Deglan menunggu tiga hari sebelum mengatakan nama itu kepada Vance, dan tiga hari itu adalah perang dalam dirinya sendiri.
Karena mengatakan nama Elias Crane berarti membuka pintu yang ia kira sudah terkunci empat tahun lalu. Itu berarti mengakui bahwa pekerjaan di Hollow Bend—pekerjaan yang membuatnya kaya, yang membuat Vance memandangnya bukan sebagai anjing tapi sebagai mitra dalam dosa—belum tuntas. Bahwa salah satu dari tiga pengawal di gerbong itu tidak mati dan tidak membusuk di penjara teritorial tapi kembali, dengan mata yang masih mengingat, ke kota tempat segalanya disusun. Dan Deglan tahu, dengan naluri orang yang sudah lama hidup di antara orang berbahaya, bahwa Vance tidak akan menyalahkan Crane untuk kelalaian ini. Vance akan menyalahkan dia. Anjing yang gagal menyelesaikan perburuannya.
Tapi diam lebih berbahaya. Crane sudah membobol brankas. Crane sudah merobek halaman. Crane sudah menyebar—Deglan tidak tahu seberapa jauh, tapi cukup jauh sehingga rumor bonanza Coyote menggigit Vance dan menumpahkan darah Wickett. Kalau Crane bergerak dan Vance tidak tahu siapa yang bergerak, dan kemudian semuanya runtuh, maka Deglan yang gagal memperingatkan akan bukan hanya kambing hitam—ia akan jadi pengkhianat. Dan Vance memperlakukan pengkhianat lebih buruk daripada orang gagal.
Maka pada malam keempat, Deglan masuk ke kantor pribadi Vance di lantai atas bank, ruang dengan timbangan kuningan besar dan brankas besi dan jendela yang menghadap ke jalan utama tempat seluruh kota dapat dilihat seperti papan catur, dan ia mengatakannya.
"Penyusup itu," kata Deglan. "Yang membobol brankasmu. Aku tahu siapa dia."
Vance tidak mengangkat kepala dari pembukuan yang sedang ia tutup. "Pendulang itu. Teller."
"Teller tidak pernah ada." Deglan menarik napas. "Namanya Elias Crane."
Untuk waktu yang lama Vance tidak bergerak. Pena di tangannya berhenti di atas kertas, setetes tinta tergantung di ujungnya, lalu jatuh dan menyebar menjadi noda hitam kecil di pinggir halaman. Vance menatap noda itu, dan Deglan menatap Vance, dan di antara mereka ruang itu menjadi sangat hening sehingga detik jarum jam besar di dinding terdengar keras seperti pukulan palu.
Lalu Vance bicara, dan suaranya tidak berubah, tapi sesuatu di bawahnya telah berubah. "Pengawal kawat dari Meridian."
"Yang selamat. Yang dipenjara."
"Yang dipenjara," ulang Vance pelan, "karena kau, dan aku, dan secarik kertas, memutuskan ia bersalah atas hal yang kita lakukan." Ia menutup pembukuan. Untuk pertama kali dalam empat tahun, Sterling Vance—penaksir terpandang, dermawan, lelaki yang tanda tangannya menentukan nasib ratusan orang—merasakan sesuatu yang nyaris ia lupakan rasanya. Bukan kemarahan. Kemarahan adalah api yang ia kenal dan kuasai. Ini lebih dingin. Ini ketakutan, dan ketakutan terasa asing di tubuh seseorang yang sudah bertahun-tahun memiliki segalanya.
Karena Vance memahami, dalam satu kilatan yang lengkap dan mengerikan, apa arti Elias Crane yang hidup dan kembali. Setiap orang lain di kota tahu sebagian. Lyle tahu tentang dua buku. Notaris tahu tentang stempel. Quill tahu tentang berkas palsu. Tapi tak satu pun dari mereka tahu seluruhnya, dan tak satu pun punya alasan untuk mempertaruhkan nyawa membongkarnya. Crane berbeda. Crane adalah satu-satunya orang hidup yang tahu bahwa perampokan kereta Meridian adalah sandiwara, bahwa muatan yang "hilang" masuk ke brankas Vance keesokan paginya, bahwa dua pengawal—Crane akan ingat nama mereka, Vance tidak pernah repot menghafalnya—mati bukan karena perampok jalanan tapi karena perintah dari kantor ini. Crane bukan korban yang bisa ditakut-takuti. Crane adalah saksi yang punya empat tahun untuk membusukkan dendamnya menjadi sesuatu yang lebih keras dari dendam: keyakinan, dan kesabaran, dan bukti.
"Aku ingin dia mati," kata Vance.
Deglan mengernyit, dan ini—Deglan menyadarinya bahkan saat ia merasakannya—adalah kesalahan Vance yang pertama. "Dia sudah jadi buron. Sudah ada hadiah. Tangkap dia, serahkan ke marsekal, biar dia digantung secara sah sebagai perampok kereta yang kabur. Bersih. Tidak ada yang bertanya."
"Tidak." Vance bangkit dari kursinya dan berjalan ke jendela, menatap ke bawah ke jalan utama tempat kota tidur di bawah kekuasaannya. "Kalau ia ditangkap hidup, ia bicara. Di hadapan marsekal, di hadapan hakim luar yang mungkin tidak kumiliki, di hadapan siapa pun yang mau mendengar. Ia tidak akan diam dan menerima tali untuk kedua kalinya. Ia akan bicara, dan ia tahu hal-hal yang—" Vance berhenti. "Aku ingin dia mati sebelum ia bisa bicara. Tidak ditangkap. Mati."
Dan di sinilah Deglan, lelaki yang telah membunuh atas perintah selama bertahun-tahun, merasakan getaran kecil pertama dari sesuatu yang menyerupai keberatan—bukan moral, ia tidak punya banyak moral, tapi perhitungan. Karena membunuh buron yang sah lebih berisiko daripada menyerahkannya. Membunuh Crane berarti membungkam mulut, ya, tapi juga berarti meninggalkan mayat, dan mayat mengundang pertanyaan, dan pertanyaan adalah hal yang selama ini mereka hindari dengan kertas, bukan dengan darah. Vance, yang selalu menang dengan timbangan dan tanda tangan, kini ingin menang dengan timah. Keserakahannya untuk menghapus satu ancaman membuatnya melupakan aturan yang telah membuatnya kaya: jangan pernah tinggalkan jejak yang tak bisa kau timbang.
"Akan kuurus," kata Deglan akhirnya. Tapi ketika ia menuruni tangga keluar dari bank malam itu, ia memikirkan bukan tentang bagaimana membunuh Crane, melainkan tentang seberapa dalam ia sendiri sudah masuk ke dalam dosa orang ini, dan apa yang akan terjadi padanya bila dosa itu suatu hari ditimbang.