Untuk mendekati Dani, Renjana sadar, ia harus menyentuh aliran darah Reksa, bukan otaknya. Dan aliran darah Wijanarko Group mengalir lewat pelabuhan.
Vila Argapura tidak berdiri sendiri. Tiga ratus dua puluh juta sebulan untuk menjaga seorang anak laki-laki berarti pasokan tetap — makanan, perlengkapan, mungkin obat-obatan, orang-orang yang datang dan pergi. Dan dalam jaring logistik Reksa, satu nama muncul berulang sebagai pengendali rute pasokan paling tertutup: Hendra Lawu, pengusaha pelabuhan, mitra logistik Reksa, lelaki yang menguasai dermaga tempat "barang gelap" Wijanarko lewat tanpa menyentuh bea cukai.
Renjana mempelajari Hendra Lawu selama seminggu, dan apa yang ia temukan membuatnya hampir tersenyum. Hendra adalah jenis penjahat yang paling mudah dijatuhkan: yang serakah dan yakin dirinya pintar. Ia memamerkan kekayaannya — mobil-mobil, rumah di tepi laut, perempuan-perempuan muda. Ia berbicara terlalu banyak saat mabuk. Dan, yang paling penting, ia tidak puas. Hendra merasa Reksa membayarnya terlalu sedikit untuk risiko yang ia tanggung, dan kebencian yang terpendam itu adalah celah yang lebih lebar dari pintu mana pun.
Renjana mendekatinya bukan sebagai musuh, melainkan sebagai uang.
Ia mengatur agar mereka bertemu di sebuah klub elite di tepi pelabuhan, lewat seorang perantara yang berutang budi pada Pak Wira. Renjana memperkenalkan diri sebagai apa adanya — penasihat keuangan dengan akses ke modal besar — dan menebar umpan yang persis dirancang untuk seorang lelaki serakah yang merasa dirinya kurang dihargai.
"Saya tidak akan berputar-putar, Pak Hendra," katanya, sambil memutar gelas yang tidak ia minum. "Saya mengelola dana yang mencari peluang infrastruktur pelabuhan. Saya sudah melihat operasi Anda. Anda mengangkut volume yang luar biasa lewat dermaga Anda." Ia membiarkan satu jeda yang penuh arti. "Lebih luar biasa, sebenarnya, daripada yang muncul di catatan publik."
Mata Hendra menyipit — bukan ketakutan, melainkan perhitungan. "Saya tidak yakin apa maksud Anda."
"Maksud saya," kata Renjana tenang, "bahwa lelaki yang mengangkut volume sebesar yang sebenarnya Anda angkut, untuk klien sebesar yang sebenarnya Anda layani, seharusnya jauh lebih kaya daripada Anda sekarang. Yang membuat saya bertanya-tanya apakah klien Anda — siapa pun dia — membayar Anda sepadan dengan risiko yang Anda tanggung. Atau apakah dia membiarkan Anda menanggung semua bahaya sementara dia menyimpan sebagian besar untung."
Ia melihat kata-kata itu mengena. Inilah seni manipulasi yang sebenarnya — kau tidak menyuruh seseorang merasakan sesuatu; kau menyebutkan sesuatu yang sudah ia rasakan diam-diam, dan kau memberinya izin untuk mengakuinya. Renjana tidak menanam kebencian Hendra pada Reksa. Kebencian itu sudah ada. Ia hanya menyiramnya.
"Dan Anda menawarkan apa?" tanya Hendra, suaranya kini lebih rendah, lebih hati-hati.
"Modal. Untuk memperluas operasi Anda secara sah. Dermaga kedua, gudang, izin yang bersih — sehingga Anda tidak selamanya bergantung pada satu klien yang menjadikan Anda bawahan." Renjana mencondongkan tubuh. "Saya tidak peduli pada urusan masa lalu Anda dengan klien Anda. Saya peduli membangun sesuatu yang menjadikan Anda raja Anda sendiri, bukan pelayan raja orang lain."
Itu, Renjana tahu, adalah kalimat yang akan menjebak Hendra. Bukan janji uang. Janji martabat. Seorang lelaki bisa menolak uang lebih banyak. Ia tidak bisa menolak kesempatan untuk berhenti merasa diremehkan.
Hendra menyesap minumannya, dan di matanya Renjana melihat impian membengkak — impian menjadi mitra setara alih-alih anjing penjaga, impian membalas Reksa yang selama ini memandangnya rendah.
"Ceritakan lebih banyak," kata Hendra.
Dan begitulah Renjana mulai menyusup ke dalam kesepakatan pelabuhan, bukan sebagai pencuri yang masuk lewat jendela, melainkan sebagai tamu yang diundang masuk lewat pintu depan oleh tuan rumah sendiri. Selama berminggu-minggu berikutnya, ia akan menjadi pemodal Hendra, mempelajari setiap manifes, setiap rute, setiap pejabat bea cukai yang disuap, setiap kargo yang lewat — termasuk, ia berharap, kargo yang menuju ke perbukitan utara, ke sebuah vila bernama Argapura.
Tapi malam itu, saat ia berjalan keluar dari klub ke udara malam yang asin, ia mengingatkan dirinya sendiri pada bahaya yang ia mainkan. Setiap rupiah yang ia investasikan pada Hendra meninggalkan jejak. Setiap pertemuan adalah riak di permukaan air yang sedang diawasi oleh setidaknya dua pasang mata: Damar, yang mencari kebocoran, dan Inspektur Larasati, yang mencari pola.
Ia sedang menanam bom waktu di jantung operasi Reksa. Pertanyaannya hanya apakah ia bisa cukup jauh saat bom itu meledak — atau apakah ia akan terbawa dalam ledakannya sendiri.
Hendra Lawu, lelaki yang serakah dan yakin dirinya pintar, baru saja mengundang serigala ke dalam kandangnya, dan menamainya investor.