Pak Wira tidak pernah memanggilnya ke rumah pribadinya. Itulah hal pertama yang memberitahu Renjana bahwa sesuatu telah berubah.
Rumah tua itu berdiri di lereng timur kota, dikelilingi pohon-pohon yang lebih tua dari penghuninya, sunyi dan terlindung. Wira menunggunya di teras belakang, di kursi rotan, dengan teh yang mengepul dan ekspresi yang Renjana belum pernah lihat dalam tiga tahun bekerja untuknya: kekhawatiran.
"Duduk," kata orang tua itu. Bukan permintaan.
Renjana duduk. Wira menatapnya lama, mata tuanya yang sinis dan tajam memindai wajah anak didiknya seolah membaca neraca yang tak seimbang.
"Aku sudah lama di dunia ini, Renjana," Wira memulai. "Lebih lama dari umurmu dua kali lipat. Aku tahu bagaimana investasi bekerja. Aku tahu bagaimana ambisi terlihat. Dan apa yang kau lakukan akhir-akhir ini—" ia mengetukkan jarinya ke meja, "—bukan investasi. Hendra Lawu jatuh. Manifes bocor ke negara. Sebuah perusahaan cangkang yang berakhir di kabut mengambil alih dermaga yang kebetulan menjadi milik Wijanarko. Dan kau, anak didikku, ada di tengah semua itu, tenang seperti tidak terjadi apa-apa."
Renjana tidak menjawab. Bertahun-tahun ia telah berbohong kepada semua orang — kepada Reksa, kepada Damar, kepada dunia. Tapi berbohong kepada Wira terasa berbeda. Orang tua ini telah memberinya tempat ketika ia tak punya apa-apa, mengajarinya dunia keuangan, mempercayainya dengan sumber dayanya. Berbohong padanya terasa seperti mencuri.
"Aku bukan orang bodoh," lanjut Wira, suaranya lebih lembut sekarang, lebih lelah. "Dan aku tidak akan duduk diam membiarkan anak didikku menggunakan namaku, modalku, dan reputasiku untuk perang yang tidak ia ceritakan padaku. Jadi aku akan menawarkanmu dua pilihan, dan aku ingin kau memilih sekarang." Ia mengangkat satu jari. "Satu: kau berhenti. Apa pun ini, kau berhenti, kau kembali jadi akuntanku, dan kita lupakan semuanya. Aku akan melindungimu sebisaku." Ia mengangkat jari kedua. "Atau dua: kau ceritakan padaku kebenarannya. Semuanya. Dan kalau kebenaran itu cukup baik, aku berdiri di sampingmu — dengan segala yang kupunya."
Renjana menatap teh yang mengepul di antara mereka. Naluri tujuh tahunnya berteriak untuk berbohong, untuk melindungi, untuk menjaga orang ini jauh dari bahaya yang ia bawa. Wira tua. Wira baik. Wira tidak pantas tertarik ke dalam perang yang bisa membunuhnya.
Tapi ia juga lelah. Lelah membawa semuanya sendiri.
"Kalau aku ceritakan," kata Renjana pelan, "kau tidak akan bisa kembali tidak tahu. Dan orang-orang yang aku lawan, Pak — mereka membunuh untuk hal-hal yang jauh lebih kecil dari yang aku tahu. Kau menawarkan berdiri di sampingku. Tapi berdiri di sampingku mungkin berarti mati di sampingku. Aku tidak ingin itu di hati nuraniku."
"Anak muda." Wira tersenyum tipis, dan dalam senyum itu ada sesuatu yang nyaris seperti kasih sayang seorang ayah. "Aku sudah tua. Aku punya lebih banyak masa lalu daripada masa depan. Jangan kau pikir kau melindungiku dengan menyembunyikan kebenaran. Kau hanya membuatku mati dalam ketidaktahuan. Sekarang bicara."
Maka Renjana bicara.
Tidak semuanya — ia masih menyimpan nama Silla, masih menyimpan Dani, masih menyimpan inti terdalam dari dendamnya. Tapi ia memberi Wira kebenaran yang cukup: bahwa Reksa Wijanarko membangun kerajaannya di atas pencucian uang dan darah. Bahwa keluarga-keluarga telah dihancurkan untuk menjaga rahasia itu. Bahwa Renjana datang bukan sebagai investor tapi sebagai orang yang ingin menjatuhkannya — lewat angka, lewat hukum, lewat kebenaran. Bahwa ini bukan ambisi. Ini keadilan yang tujuh tahun tertunda.
Wira mendengarkan tanpa menyela, wajahnya semakin gelap dengan setiap kalimat. Ketika Renjana selesai, orang tua itu duduk diam untuk waktu yang lama, menatap kebun yang menggelap.
"Aku mencurigai Reksa busuk sejak dulu," katanya akhirnya. "Aku hanya tidak tahu seberapa dalam." Ia menatap Renjana. "Kau tahu, dunia ini penuh orang muda yang ingin menjadi kaya. Aku sudah melihat ribuan. Tapi kau—sejak awal kau berbeda. Kau tidak menginginkan uang. Kau menginginkan sesuatu yang lain, dan aku tidak pernah tahu apa. Sekarang aku tahu." Ia mengangguk pelan, sebuah keputusan terbentuk di wajah tuanya. "Aku berdiri di sampingmu, Renjana. Modalku, jaringanku, namaku — semuanya. Bukan karena aku mau perang. Tapi karena dalam hidupku yang panjang, aku terlalu sering berdiri di samping ketika seharusnya aku berdiri menentang. Aku tidak akan melakukan itu lagi di penghujung hidupku."
Renjana merasakan sesuatu menggumpal di tenggorokannya. Ia datang ke rumah ini siap kehilangan satu-satunya orang dewasa yang pernah mempercayainya. Alih-alih, ia mendapatkan sekutu — yang sukarela, dengan mata terbuka, mengetahui harganya.
"Terima kasih," katanya, dan kata itu terasa tak cukup.
"Jangan berterima kasih dulu." Wira mengangkat cangkir tehnya, sebuah upacara kecil. "Berterima kasih kalau kita menang. Dan kalau kita kalah—" senyumnya getir, "—setidaknya aku akan kalah dengan berdiri di sisi yang benar."
Renjana mengangkat cangkirnya juga. Di luar, malam turun penuh ke atas lereng timur, dan kota berkelip dingin di kejauhan.
Ia tidak tahu, saat itu, bahwa keputusan orang tua ini untuk berdiri di sampingnya kelak akan dibayar dengan harga tertinggi yang bisa dibayar siapa pun. Ia hanya tahu, untuk malam ini, bahwa ia tidak lagi sendirian — dan bahwa setiap orang yang ia tarik ke sisinya menjadi satu lagi nyawa yang ia pertaruhkan dalam perang yang ia mulai.
Sekutu adalah kekuatan. Tapi sekutu juga adalah luka yang menunggu untuk dibuka. Renjana meneguk tehnya, dan menyimpan kekhawatiran itu di tempat ia menyimpan semua kekhawatirannya: di balik wajah yang dingin, di belakang rencana yang terus bergerak, menuju vila di perbukitan utara tempat adiknya menunggu, tak tahu bahwa kakaknya datang.