Kelana yang pertama menelepon. Suaranya bergetar di seberang, lebih cepat dari biasanya.
"Hartono kabur. Dia tarik tunai besar dua jam lalu, beli tiket. Bukan pesawat — bus malam ke pelabuhan timur, terus mau menyeberang lewat kapal barang. Dia mau hilang."
Renjana sudah berdiri sebelum kalimat itu selesai. "Sejak kapan dia bergerak?"
"Empat puluh menit. Aku lacak dari kartu kreditnya yang masih nyala. Tapi dia bakal sadar dan buang ponselnya sebentar lagi."
Hartono panik. Itu masuk akal. Hendra Lawu jatuh seminggu lalu — dibuang Reksa, ditangkap negara — dan setiap orang di lingkaran Wijanarko kini bertanya siapa berikutnya. Hartono, dengan akta-akta palsu yang menjadi tali gantungan di lehernya, jelas merasa giliran berikutnya adalah dirinya. Ketakutan membuat orang lari. Lari membuat orang bodoh.
Masalahnya, Renjana tidak menginginkan Hartono mati atau hilang. Ia menginginkan Hartono hidup. Notaris itu satu-satunya orang yang bisa bersaksi, di bawah sumpah, bahwa akta pengalihan aset keluarga Mahendra dipalsukan atas perintah Reksa. Mayat tidak bersaksi. Buronan tidak bersaksi. Dan jika Damar menemukan Hartono lebih dulu, notaris itu akan menjadi mayat sebelum subuh.
"Arsa," kata Renjana ke telepon kedua, menyetir keluar dari basemen dengan satu tangan. "Aku butuh kau alihkan perhatian keamanan Wijanarko malam ini. Apa pun. Buat Damar sibuk di tempat lain selama dua jam."
"Hartono?" tebak Arsa. Pikirannya cepat. Itu salah satu hal yang Renjana belum mau akui ia sukai darinya.
"Kalau Damar sampai duluan, kita kehilangan saksi kunci selamanya."
Jeda singkat. "Aku rapat dengan Damar setengah jam lagi soal audit divisiku. Aku bisa ulur jadi panjang, kasih dia umpan internal palsu yang harus dia kejar malam ini. Tapi itu menarik perhatiannya ke divisiku, Renjana. Ke aku."
"Aku tahu apa yang kuminta."
"Kalau begitu kau berutang padaku." Tapi Renjana mendengar sesuatu di balik kalimat itu — bukan keberatan, melainkan kesetiaan yang sedang menempa dirinya sendiri di dalam api. "Pergilah. Aku tahan Damar."
Pelabuhan timur Kota Pradipa adalah labirin peti kemas dan lampu sodium oranye. Bau solar, garam, dan karat. Renjana memarkir mobil di kegelapan dekat terminal bus, dan ia melihat Hartono — pria gemuk berkeringat di balik jaket yang terlalu tebal untuk malam tropis, menyeret koper, matanya berlari ke segala arah seperti tikus di lapangan terbuka.
Ia mencegatnya di antara dua peti kemas, tanpa suara, hanya muncul dari bayangan.
Hartono nyaris berteriak. Renjana menutup mulutnya dengan tatapan, bukan tangan.
"Kalau kau naik kapal itu," kata Renjana pelan, "kau punya dua kemungkinan. Pertama, Damar menemukanmu sebelum kapal berlayar dan kau berakhir di dasar laut ini malam juga. Kedua, kau berhasil kabur, hidup sebagai buronan tanpa uang, tanpa nama, sampai mati ketakutan di kamar kost negeri orang. Mana yang kau pilih?"
"Ada pilihan ketiga?" Suara Hartono pecah.
"Selalu ada pilihan ketiga." Renjana menatapnya. "Kau ikut aku. Aku sembunyikan kau di tempat yang Damar tak akan pernah temukan. Kau aman. Dan suatu hari nanti — bukan hari ini — kau berdiri di depan hakim dan kau ceritakan kebenaran tentang akta yang kau palsukan. Setelah itu, kau bebas. Benar-benar bebas. Bukan kabur. Bersih."
"Mereka akan membunuhku kalau aku bersaksi—"
"Mereka akan membunuhmu apa pun yang kau lakukan, Hartono. Bedanya, kalau kau ikut aku, kau mati sebagai orang yang akhirnya melakukan satu hal benar. Atau kau bisa naik kapal itu dan mati sebagai pengecut yang lari." Renjana melunakkan suaranya, dan itu lebih menusuk daripada ancaman. "Aku tahu kau bukan orang jahat. Kau cuma penakut yang menandatangani hal-hal buruk. Itu bisa ditebus."
Di kejauhan, ponsel Renjana bergetar. Arsa: *Damar gigit umpan. Dia ke gudang utara. Kau punya 90 menit.*
Hartono melihat layar itu, melihat wajah Renjana yang tak goyah, dan sesuatu di dalam dirinya runtuh — bukan menjadi lebih takut, melainkan menjadi lelah. Lelah lari. Tujuh tahun rahasia. Tujuh tahun takut. Sama persis dengan Renjana, walau ia tak tahu betapa miripnya mereka.
"Tempat aman," bisik Hartono. "Janji?"
"Aku tidak pernah berjanji yang tidak bisa kutepati."
Mereka meninggalkan koper di sana, meninggalkan tiket di sana, meninggalkan kapal yang berangkat tanpa penumpang yang seharusnya. Renjana membawa Hartono melalui jalur belakang ke sebuah rumah aman yang sudah ia siapkan berbulan lalu — apartemen sederhana atas nama cangkang yang bahkan Kelana sengaja tak catat di sistem utama, untuk berjaga jika sistem itu sendiri suatu hari diretas balik.
Di dalam mobil, dalam keheningan, Hartono berbisik, "Kenapa kau peduli aku hidup atau mati?"
Renjana tidak menjawab dengan kebenaran. Kebenaran adalah: kau adalah salah satu dari empat nama di buku catatanku, dan aku sudah mengubah rencanaku. Aku tidak lagi ingin kau hancur. Aku ingin kau berguna untuk menghancurkan yang di atasmu, lalu menanggung hukumanmu sendiri, dengan adil.
"Karena saksi yang hidup," kata Renjana akhirnya, "lebih berharga daripada mayat yang bisu."
Malam itu ia mendapatkan aset hukum pertamanya. Bukan senjata. Bukan ancaman. Sebuah suara yang suatu hari akan bicara di ruang sidang. Ia menatap pelabuhan yang menjauh di kaca spion, dan untuk pertama kalinya merasa rencananya bergeser dari dendam murni ke sesuatu yang lebih besar — dan, ia mulai curiga, lebih sulit.