Kabar itu datang sembilan hari kemudian, dan datang dengan cara yang membuat Elias tahu kebenarannya sebelum kalimat itu selesai diucapkan.
Seorang penggembala yang membawa ternak melewati jalur barat datang ke saloon Pearl dengan wajah yang ingin menceritakan sesuatu yang mengerikan kepada siapa pun yang membelikannya minum. Pearl membelikannya, dan mendengarkan dengan wajah datar seorang pemilik saloon yang sudah mendengar segala macam cerita, dan kemudian datang ke gudang dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya.
"Pruitt," katanya, dan ia tidak perlu mengatakan lebih.
"Di mana," kata Elias. Bukan pertanyaan. Sebuah berat yang sudah ia rasakan turun.
"Di ngarai sempit dua hari ke arah barat. Tempat jalan menyempit di antara dua tebing. Penggembala itu menemukan gerobaknya terbalik, kudanya hilang, barang-barangnya berserakan—panci, kain, garam tumpah ke tanah. Dan Pruitt di sampingnya." Pearl menelan sesuatu. "Mati. Mereka bilang dirampok. Tapi penggembala itu bilang sesuatu yang aneh. Barang-barangnya berserakan tapi tidak ada yang dicuri. Panci masih ada. Kain masih ada. Bahkan dompetnya, kata penggembala, masih di sakunya, isinya utuh."
Elias berdiri sangat diam.
"Perampok tidak meninggalkan dompet," lanjut Pearl, suaranya rendah dan keras. "Perampok tidak mengambil seekor kuda dan meninggalkan uang. Ini bukan perampokan, Teller. Ini—"
"Penggeledahan," kata Elias. "Seseorang menjungkirkan gerobaknya bukan untuk mencuri. Untuk mencari. Untuk menemukan satu hal di antara semua barang itu, dan ketika mereka menemukannya, mereka tidak peduli pada sisanya." Ia menutup matanya. "Surat itu hilang."
Mereka berdua tahu apa artinya, tapi Hu, yang masuk di tengah percakapan dan mendengar sisanya, mengucapkannya keras karena seseorang harus.
"Vance tahu," kata orang tua itu. "Bukan tahu apa isi surat itu, mungkin. Tapi tahu bahwa seseorang di Cedar Gulch mencoba menghubungi otoritas di luar kota. Dan dia menjaga jalur keluar serapat dia menjaga brankasnya."
Elias merasakan rasa bersalah datang lebih dulu daripada ketakutan, dingin dan akrab. Pruitt bukan orang Vance. Pruitt tidak peduli. Pruitt cuma lewat—dan justru karena ia cuma lewat, karena ia tak punya bagian dalam permainan ini, ia mati membawa surat yang bukan miliknya. Seorang pedagang panci dan garam, mati di ngarai sempit untuk angka-angka troy ounce yang tak pernah ia baca.
"Aku yang membunuhnya," kata Elias pelan.
"Tidak." Pearl menatapnya keras. "Vance yang membunuhnya. Jangan kau ambil itu. Kita sudah cukup membawa beban tanpa kau memungut yang bukan milikmu juga." Tapi suaranya, di balik kekerasannya, retak sedikit, dan Elias tahu ia memikirkan hal yang sama: berapa banyak lagi orang yang cuma lewat akan mati sebelum ini berakhir.
Ia duduk lama dalam keheningan gudang, dan ketika ia akhirnya bicara, suaranya telah berubah—lebih keras, lebih dingin, sebuah logam yang telah ditempa ulang.
"Aku salah mengira jalannya," katanya. "Aku mengira jalan menuju keadilan adalah mengirim surat keluar, melompati Vance, mencapai tangan yang bersih di kejauhan. Tapi Vance sudah memikirkan itu sebelum aku. Dia menjaga setiap jalur keluar. Pos adalah matanya. Pedagang yang lewat adalah taruhannya. Jalan ke marsekal mungkin tidak bisa kuseberangi dengan kertas, karena kertas harus melewati ngarai, dan ngarai adalah miliknya."
"Maka apa," kata Pearl. "Kita menyerah pada keadilan luar?"
"Tidak." Elias mengangkat kepalanya, dan di matanya ada sesuatu yang Pearl mulai kenali—pergeseran, perhitungan ulang, seorang lelaki yang sedang memindahkan beban dari satu cawan ke cawan lain. "Tapi aku berhenti mencoba mengirim kebenaran keluar dari kandang yang ia jaga. Kalau aku tidak bisa membawa surat menembus ngarainya, maka aku harus melakukan sesuatu yang lebih sulit dan lebih bersih. Aku harus membuat Vance sendiri membuka jalan keluar itu. Membuat keserakahannya menarik perhatian yang tidak bisa ia bungkam."
Ia belum tahu bentuknya. Tapi satu hal telah mengeras dalam dirinya, sekeras nama yang tertulis di nisan: setiap jalur lurus menuju keadilan dijaga oleh tangan yang dibeli. Maka ia harus berhenti berjalan lurus. Ia harus membuat mesin itu, dengan kelaparannya sendiri, menggali lubang yang akan menelannya. Dan untuk itu, ia menyadari dengan dingin, ia harus mulai berpikir lebih seperti Vance daripada yang pernah ia izinkan dirinya berpikir.
Di luar, jauh di barat, di ngarai sempit di antara dua tebing, seorang pedagang panci dan garam terbaring dengan dompet yang utuh dan sebuah surat yang hilang, dan Elias menambahkan namanya, diam-diam, ke daftar utang yang ia bawa—di samping Tom, di samping Gantry, di samping Daniel Ames, di samping Will. Daftar yang, ia bersumpah, akan ia bayar lunas dengan kebenaran, bukan dengan lebih banyak darah.