Kereta angkut itu membawanya kembali ke pinggir Bitter Springs sebelum fajar, melambat di jalur samping di mana Elias bisa turun tanpa terlihat. Ia mendarat di kerikil dengan lutut yang sakit, membiarkan rangkaian gerbong melaju terus ke utara, dan untuk sesaat ia berdiri sendiri di kegelapan biru yang mendahului matahari, gemetar oleh dingin dan oleh sisa ketakutan yang belum sepenuhnya surut dari tubuhnya.
Ia tak bisa langsung kembali ke Cedar Gulch. Pengejaran semalam pasti telah membuat Deglan dan anak buahnya menjaga jalur keluar Bitter Springs, mencari penyusup yang melarikan diri. Maka Elias melakukan satu-satunya hal yang masuk akal: ia berbaur ke dalam kota, menjadi salah satu dari ratusan pekerja dan pedagang dan penambang yang memenuhi jalan-jalan Bitter Springs saat hari mulai terang, seorang lelaki berdebu dan lelah yang tak berbeda dengan ribuan lainnya. Ia akan menunggu sehari, membiarkan kewaspadaan mereda, lalu pulang lewat jalur yang lebih panjang dan lebih aman.
Maka pagi itu ia berjalan menyusuri jalan utama Bitter Springs, mencari tempat untuk makan dan beristirahat tanpa menarik perhatian. Kota itu lebih besar dan lebih makmur dari Cedar Gulch, dengan toko-toko sungguhan, sebuah gereja dengan menara, dan rumah-rumah kayu yang dicat — kota yang telah melewati demam emas pertamanya dan menetap menjadi sesuatu yang lebih tenang. Elias berjalan dengan topi ditarik rendah, matanya bergerak, tubuhnya membaca jalan untuk ancaman seperti yang selalu ia lakukan.
Dan karena itulah ia melihatnya sebelum ia siap untuk melihatnya.
Seorang perempuan keluar dari toko bahan pangan di seberang jalan, sebuah keranjang di lengannya, seorang anak kecil menggandeng roknya. Ia berhenti di trotoar kayu untuk menyesuaikan keranjangnya, dan dalam gerakan itu, dalam kemiringan kepalanya dan cara cahaya pagi jatuh di wajahnya, empat tahun runtuh menjadi tidak ada sama sekali.
Sarah.
Elias berhenti di tengah jalan. Untuk sesaat tubuhnya tak menerima perintah apa pun. Seluruh dunianya menyempit menjadi sosok perempuan di seberang jalan — perempuan yang dulu berjanji akan menunggunya, yang surat-suratnya berhenti datang pada bulan kedua di Fort Mallory, yang namanya telah ia ucapkan ke dinding sel di malam-malam terburuk sampai nama itu kehilangan bentuknya. Ia lebih tua sekarang, tentu saja, tapi lebih tua dengan cara yang membuatnya lebih utuh, bukan lebih lelah — wajah seorang perempuan yang telah membangun kehidupan dan menemukan kedamaian di dalamnya.
Dan ada cincin di tangannya. Dan ada anak yang menggandeng roknya. Dan seorang lelaki keluar dari toko di belakangnya, mengambil keranjang dari lengannya dengan kelembutan kebiasaan, menyentuh punggungnya dengan tangan yang berhak menyentuhnya.
Elias berdiri di tengah jalan Bitter Springs dan menyaksikan kehidupan yang seharusnya menjadi miliknya berjalan tanpanya. Sesuatu di dadanya — sesuatu yang telah ia kunci begitu rapat selama empat tahun sehingga ia hampir lupa ia memilikinya — terbuka, dan rasa sakit yang keluar darinya begitu murni dan tua sehingga ia hampir tak mengenalinya.
Ia seharusnya pergi. Setiap bagian dari kewaspadaannya, dari penyamarannya, dari rencananya berteriak agar ia berbalik dan menghilang ke dalam kerumunan. Tapi kakinya membawanya ke seberang jalan, ke arah perempuan itu, seolah empat tahun keras kepala yang sama yang membuatnya bertahan di penjara kini menariknya ke arah satu-satunya hal yang tak bisa ia menangkan.
Sarah mengangkat wajahnya ketika ia mendekat, dan matanya jatuh padanya — pada lelaki berdebu berjanggut dengan topi ditarik rendah dan wajah yang dipahat oleh empat tahun yang keras. Dan Elias menyaksikan matanya, mencari di sana pengenalan, tanda bahwa di balik janggut dan debu ia masih melihat lelaki yang dulu ia cintai.
Tatapan Sarah melewatinya dengan kesopanan kosong yang diberikan orang asing pada orang asing. Tidak ada pengenalan di sana. Atau — dan inilah yang akan menghantui Elias setelahnya — ada sesuatu, sekilas, sebuah kerutan kecil di antara alisnya, sebuah jeda dalam tatapannya, seolah sesuatu yang sangat jauh telah bergerak di dasar ingatannya. Lalu hilang, ditutup, entah karena ia benar-benar tak mengenalinya atau karena ia memilih untuk tidak.
"Permisi, nyonya," kata Elias, dan ia mendengar suaranya sendiri keluar lebih serak dari yang ia inginkan. Ia mengubahnya, membuatnya menjadi suara Amos Teller, suara orang asing. "Aku mencari jalan ke kandang kuda umum. Aku baru di kota."
Sarah menunjuk ke ujung jalan, sopan, sudah setengah berpaling ke suaminya. "Di ujung sana, melewati pandai besi. Belok kanan." Suaranya. Persis suaranya. Sesuatu di dalam Elias remuk pelan mendengarnya.
"Terima kasih," katanya. Ia menahan dirinya untuk tidak menatap terlalu lama. "Putrimu cantik."
Sesuatu melembut di wajah Sarah, kebanggaan seorang ibu. "Terima kasih," katanya, dan untuk sesaat ia menatapnya lebih lama, sekali lagi dengan kerutan kecil itu, seolah suara lelaki ini telah menyentuh sesuatu yang ia tak bisa namai. Lalu suaminya berkata sesuatu, dan ia berpaling, dan momen itu berlalu.
Elias berdiri dan menyaksikan mereka berjalan pergi — keluarga kecil di pagi yang cerah, sebuah kehidupan utuh dan damai. Anak itu tertawa pada sesuatu yang dikatakan ayahnya. Sarah memiringkan kepalanya untuk mendengar, gerakan yang Elias kenal dari ribuan pagi lain di kehidupan lain. Lalu mereka berbelok di sudut dan hilang.
Ia berjalan ke ujung jalan dan duduk di bangku kayu di luar pandai besi, dan untuk waktu yang lama ia tak bergerak. Pandai besi itu, ironisnya, mengingatkannya pada ayahnya, pada bengkel masa kecilnya, pada dengung dan dentang yang menjadi lagu pengantar tidur masa kanak-kanaknya. Bau bara dan logam panas. Dan ia duduk di sana dan mengizinkan dirinya, untuk satu kali, merasakan seluruh berat dari apa yang telah ia bayar.
Vance tidak hanya mengambil empat tahun hidupnya. Vance tidak hanya mengambil nama baiknya, kebebasannya, kepercayaan dirinya. Vance telah mengambil ini — pagi yang cerah, keranjang di lengan, anak yang tertawa, perempuan yang memiringkan kepalanya. Sebuah kehidupan biasa dan utuh yang seharusnya ada di suatu tempat dengan namanya di atasnya. Dan tidak ada putusan pengadilan, tidak ada pembersihan nama, tidak ada penjara untuk Vance yang akan pernah mengembalikan apa yang ada di balik sudut jalan itu.
Untuk satu saat yang berbahaya, godaan untuk menyerah datang padanya lebih kuat dari sebelumnya. Untuk apa semua ini? Untuk apa risiko dan penyamaran dan malam-malam tanpa tidur, untuk apa daftar korban dan batangan curian dan segel timah di bawah lantai, jika kemenangan di ujungnya hanyalah sebuah kehidupan yang tak bisa ia ambil kembali? Ia bisa menghilang sekarang. Bisa naik kereta ke barat seperti yang dimimpikan Will, memulai dari awal di tempat di mana tak ada yang tahu nama Elias Crane atau Amos Teller, membiarkan Vance memiliki Cedar Gulch dan kebohongannya, membiarkan masa lalu terkubur bersama Tom dan Gantry.
Tapi lalu ia teringat pada Nyonya Ames, menggenggam jam saku yang berhenti di pukul sebelas lewat dua, akhirnya tahu bahwa suaminya tidak gila, tidak keras kepala, tidak salah. Ia teringat pada wajah Hu ketika lelaki tua itu menyadari ia tidak sial sendirian. Ia teringat pada kebenaran yang ia berikan pada janda muda itu — kebenaran yang tidak mengembalikan suaminya, tapi mengembalikan harga dirinya.
Ia tidak bisa mengambil kembali Sarah. Tapi mungkin itu bukan lagi inti dari semua ini. Mungkin itu tidak pernah benar-benar inti dari semua ini. Sarah adalah harga yang sudah ia bayar, dan harga itu tak bisa ditarik kembali. Tapi ada ratusan orang lain yang masih bisa diberi kembali apa yang dicuri dari mereka — kebenaran mereka, jika bukan kehidupan mereka. Dan jika Elias menyerah sekarang, jika ia membiarkan luka pribadi ini memadamkan apa yang telah ia bangun, maka Vance akan menang dua kali, dan setiap nama di daftar gulungan itu akan tetap percaya kekalahan mereka adalah salah mereka sendiri.
Elias bangkit dari bangku. Punggungnya tegak. Luka di dadanya tidak hilang — ia tahu itu tak akan pernah hilang sepenuhnya — tapi ia memindahkannya, seperti memindahkan beban dari satu cawan timbangan ke cawan lain, sampai ia menemukan keseimbangan yang bisa ia bawa. Sarah hilang. Tapi yang lain tidak harus.
Ia menarik topinya lebih rendah dan berjalan menuju kandang kuda, ke arah yang ditunjukkan Sarah, untuk menyiapkan perjalanan pulang. Ke Cedar Gulch. Ke kota yang sama yang merampas segalanya darinya. Karena di sanalah, ia tahu sekarang dengan kepastian yang lebih tenang dan lebih dalam dari dendam, pekerjaannya menunggu — bukan untuk mengambil kembali masa lalunya, tapi untuk memastikan tak ada lagi yang harus kehilangan masa depan mereka pada timbangan yang berbohong.