Mengejar orang, Elias menemukan, lebih lambat daripada mengejar emas. Emas diam di satu tempat sampai kau menimbangnya. Manusia bergerak, berbohong, menyembunyikan diri di balik kebiasaan, dan untuk membaca seseorang kau harus menontonnya cukup lama sampai ia lupa sedang ditonton.
Maka Elias mulai menonton Sheriff Macklin.
Ia tidak bisa melakukannya sebagai Amos Teller yang berkeliaran di dekat kantor sheriff; itu hanya akan menanam kecurigaan yang sama yang ditanam Deglan di dadanya. Maka ia menontonnya seperti seorang pendulang menonton cuaca—dari kejauhan, lewat tanda-tanda kecil, lewat orang lain. Pearl punya mata di setiap meja saloon, dan meja kartu adalah tempat seorang lelaki menumpahkan dirinya tanpa sadar.
"Macklin minum di tempatku tiga kali seminggu," kata Pearl, suatu pagi di gudang. "Selalu pojok yang sama, selalu membelakangi dinding. Tidak pernah mabuk total—dia terlalu takut untuk itu—tapi cukup untuk bicara. Dan yang dia bicarakan, kalau kau dengarkan, selalu sama. Utang."
"Utang judi?"
"Bukan. Itu yang membuatnya menarik." Pearl menuang kopi pahit. "Macklin tidak judi. Dia tidak minum sampai miskin. Dia bukan orang jahat yang serakah, Teller. Dia orang takut yang terjebak. Dan yang menjebaknya bukan kartu. Sesuatu yang lebih tua."
Elias menyimpan itu. Selama berhari-hari ia menyusun potongan-potongan: dari Pearl, dari Hu yang mengenal kota ini sejak sebelum Vance datang, dari seorang juru tulis tua yang lidahnya longgar oleh wiski Pearl. Pelan, gambar itu mengeras.
Macklin datang ke Cedar Gulch sembilan tahun lalu, sebelum demam emas kedua, sebagai deputi muda di kota lain bernama Drybone. Di sana, kata juru tulis tua itu, sambil terkikik atas kartu, ada sesuatu—sebuah pengiriman dana yang lenyap di bawah pengawasan Macklin, seorang tahanan yang mati di selnya dengan cara yang tak pernah dijelaskan, sebuah skandal yang seharusnya menggantungnya. Tapi Macklin tidak digantung. Ia berpindah ke Cedar Gulch dengan lencana baru dan masa lalu yang bersih, dan satu-satunya orang di seluruh wilayah ini yang memegang berkas asli Drybone—surat-surat, kesaksian, bukti yang bisa membongkar semuanya—adalah lelaki yang membelinya dari arsip teritorial dengan uang dan tangan Cornelius Quill.
Sterling Vance.
Elias duduk lama dengan kebenaran itu di tangannya, memutarnya seperti memutar batangan curian di bawah cahaya. Macklin bukan jahat sejati. Macklin adalah pengecut yang membeli kebebasannya dengan ketaatan, dan Vance memegang tali itu seperti memegang segel timah—diam, di laci, tak perlu diayunkan kecuali tali itu mulai mengendur.
"Itu sebabnya ia patuh," kata Elias pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Vance tidak membayar Macklin. Vance memilikinya. Selama berkas Drybone ada di brankas Vance, Macklin akan memenjarakan siapa pun, membebaskan siapa pun, memejamkan mata pada apa pun. Karena hari ia menolak adalah hari berkas itu sampai ke marsekal, dan Macklin mengayun di tiang yang ia hindari sembilan tahun."
Hu, yang duduk di sudut mengisap pipa, mengeluarkan asap perlahan. "Maka dia tidak akan berbalik," katanya. "Orang yang dirantai oleh ketakutan tidak melawan rantainya. Dia memeluknya."
"Mungkin," kata Elias. Tapi ia tidak yakin, dan ketidakyakinan itu, ia tahu, adalah tempat di mana sebuah peluang kadang bersembunyi.
Karena ia telah menonton Macklin cukup lama untuk melihat sesuatu yang tak dilihat Pearl maupun Hu. Bukan keserakahan di wajah lelaki itu. Bukan kekejaman. Melainkan kelelahan. Macklin berjalan menyusuri jalan utama dengan bahu seorang yang membawa sesuatu yang terlalu berat, dan setiap kali ia menandatangani penyitaan, setiap kali ia membaca putusan lelang yang ia tahu busuk, ia melakukannya dengan wajah seorang yang menelan sesuatu yang pahit. Bukan wajah orang yang menikmati kekuasaannya. Wajah orang yang membenci dirinya sendiri.
Elias mengenali wajah itu. Ia telah melihatnya di gang di belakang warung, di wajah Lyle Ferro yang muntah karena rasa bersalah. Dua orang yang dirantai oleh dosa lama, memegang dua buku yang membunuh orang, terlalu takut untuk berhenti dan terlalu jijik untuk terus.
"Dia bisa dibalik," kata Elias akhirnya, dan ia merasakan beratnya kata-kata itu, beratnya risiko di dalamnya. "Tidak dengan ancaman—Vance sudah mengancamnya lebih baik dari yang bisa kulakukan. Tapi mungkin dengan satu hal yang Vance tidak pernah tawarkan padanya."
"Apa itu?" tanya Pearl.
"Jalan keluar." Elias menatap nyala lentera. "Vance memberi Macklin rantai dan menyebutnya perlindungan. Aku bisa memberinya sesuatu yang lain—kesempatan untuk berhenti membenci dirinya sendiri sebelum ia mati. Tapi—" ia berhenti, dan keras kepala lama itu melunak menjadi kehati-hatian, "—kalau aku salah membacanya, kalau ketakutannya lebih besar dari rasa jijiknya, maka aku menyerahkan diriku langsung ke tangan orang yang akan mengembalikanku ke Fort Mallory. Satu salah baca, dan empat tahun runtuh."
Ia tidak mendekati Macklin malam itu. Sebuah timbangan yang berat tidak diayunkan dengan tergesa. Ia menyimpan apa yang ia tahu, dan ia memutuskan untuk menonton lebih lama—mencari berat sesungguhnya dari ketakutan lelaki itu, dan apakah, di suatu tempat di bawah rasa takut itu, masih ada cukup manusia tersisa untuk dibalik.