Damar menunggunya di lift.
Renjana melihatnya begitu pintu kaca lobi tertutup di belakangnya — sosok besar berbahu lebar itu bersandar di dinding marmer dekat lift eksekutif, lengan bersedekap, menatapnya dengan mata yang tak pernah berkedip cukup. Tujuh tahun lalu, tangan itulah yang mengangkat tubuh Silla yang berusia tujuh belas dan membantingnya ke aspal sampai tulang rusuknya retak. Tangan yang sama kini memegang gelas kopi, sopan, seolah mereka kolega biasa.
Renjana tidak melambat. Melambat adalah pengakuan.
"Pak Damar," sapanya, menekan tombol lift. "Tumben menyambut di lobi."
"Kebetulan lewat." Damar masuk lift bersamanya. Pintu menutup. Mereka berdua, dalam kotak baja yang naik perlahan. "Pak Reksa minta saya pastikan semua yang dekat dengan beliau... bersih. Akhir-akhir ini banyak kebocoran."
"Kebocoran?"
"Manifes pelabuhan Hendra Lawu bocor ke bea cukai. Pembukuan internal tampak diutak-atik. Pak Reksa tidak suka kejutan." Damar menyesap kopinya, matanya tak pernah lepas dari wajah Renjana. "Dan kamu, Bu Renjana, akhir-akhir ini banyak bertanya tentang aset yang bukan urusanmu. Aset yang tidak menghasilkan. Properti di perbukitan utara. Vila."
Di sinilah pisaunya. Renjana merasakan adrenalin mengalir, tapi wajahnya tetap bosan, sedikit jengkel — ekspresi seorang profesional yang merasa waktunya dibuang.
"Aku mengaudit seluruh portofolio, Pak. Itu pekerjaanku. Pak Wira mengirimku ke sini untuk menilai kelayakan investasi Wijanarko Group sebelum komitmen modal lebih besar. Aset yang menyedot biaya tanpa pemasukan adalah lubang di neraca. Vila di perbukitan utara itu menghabiskan tiga ratus juta sebulan untuk apa? Tidak disewakan, tidak dijual, tidak dipakai. Dari sudut pandang investor, itu pemborosan — atau penyembunyian sesuatu." Ia menatap Damar lurus. "Kalau Pak Reksa keberatan aku tahu ada lubang di pembukuannya, mungkin pertanyaan yang lebih baik adalah: kenapa lubang itu ada di sana sejak awal?"
Lift berhenti. Pintu terbuka di lantai keuangan. Tak ada yang bergerak.
Damar menatapnya lama. Dalam tatapan itu Renjana melihat seorang pemburu yang sedang menimbang — apakah orang di depannya mangsa atau ancaman, apakah pertanyaan-pertanyaannya itu polos atau berbahaya. Damar bukan Hartono yang penakut, bukan Hendra yang serakah. Damar adalah binatang yang selamat dengan tidak pernah meremehkan.
"Pintar," kata Damar akhirnya. "Jawabanmu pintar."
"Itu bukan pujian, kan."
"Bukan." Damar tersenyum tipis, tanpa kehangatan. "Orang yang terlalu pintar menjawab biasanya sudah menyiapkan jawaban sebelum ditanya."
Renjana balas tersenyum, sama dinginnya. "Atau cuma terbiasa diinterogasi orang yang mencari kambing hitam. Kalau Pak Reksa benar punya kebocoran, Pak Damar, mungkin lihat ke arah orang yang punya akses ke manifes pelabuhan. Aku tidak. Aku bahkan tidak tahu Hendra Lawu sampai dua minggu lalu." Ia melangkah keluar lift, lalu berhenti, setengah menoleh. "Tapi kalau aku jadi Pak Damar — aku akan tanya kenapa Hendra tiba-tiba punya rekening yang tidak dilaporkan ke Pak Reksa. Orang yang menyembunyikan uang dari bosnya biasanya menyembunyikan hal lain juga."
Benih itu ia tanam dengan presisi seorang ahli bedah. Hendra memang menyembunyikan rekening — karena Renjana yang membuatnya tampak begitu, lewat aliran dana palsu yang ia susun bersama Kelana. Dengan satu kalimat, ia mengalihkan moncong kecurigaan Damar dari dirinya ke target yang sudah ia tandai untuk jatuh.
Damar tidak menjawab. Pintu lift menutup di antara mereka, dan wajah pria itu menghilang di balik baja.
Renjana berjalan ke ruangannya dengan langkah tenang, menyapa staf, menutup pintu. Baru setelah itu ia mengizinkan dirinya bersandar ke dinding dan menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.
Ia menang di ronde ini. Tapi ia tidak bodoh. Damar tidak datang ke lobi karena kebetulan. Damar datang untuk melihat matanya, mengukur detak jantungnya, mencari retakan. Dan meski Renjana tak memberinya retakan hari ini, ia tahu kebenaran yang lebih besar:
Mulai detik ini, ia adalah orang yang diawasi.
Damar akan memasang mata padanya. Memeriksa ke mana ia pergi, siapa yang ia temui, jam berapa ia pulang. Setiap gerakan menuju Dani kini harus dilakukan di bawah pengamatan tangan kanan Reksa — tangan yang dulu hampir membunuhnya, dan yang sekarang, jika menemukan kebenaran, akan menyelesaikan apa yang gagal tujuh tahun lalu.
Ia mengeluarkan ponsel sekali pakai, mengetik satu pesan untuk Kelana dan Arsa.
*Damar sudah curiga. Mulai sekarang anggap aku diawasi 24 jam. Tidak ada lagi pertemuan langsung. Hanya lewat jalur mati.*
Lalu ia hancurkan ponsel itu, menyimpan kepingannya untuk dibuang di tiga tempat berbeda. Kemenangan punya harga. Dan harga hari ini adalah kebebasannya untuk bergerak.