Pesan itu datang dengan cara yang sudah Renjana duga: tanpa peringatan, di malam yang ia kira aman.
Sebuah amplop, diselipkan di bawah pintu apartemen resminya saat ia keluar membeli makan. Tidak ada perangko, tidak ada nama. Di dalamnya, selembar kertas dengan satu baris tulisan tangan: Gudang yang sama. Tengah malam. Kita perlu bicara. — Kau tahu siapa.
Bagas.
Renjana berdiri di lorong apartemennya, memegang kertas itu, merasakan dingin yang familier. Komisaris pensiun itu — lelaki yang tujuh tahun lalu menutup kasus pembantaian keluarganya, yang menyatakan lima jenazah tewas dalam "kebakaran akibat korsleting", yang kemudian, beberapa minggu lalu, muncul dari kegelapan untuk mengaku bahwa ia tahu Silla hidup dan menawarkan persekutuan. Bagas yang putranya, seorang jaksa muda, dibunuh Reksa. Bagas yang memberinya flashdisk berisi berkas forensik asli dan satu peringatan yang masih menggantung di benaknya: tidak semua yang kau kira mati, mati.
Bagas berguna. Ia punya akses ke arsip kepolisian yang tidak dimiliki Renjana, koneksi lama, pengetahuan tentang bagaimana sistem itu bekerja dari dalam. Tapi Bagas juga, dan Renjana tidak pernah membiarkan dirinya melupakan ini, adalah salah satu dari empat nama di buku catatannya. Sekutu dan target dalam satu tubuh. Persekutuan dengan Bagas bukan kepercayaan; itu transaksi yang harus terus-menerus dihitung ulang.
Tengah malam, Renjana datang ke gudang itu. Tapi seperti biasa, ia datang dengan persiapan: Kelana mengawasi dari jarak jauh lewat ponsel yang Renjana letakkan di saku luar, sebuah siaran suara langsung; Renjana telah memeriksa pintu keluar darurat dua jam sebelumnya; dan di dalam mantelnya ada perekam, karena rekaman adalah satu-satunya bentuk kepercayaan yang ia berikan pada Bagas.
Bagas menunggunya di bawah satu lampu gantung yang berkedip, sosok tua dengan mantel kusam dan mata yang lelah oleh sesuatu yang lebih berat dari usia. Saat Renjana mendekat, lelaki itu tersenyum tipis, senyum tanpa kehangatan.
"Kau datang sendiri," kata Bagas. "Atau setidaknya kau ingin aku percaya begitu."
"Apa yang kau mau, Pak Bagas?"
"Langsung ke pokok. Bagus. Aku terlalu tua untuk basa-basi." Bagas melangkah mendekat, dan lampu yang berkedip membuat bayangannya bergoyang di dinding. "Aku ingin tahu kemajuan. Sudah berminggu-minggu sejak kita terakhir bicara. Hartono mulai goyah — aku punya telinga di kantor kejaksaan, aku dengar ada notaris yang ketakutan. Hendra Lawu, kabarnya, mulai diawasi orang-orangnya sendiri. Itu bukan kebetulan." Matanya menyipit. "Kau bergerak, Silla. Cepat. Lebih cepat dari yang kuduga. Dan aku ingin tahu ke mana kau bergerak — karena aku punya saham dalam permainan ini."
"Jangan panggil aku itu," kata Renjana dingin. "Nama itu mati di sungai tujuh tahun lalu."
"Tentu saja." Bagas mengangkat tangan, mengalah. "Renjana, kalau begitu. Tapi nama tidak mengubah fakta. Kau dan aku menginginkan hal yang sama. Reksa hancur. Bedanya, kau menginginkannya untuk keluargamu, dan aku menginginkannya untuk anakku." Suaranya retak sedikit pada kata anakku, dan untuk sesaat keletihan di wajahnya tampak nyata, manusiawi. "Reksa membunuh putraku karena ia mulai menyelidiki. Aku menghabiskan sisa hidupku menunggu seseorang yang cukup gila untuk menyerang Reksa dari dalam. Lalu kau muncul. Anak yang dibuang ke sungai, kembali sebagai hantu dengan dasi mahal. Kau adalah kesempatan terakhirku, dan aku tidak akan berdiri di pinggir lapangan menonton."
Renjana mengukurnya. Ada kebenaran di kata-kata Bagas — kedukaan seorang ayah tidak mudah dipalsukan. Tapi ada juga sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat tengkuknya menegang: Bagas terlalu ingin masuk ke dalam. Sekutu sejati menawarkan bantuan; Bagas menuntut keterlibatan. Dan keterlibatan, dari seseorang yang masa lalunya sekelam Bagas, adalah pintu yang berbahaya untuk dibuka.
Maka Renjana memberinya cukup untuk membuatnya merasa berguna, dan tidak lebih.
"Ada sebuah properti," katanya hati-hati. "Vila terpencil di perbukitan utara. Wijanarko menjaganya dengan biaya yang tidak masuk akal. Aku perlu tahu apa yang ada dalam arsip kepolisian tentang properti itu — laporan apa pun, kunjungan apa pun, izin apa pun, keluhan tetangga, apa saja yang pernah menyentuh kepolisian. Kau masih punya akses ke arsip lama. Itu tugasmu."
Mata Bagas tajam. "Vila? Untuk apa kau peduli pada—" Lalu sesuatu berubah di wajahnya, sebuah pemahaman yang datang terlalu cepat, dan ia berhenti. Untuk satu detik penuh, lelaki tua itu menatap Renjana dengan ekspresi yang tidak bisa Renjana baca — bukan keterkejutan, melainkan sesuatu yang lebih dekat pada... kepedihan. Atau rasa bersalah.
"Apa?" tuntut Renjana. "Kau tahu sesuatu tentang vila itu."
"Tidak," kata Bagas, terlalu cepat. Lalu, lebih pelan: "Tidak tentang vila itu secara spesifik." Ia memalingkan pandang ke arah kegelapan gudang, dan saat ia bicara lagi, suaranya berubah, lebih jauh, lebih tua. "Renjana, aku akan memberimu satu nasihat, gratis, dan kau bebas mengabaikannya. Tujuh tahun lalu, malam itu, ada hal-hal yang terjadi yang bahkan kau tidak melihatnya. Kau berumur tujuh belas. Kau melihat keluargamu mati. Tapi kau tidak melihat semua yang terjadi setelah kau dibanting ke aspal dan dibuang ke air." Ia menatap Renjana kembali, dan matanya basah dan keras sekaligus. "Aku melihat lebih banyak dari yang kuceritakan padamu. Suatu hari aku akan menceritakannya. Tapi belum. Karena kalau kau tahu semuanya sekarang, kau akan melakukan sesuatu yang bodoh sebelum waktunya. Dan aku butuh kau tetap hidup cukup lama untuk menjatuhkan Reksa."
Renjana berdiri sangat diam. Setiap insting di tubuhnya menyala. Bagas tahu lebih banyak — tentang malam itu, mungkin tentang vila, mungkin tentang Dani — dan ia memilih untuk menahannya. Itu bukan kebaikan. Itu kendali. Bagas menyimpan kebenaran sebagai mata uang, untuk dibelanjakan saat ia butuh tuas atas Renjana.
"Kau menyimpan rahasia dariku," kata Renjana pelan, "dan menyebutnya melindungiku."
"Aku menyimpan rahasia," koreksi Bagas, "karena rahasia adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap berguna bagimu, dan kita berdua tahu kau hanya menjaga orang yang berguna." Ia tersenyum, getir, jujur. "Aku salah satu nama di bukumu, bukan? Empat nama. Aku tahu bagaimana orang sepertimu berpikir, karena aku dulu juga berpikir begitu, sebelum dunia memakan semua yang kucintai. Kau akan memakaiku sampai aku tidak berguna lagi, lalu kau akan menjatuhkanku juga. Aku menerima itu. Tapi aku akan menentukan kapan aku berhenti berguna. Bukan kau."
Ia berbalik dan berjalan ke arah kegelapan, mantelnya yang kusam tertelan bayangan. Di ambang gelap, ia berhenti, tanpa menoleh.
"Aku akan mendapatkan arsip vilamu," katanya. "Tapi Renjana — saat akhirnya kau tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu, ingatlah bahwa aku punya kesempatan untuk membiarkanmu mati, dan aku tidak. Itu harus berarti sesuatu. Suatu hari kau akan butuh mengingat itu."
Lalu ia hilang.
Renjana berdiri sendiri di bawah lampu yang berkedip, jantung berdebar, perekam masih merekam di dalam mantelnya. Ia baru saja menambah sekutu pada timnya yang rapuh — Arsa, Kelana, Wira, dan kini, dengan enggan, Bagas. Tapi tiga dari empat itu menyimpan rahasia darinya, dan yang keempat adalah seorang anak muda yang masih meragukan apakah Renjana adalah orang baik atau orang jahat yang lebih pintar.
Bom waktu yang baru saja ditanam Bagas berdetak pelan di kepalanya saat ia berjalan keluar ke malam: apa yang dilihat lelaki tua itu malam itu, yang bahkan tidak ia berani ceritakan? Dan mengapa, dari semua kebohongan yang Bagas pernah ucapkan, kebohongan tentang membiarkan Silla hidup terasa seperti satu-satunya kebenaran?
Di atas kota Pradipa, lampu-lampu menara Wijanarko berkedip di kejauhan, dan di balik perbukitan utara, di balik tembok sebuah vila bernama Argapura, seorang anak laki-laki yang masih belum tahu kakaknya hidup menunggu dalam kegelapan yang dijaga dengan harga tiga ratus dua puluh juta rupiah sebulan.
Renjana menyalakan mobilnya. Babak pertama dari perang yang sebenarnya baru saja dimulai, dan ia sudah bisa merasakan jaring-jaring mulai menutup — miliknya, dan milik para pemburu di sekelilingnya.