Happy Reading Gyus....
Di dalam sebuah kamar, gadis yg bernama Luna. Ia sedang bercermin sambil merapihkan baju seragamnya. Dengan senyum yg mengembang sempurna.
Ia berkata dalam hati "Semoga hari ini akan menjadi hari yg lebih baik lagi di banding sebelumnya. Cukup sudah gue ngerasain semuanya, berharap hari akan menjadi hari yg membahagiakan dan bisa gue kenang." Ada rasa sedih yg Luna rasakan dalam kata' tersebut.
"Tinggal apa lagi ya, yg belum?" Gumamnya sambil melihat' isi tasnya yg terletak di atas meja belajrnya. "Kayaknya udah semua Oke! Tinggal turun ke bawah" Luna pun turun tangga ke bawah untuk sarapan bersama keluarganya.
Setelah sampai di meja makan, Luna pun menemukan Buk Asih seorang diri sambil memindahkan makanan ke meja makan.
Oh ya gue mau ngasih tau. Kalo di sini peran Buk Asih adalah sebagai ART. Pasti kalian bertanya' kenapa Bi Asih bisa di panggil dengan sebutan "Buk" oleh Luna, ye kan? Karna,,, si Bi Asih ini selalu ada buat Luna dalam ke adaan apapun. Jadi Luna tuh kek merasa nyaman gitu buat Sharing cerita ke Bi Asih ini. Makannya Luna manggil Bi Asih dgn Sebutan Buk.
"Pagi Bu"
"Pagi non"
"Aish, si ibu. Kan udah Luna bilang jangan manggil aku dengan sebutan non."
"Hehehe... lupa Lun ibu" tawa buk Asih sambil menampakan gigi ompongnya. "Yaudah atuh Lun... kamu teh makan ya, biar Ibu siapin."
"Sarapan buk, bukan makan." Ucapnya dengan nada rendah.
"Oh ya? Emang apa bedanya Lun?"
"Ya beda lah buk, kalo Makan itu hmm... kaya makan siang sore atau malam. Sedangkan Sarapan itu, Untuk di Pagi hari."
"Hmmm... buk. Kayaknya aku mau bekel aja deh buk. Udah mau jam 7 nih, takut telat."
"Yaudah deh, ibuk siapin bekelnya" Bu Asih pun menyiapkan roti sandwich kedalam kotak makan dan memberikannya pada Luna. "Nih Lun"
"Makasih ya Buk" ucap Luna sambil memasukan bekal tersebut kedalam tasnya.
Tiba-tiba Sepasang suami istri masuk ke ruang makan bersama seorang gadis. Gadis tersebut beranama Gadis.
Inget woi jan bingung, itu tuh gadisnya Namanya Gadis. Kok jadi gw yg kek bleon gitu ya? Auah bagen. Inti nya mah tuh bocah namanya "Gadis Deliana Setya". Dah itu nama lengkapnya.
Ke 3 orang tersebut datang melewati Luna tanpa sekedar mengucapkan sapaan pagi. Dan duduk di kursi makan masing-masing.
Setelah duduk di kursi makan mereka pun makan dengan Khidmat tanpa adanya percakapan dan hanya terdengar dentuman suara antara sendok dan piring yang bergesekan.
Hingga akhirnya Luna pun mengeluarkan suara.
"Pah, Mah. Luna pergi ke sekolah dulu ya."
Sambil berjalan ke arah bangku mereka untuk salim kepada Orang tua nya.
Pertama yg ia salimi adalah Papah nya yg hanya memasang wajah datar. Sesampainya di 'Mawar' (Mamah Luna & Gadis) pun hendak memegang 'tangan nya namun sudah keburu di hempas duluan oleh Mawar. Dan Mawar pun menatap ke arah Luna sinis sambil berucap.
"Gausah pegang' tangan saya. Ntar kotor. Kalo kotor saya harus cuci tangan lagi. Jadi gk usah pegang' tangan saya. Sana berangkat. Toh juga saya tidak peduli."
Setelah mengucapkan itu Mawar pun kembali melanjutkan acara makannya yg sempat tertunda.
Dalam hati Luna pun berkata.
'Sabar lunn.. sabar. Ini masih pagi'
Setelah mengucapkan itu Luna pun pergi ke dapur untuk menyalimi Buk Asih dan ber pamitan.
Sampai di dapur Luna menghampiri buk Asih yg sedang mencuci piring.
"Bu, Luna pergi sekolah dulu ya."
"Eh, iya Lun. Luna berangkat aja sana. Tangan bibi basah, hati² ya di jalan Lun."
"Iya buk. Luna berangkat dulu, Assalamualaikum. "
"Wa'alaikum salam "
Setelah menghampiri Bi Asih. Luna pun melewati meja makan dan berhenti sejenak menatap Papah dan Mamah nya.
Meraka yg merasa di tatap menyadarinya, menatap Luna dengan dingin dan seolah' tidak terjadi apa' . Dan beralih menatap Gadis yg menatapnya sinis. Setelah selesai acara sesi tatap menatap nya Luna pun melangkah menuju pintu dengan senyum manis nya.
Namun baru saja melangkah, Luna di berhentikan dengan suara seorang wanita paruh baya.
"Ga usah sok senyum. Sadar diri. Kamu tuh jelek. Paling juga yg nemenin kamu anak jalanan" Ucap Mawar sambil tersenyum kecut. Yg hanya di balas oleh Senyuman manis dengan Luna.
Luna pun keluar dari rumahnya menuju garasi untuk mengambil sepeda sebagai alat transportasi sekolah nya.
Perlahan tapi pasti Luna menaiki sepada dan mengayuh kan sepedanya dengan kecepatan rata'. Meninggal kan halaman rumah dan menusuri jalan komplek perumahan.
"Kring... kring...kring..." suara bel sepada pun terdengar. Namun tak membuat Luna menghentikan laju sepadanya.
Hingga sebuah teriakan terdengar."Hei... kamu!!!" Seru seorang gadis tersebut.
Merasa dirinya di panggil Luna pun perlahan menepikan sepada nya. Lalu, mengahadap kebelakang melihat siapa sosok yg memanggilnya.
Terlihatlah seorang gadis berambut panjang terseyum manis pada Luna dengan menampakan gigi putihnya.
Gadis tersebut berhenti tepat di samping Luna, masih dengan menampakan senyumnya. Ia turun dari sepeda dan menghampiri Luna yg masih terdiam di atas sepada nya tanpa mengatan sepatah kata pun.
"Hai... loh sekolah di SMP Mars kan?"
"Tau dari mana?"
Gadis tersebut hanya menghembuskan nafas nya kasar.
"Yakan gue sama luh seragamnya sama Momz..."
"Oh... terus ngapain luh manggilin gue?"
"Ya.. berangkat bareng lah... biar ada temennya. Siapa tau satu kelas"
"Oh... yaudah"
"Huft.... sabar... dia manusia. Kalo bukan udah gue gampar kali make raket nyamuk"
"Oh gitu... kalo gw bukan manusia luh mau nabok gue make raket nyamuk?" Ucap Luna sambil menaikan satu alisnya.
"Iya kenapa? "
"Mana raket nyamuknya?"
"Ya-ya.. ya... udah lah mendung"
"Hmm..."
"Eh btw kita belum kenalan loh... kenalin gw Meisya" sambil mengulurkan tangannya. Dan untuk mengalihkan pembicaraan. Kalo di lanjut akan terjadi perang. Kan ngga lucu baru masuk sekolah udah tinggal nama.
Yang di ajak berjabat tangan pun hanya menatap Meisya dengan tatapan aneh. Seolah' menanyakan "apa maksud orang di depannya ini?" Dengan menaikan satu alisnya.
Meisya yg merasa tidak di balas uluran nya pun akhirnya melambai kan tangannya di depan wajah Luna. Namun Luna hanya menatapnya dingin dan datar. Hingga akhirnya-
"Dor!!!"
Sentak Meisya pada bahu Luna dengan tangan kirinya dan tangan kanan yg masih setia mengulurkan tangannya. Luna pun hanya mengerjapkan matanya beberapa kali, hingga akhirnya tersadar.
"Dih, ngartis. Ngga mau bales uluran tangan gw. Yodah kalo ngga mau gw mau berangkat sekolah dulu. Bye"
Baru saja Meisya membalikan badannya dan Belum sempat Meisya melangkahkan kakinya. Sebuah tangan mencekal tangan kirinya. Terdengar suara mengucapkan kata-
"Bentar. Luna Sahara. Yodah kita berangkat bareng."
"Bentar-bentar.... nama luh... Luna Sahara?"
Luna pun hanya mengangguk sebagai jawaban.
Mendapat jawaban dari Luna, Meisya pun merasa Dejavu dan Familiar dengan namanya. Karna waktu sudah dekat dengan jam masuk sekolah Meisya pun tak ingin memikirkannya lama'.
Mereka ber dua pun melajukan sepeda nya menuju SMP Mars.
Skip Sekolah.
----------------
70.00 wib.
Semua para siswa SMP Mars berkumpul di lapangan utama menggunakan NameTake yg di kalungkan di lehernya. Untuk melakukan ke wajiban upacara bendera dan pelantikan Mahasiswa/i baru.
½ jam berlalu.
"Sekian dari bapak. Terimakasih, Wassalam "
"Huft..."
"Lama amat si"
"Panas tau ngga, ntar kulit gw item gimana? "
"Ngomong kek jalan kereta"
"Ngasih amanat ngga kira²"
"Bla...bla..bla..."
Begitulah kurang lebih ocehan para siswa setelah di istirahatkan.
Setelah menjalankan upacara bendera di lanjut dengan pelantikan Mahasiswa/i baru dan pelepasan NameTake.
Waktu sudah berjalan selama 30 menit. Sekarang waktunya di panggil absen wanita berambut panjang nan legam tersebut.
"Luna Sahara "
Gadis itupun maju menghampiri kepala sekelah untuk melepas Name Take nya. Dan di selingi acara salam'an oleh para Guru dan Osis'
Acara pun selesai. Semua parasiswa berkerumun di depan mading untuk melihat nama mereka berada di kelas mana. Luna sudah sampai di depan mading, ia melihat dan mengabsen satu persatu lembar kertas namun tidak di temukan namanya.
Hingga lembar kertas terakhir Luna melihat nama nya di atas nama Meisya? Apakah gadis itu akan duduk sebangku dengan nya? Apakah gadis itu terlalu bodoh untuk memasuki kelas itu? Ah... sudahlah rasanya pusing memikirkan gadis cerewet seperti itu.
Huft... Luna pun menghembuskan nafasnya kasar dan berusaha untuk membelah para laut manusia di sini. Rasanya sesak sekali. Dengan menyenggol sana sini dan hampir saja badannya terhuyung. Namun ia masih bisa menyeimbangkan. Setelah terbebas dari kerumunan, Luna pun segera mencari kelasnya. 7E. Yap! Ia berada di kelas 7E. Kelas dimana yg berisi anak badung semua.
'Tap...tap..tap...' langkah Luna terhenti di depan kelas yg ia tuju. Tanpa ba,bi,bu Luna segera masuk ke kelas, tak mempedulikan tatapan orang' kelas yg menatapnya. Ia pun lebih memilih untuk duduk di pojok belakang kanan bangku. Alasannya simpel. 'Untuk bisa tidur saat bosan belajar' ya! Gadis itu selalu seperti itu.
Bersambung.
DyaSya