Hartono berkeringat meski ruangan itu dingin.
Notaris itu duduk di seberang Renjana di sebuah kafe yang sengaja dipilih karena ramai — keramaian adalah perlindungan; orang tidak membunuh atau diculik di tengah dengung percakapan dan dentang sendok. Hartono mengaduk kopinya yang tidak ia minum, gula sudah larut sepuluh kali lipat, hanya untuk memberi tangannya sesuatu yang bisa dilakukan selain gemetar.
"Anda berjanji," kata Renjana pelan, "tiga minggu lalu. Akta asli pengalihan aset keluarga Mahendra. Yang Anda palsukan tujuh tahun lalu. Saya masih menunggu, Pak Hartono."
"Saya—" Hartono menelan. "Saya butuh waktu. Dokumen itu tidak disimpan di kantor saya. Itu di brankas yang—"
"Bohong." Renjana tidak menaikkan suaranya. Ia tidak perlu. "Anda menyimpan salinan semua yang Anda palsukan, karena seorang notaris yang memalsukan akta tanpa menyimpan bukti atas perintah siapa ia melakukannya adalah notaris yang akan dijadikan kambing hitam saat semuanya runtuh. Anda tidak sebodoh itu. Anda penakut, Pak Hartono, tapi Anda tidak bodoh. Penakut yang cerdas selalu menyimpan asuransi."
Hartono memucat, yang berarti Renjana benar.
Tujuh tahun lalu, lelaki ini adalah salah satu dari empat nama dalam buku catatan Silla. Damar yang membanting tubuhnya. Bagas yang menutup kasus. Reksa yang memerintahkan. Dan Hartono — Hartono yang, dengan goresan pena dan stempel resmi, menghapus keluarga Mahendra dari hukum, memindahkan rumah, tanah, dan tabungan mereka ke perusahaan-perusahaan cangkang Reksa seolah keluarga itu tidak pernah ada. Bramantyo Mahendra menghabiskan hidupnya menjadi akuntan jujur; Hartono menghabiskan satu sore mengubahnya menjadi nol di atas kertas.
Renjana sudah memiliki tuas pertama atas lelaki ini. Beberapa bulan lalu ia diam-diam membeli utang lama Hartono — pinjaman bermasalah yang notaris itu ambil untuk menutupi kerugian judi, utang yang sudah dijual oleh banknya ke pihak ketiga. Pihak ketiga itu, lewat tiga lapis perantara, adalah Renjana. Hartono berutang padanya, dan Hartono tahu itu. Tapi utang saja tidak cukup. Hartono lebih takut pada Reksa daripada pada kebangkrutan. Ketakutan pada kematian selalu mengalahkan ketakutan pada miskin.
Jadi Renjana harus membuat Hartono lebih takut pada sesuatu yang lain.
"Saya akan jujur pada Anda," kata Renjana, dan ia mencondongkan tubuh sedikit. "Saya tidak perlu Anda mati. Itu akan merepotkan. Saya hanya perlu dokumen itu. Berikan pada saya, dan utang Anda saya hapus, dan saya tidak akan pernah menyebut nama Anda lagi. Anda bisa pergi. Anda bisa menghilang. Saya bahkan akan membantu Anda menghilang."
"Anda tidak mengerti," bisik Hartono. "Reksa— Damar— kalau mereka tahu saya menyerahkan apa pun—"
"Mereka tidak akan tahu." Renjana menyandarkan punggungnya, dan sekarang nadanya berubah, dari hangat menjadi sedingin baja. "Kecuali, tentu saja, mereka mendengar dari saya bahwa Anda punya masalah utang. Bahwa seorang notaris yang menangani aset paling rahasia Wijanarko Group ternyata punya kreditur yang mengejar-ngejar, kekalahan judi, dan motif kuat untuk menjual rahasia demi melunasi utang." Ia membiarkan kata-kata itu mengendap. "Bayangkan apa yang akan dilakukan Reksa pada notaris yang ia anggap sebagai kebocoran. Bukan karena Anda bocor, tapi karena Anda terlihat seperti orang yang bisa bocor."
Wajah Hartono berubah dari pucat menjadi kelabu. Ia memahami, akhirnya, jebakan yang sebenarnya. Renjana tidak memberinya pilihan antara mengkhianati Reksa atau setia pada Reksa. Renjana memberinya pilihan antara menyerahkan dokumen pada Renjana, atau dibunuh oleh Reksa karena tuduhan yang akan Renjana bisikkan ke telinga yang tepat. Setia atau tidak, Hartono sudah ditandai. Satu-satunya jalan keluar yang menyisakan nyawanya adalah menyeberang.
Dua hari kemudian, "secara tidak sengaja," dalam sebuah percakapan santai dengan Reksa tentang risiko-risiko orang dalam, Renjana menyebut: "Omong-omong, saya dengar notaris Anda, Hartono, sedang dikejar penagih utang. Mungkin tidak ada apa-apa. Tapi orang yang putus asa karena uang melakukan hal-hal yang putus asa. Saya hanya menyarankan agar Anda memantau, dari sudut pandang manajemen risiko."
Reksa mengernyit. Renjana melihat benih itu jatuh ke tanah dan berakar. Sore itu juga, ia tahu, Reksa akan memerintahkan Damar mengawasi Hartono lebih ketat. Dan Hartono, yang sudah Renjana peringatkan, akan merasakan pengawasan itu mengetat seperti jerat di lehernya, dan akan tahu bahwa satu-satunya tangan yang menawarkan jalan keluar adalah tangan Renjana.
Malam ketiga, ponsel Renjana berdengung. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal, lalu sebuah lokasi: sebuah loker stasiun bus antarkota, nomor 47, kombinasi terlampir.
Di dalam loker 47, dibungkus map cokelat biasa, ada akta itu. Asli. Stempel resmi, tanda tangan Hartono, tanggal tujuh tahun lalu — tertanggal dua hari setelah keluarga Mahendra dibantai. Pengalihan seluruh aset Bramantyo Mahendra ke sebuah perusahaan bernama PT Sentosa Argapura, salah satu cangkang Wijanarko.
Renjana berdiri di stasiun yang bising, memegang selembar kertas yang, tujuh tahun lalu, telah membunuh keluarganya untuk kedua kalinya — di atas kertas, setelah mereka dibunuh dalam daging. Tangannya tidak gemetar. Tapi untuk waktu yang lama ia hanya berdiri di sana, di tengah orang-orang yang berlalu lalang dengan koper dan kehidupan biasa mereka, memegang bukti pertama yang benar-benar nyata.
Argapura. Nama yang sama dengan vila tempat adiknya disekap. Reksa bahkan tidak repot mengganti nama. Kesombongan, lagi-lagi. Kesombongan adalah satu-satunya hal yang lebih dapat diandalkan dari Reksa Wijanarko daripada kekejamannya.
Ia menyimpan akta itu di dalam mantelnya, dekat dengan dada.
Janji Hartono akhirnya terbayar. Satu nama di buku catatan, belum dicoret — tapi sekarang tertusuk.