Hujan turun deras malam itu, seolah langit tahu apa yang akan terjadi dan memilih menangis lebih dulu.
Silla Mahendra berdiri di balkon lantai dua rumahnya, menatap deretan mobil hitam yang berhenti satu per satu di pekarangan. Usianya baru tujuh belas tahun, dan ia belum cukup tua untuk memahami bahwa sebuah keluarga bisa hancur hanya dalam satu malam.
"Papa menunggu siapa?" tanya Silla, masuk ke ruang kerja ayahnya.
Bramantyo Mahendra, lelaki yang biasanya tegas dan tenang, kini tampak pucat. Tangannya gemetar saat menutup laptop. "Tidak ada, Nak. Masuk kamar, ya. Malam ini... jangan keluar."
"Tapi Papa berkeringat. Papa tidak pernah berkeringat."
Ayahnya tersenyum getir. Ia mengusap kepala putrinya, lalu menatapnya lama, seakan ingin merekam wajah itu untuk selamanya. "Silla, kalau ada apa-apa, kamu lari. Jangan menoleh. Jangan percaya siapa pun yang malam ini tersenyum padamu. Mengerti?"
Silla tidak mengerti. Belum.
Pintu ruang kerja terbuka tanpa diketuk. Seorang pria masuk dengan langkah santai, mengenakan jas mahal yang basah di bahunya. Wajahnya familiar—Om Reksa. Rekan bisnis ayahnya, yang dua minggu lalu masih makan malam di meja keluarga mereka, yang membawakan Silla cokelat impor dan menyebutnya "calon menantu" sambil tertawa.
"Bram," kata Reksa, suaranya lembut seperti beludru. "Kau seharusnya tidak mengirim laporan itu ke kepolisian."
"Aku tidak punya pilihan," jawab Bramantyo. "Kau mencuci uang lewat perusahaan kita. Aku tidak mau anak-anakku mewarisi penjara."
"Sayang sekali." Reksa menggeleng pelan. "Mereka akan mewarisi sesuatu yang jauh lebih buruk."
Saat itulah Silla mendengar suara pertama dari bawah. Pecahan kaca. Lalu teriakan ibunya. Lalu sesuatu yang bahkan tujuh tahun kemudian tidak pernah ia berani sebut dengan kata-kata.
"Lari, Silla!" Ayahnya mendorongnya keluar lewat pintu samping. "LARI!"
Ia lari. Kaki telanjangnya menapak lantai marmer yang dingin, lalu rumput basah, lalu lumpur. Di belakangnya rumah yang ia tinggali sejak lahir mulai dijilat api. Ia mendengar tembakan—dua, tiga, ia berhenti menghitung.
Silla berlari ke gerbang belakang, tapi seseorang menangkapnya. Tangan besar mencengkeram lengannya, membantingnya ke aspal. Kepalanya membentur trotoar. Dunia berputar.
"Yang ini masih kecil," kata sebuah suara di atasnya.
"Habisi saja. Bos tidak mau saksi."
Sesuatu menghantam rusuknya. Lalu kepalanya lagi. Silla merasakan darah hangat mengalir ke matanya, mengaburkan dunia menjadi merah dan hitam. Ia melihat sepatu kulit mengilap berdiri di dekat wajahnya—sepatu Om Reksa.
"Kasihan," gumam Reksa, berjongkok. Ia menyentuh dagu Silla dengan ujung jari, hampir lembut. "Kau punya mata ayahmu. Keras kepala. Tapi keras kepala tidak menyelamatkan siapa pun." Ia bangkit. "Buang dia di sungai. Biar dikira tenggelam."
Mereka kira Silla sudah mati saat melemparnya.
Mereka salah.
Air sungai yang dingin menamparnya kembali sadar untuk sepersekian detik—cukup untuk membuat instingnya bekerja, cukup untuk membuatnya mencengkeram akar pohon di tepi sungai sebelum arus membawanya pergi. Ia tidak ingat bagaimana ia keluar dari air. Ia tidak ingat berapa lama ia merangkak di sepanjang tanggul. Yang ia ingat hanyalah satu hal, satu kalimat yang berputar di kepalanya yang remuk seperti mantra:
Aku tidak akan mati. Tidak sebelum mereka tahu siapa aku.
Saat fajar menyingsing, seorang pemulung tua menemukan tubuh seorang gadis tergeletak di kolong jembatan, napasnya tinggal satu-dua, tapi matanya—matanya terbuka, menatap langit kelabu dengan tatapan yang sama sekali bukan milik anak tujuh belas tahun.
Itu tatapan seseorang yang sudah memutuskan untuk hidup.
Hanya demi satu hal.