kakak sudah mati, Om. Aku tahu. Orang-orang yang membunuh keluargaku yang membuangnya ke sungai. Kalau bukan karena Om menemukanku, aku juga sudah mati."
Renjana menutup mulutnya dengan tangan. Air mata yang sudah tujuh tahun beku menggenang di matanya, tapi tidak jatuh. Tidak boleh jatuh.
Mereka telah membalik segalanya. Reksa — yang memerintahkan pembantaian — telah menanamkan cerita bahwa ia adalah penyelamat. Bahwa keluarga Dani dibunuh oleh musuh-musuh, dan Reksa-lah yang menyembunyikan Dani, melindunginya, membesarkannya. Tujuh tahun. Tujuh tahun cerita palsu dicekokkan ke kepala anak yang trauma sampai ia tak lagi tahu mana kebenaran. Sampai ia menyebut pembunuh keluarganya "Om" dengan nada sayang.
"Renjana?" suara Kelana ragu. "Kau masih di sana?"
"Ya." Suara Renjana keluar datar, dikendalikan total. Itu lebih menakutkan daripada teriakan. "Aku di sini."
Ia menatap layar lebih lama. Adiknya hidup. Bernapas. Membaca buku di meja yang rapi. Tapi adik yang ia kenal — anak yang tertawa, yang merengek minta gendong, yang menggambar keluarga mereka dengan krayon — anak itu sudah dikubur lebih dalam daripada mayat di sungai. Yang tersisa adalah cangkang yang dibentuk ulang oleh tangan musuhnya menjadi aset, menjadi senjata, menjadi sandera yang bahkan tak tahu ia sandera.
Sesuatu di dalam dada Renjana mengeras dan retak pada saat yang sama. Bagian yang mengeras berkata: dendammu benar, kau harus menghancurkan mereka semua. Bagian yang retak berkata: tapi kalau kau hanya menghancurkan dan tak menyelamatkannya, kau hanya akan punya dunia yang penuh mayat dan adik yang membencimu.
Ia menutup laptop. Tangannya berhenti bergetar — bukan karena tenang, tapi karena ia memaksanya berhenti.
"Kelana," katanya. "Keluar dari sana malam ini. Hapus semua log aksesmu. Aku sudah lihat yang perlu kulihat."
"Kau yakin? Aku bisa gali lebih—"
"Keluar. Aku tak mau kehilangan kau juga."
Setelah saluran ditutup, Renjana berdiri sendiri di apartemen gelap, menghadap jendela yang memantulkan kota Pradipa yang berkelap-kelip di bawah. Tujuh tahun ia membangun rencana balas dendam yang sempurna. Tujuh tahun ia menjadikan dirinya senjata. Dan malam ini ia menyadari sesuatu yang mengubah seluruh urutannya:
Dendam bisa menunggu. Reksa bisa menunggu. Tapi adiknya — yang setiap hari semakin tenggelam dalam kebohongan, semakin yakin kakaknya mati, semakin menjadi anak orang yang membunuh keluarga mereka — adiknya tidak bisa menunggu lebih lama.
"Aku akan mengeluarkanmu, Dani," bisiknya ke kaca, ke pantulan kota, ke adik yang tak bisa mendengarnya. "Bahkan kalau kau membenciku. Bahkan kalau kau melawan. Aku akan mengeluarkanmu. Itu janji."
Penyelamatan adalah prioritas mutlak sekarang. Dendam nomor dua. Untuk sekarang.