Malam pelelangan turun ke Cedar Gulch dengan cahaya lampu dan suara musik dari balai kota, dan di tepi gelap kota, Elias bergerak ke arah yang berlawanan dari semua orang.
Dari gang belakang ia bisa mendengar gemuruh keramaian di balai — tawa, dentingan gelas, suara Vance yang naik dan turun dalam pidato kemurahan hati yang sudah ia hafal nadanya. Seluruh kota ada di sana. Pearl ada di sana pula, di barisan depan, menjalankan tugasnya: bicara keras, menarik perhatian, dan jika lelang mulai berakhir lebih cepat dari perkiraan, ia akan mengirim sinyal — seorang anak suruhan yang akan berlari dan menggedok dinding kantor pos tiga kali. Sampai sinyal itu datang, Elias punya waktu.
Pintu belakang kantor penaksir menyerah lebih cepat dari dugaannya. Tangan ayahnya hidup di jari-jarinya saat ia membujuk gerigi kunci, merasakan tiap pin jatuh ke tempatnya, sampai mekanisme itu berputar dengan klik halus. Ia masuk, menutup pintu, dan berdiri diam dalam gelap, membiarkan matanya menyesuaikan diri, mendengarkan. Tak ada suara. Ruangan kosong, persis seperti yang ia harapkan.
Ia menyalakan lentera kecil yang tertutup, mengarahkan cahayanya tipis-tipis, dan menemukan brankas besi di sudut belakang. Ia berlutut di depannya, menempelkan telinga ke pintu dingin, dan mulai bekerja roda kombinasinya dengan kesabaran seseorang yang tak punya apa-apa selain kesabaran. Ini bagian yang ia takutkan paling lama — sebab tak ada jaminan ia bisa membukanya, dan jika tidak, seluruh malam ini sia-sia. Tapi brankas tua model lama ini, ia telah pelajari dari mengamati, mengandalkan gerigi yang bisa dirasakan oleh jari yang tahu apa yang dicarinya. Menit demi menit merangkak. Keringat menetes ke matanya. Di kejauhan, musik balai terus mengalun. Lalu, akhirnya, gerigi terakhir jatuh, dan tuas besar di pintu brankas berputar di bawah tangannya.
Di dalam, tersusun rapi, ada tumpukan dokumen, kantong-kantong emas, dan beberapa buku besar berjilid kulit.
Elias mengeluarkannya satu per satu, membaca cepat di bawah cahaya lentera. Yang pertama buku pembukuan bank biasa. Yang kedua daftar klaim. Lalu yang ketiga — lebih tebal, sampulnya lebih gelap, halamannya penuh deretan angka kadar dan kode-kode yang tidak cocok dengan buku umum yang ia tahu ditunjukkan ke publik. Ia membandingkan satu nama yang ia kenal — sampel Hu, tercatat dengan tanggal yang ia ingat — dan di sana, di buku ini, kadarnya tertulis tinggi, hampir empat kali lipat dari yang dicap Lyle di buku umum. Inilah buku kadar asli. Inilah benang yang akan menguraikan seluruh kain.
Ia tidak punya waktu menyalin semuanya, dan ia tidak akan membawa seluruh buku — buku yang hilang akan ketahuan sebelum fajar dan memberi tahu Vance bahwa ia diburu. Maka ia bekerja cepat: ia merobek dengan hati-hati satu lembar — halaman yang memuat perbandingan paling telak, kadar asli berdampingan dengan tanggal yang bisa dicocokkan dengan surat keterangan palsu yang masih dipegang para pendulang — dan ia menghafal kode perusahaan boneka yang berulang di kepala tiap kolom. Satu halaman. Satu kepingan. Bukan seluruh kebenaran, tapi cukup untuk menyeret benang pertama.
Lalu matanya jatuh pada sesuatu yang membuat tangannya membeku.
Di bagian belakang buku, terselip di antara halaman seperti pembatas, ada sebuah lempeng timah kecil. Sebuah segel. Segel peti, jenis yang persis ia kenal, dengan nomor terukir di permukaannya yang kusam. Bukan segel utuh — hanya satu lempeng, disimpan mungkin sebagai catatan, atau jimat kesombongan, atau sekadar lupa dibuang. Elias mengangkatnya ke cahaya, dan membaca angkanya, dan dunia menyempit menjadi empat digit yang telah ia ukir ke dalam ingatannya selama empat tahun di sel yang gelap.
Empat. Tujuh. Satu. Sembilan.
Peti terberat. Peti yang ia kawal mati-matian di Hollow Bend, di malam Tom Bissell terlempar dari atap tanpa suara dan Gantry yang muda berteriak satu kali lalu diam. Segel dari peti yang menurut hukum dirampok dan lenyap ke gurun bersama kawanan yang tak pernah ada, kini ada di tangannya, terselip di buku rahasia Sterling Vance, di dalam kota yang sama, di brankas yang sama. Bukan bukti yang utuh — bukan pengakuan, bukan kesaksian — tapi sepotong logam yang menghubungkan dua kejahatan menjadi satu, yang berkata dengan suara yang lebih keras dari teriakan: peti ini tidak pernah dirampok di jalan. Ia berakhir di sini. Di tangan orang yang mengirim Tom dan Gantry mati untuk menutupinya.
Elias berdiri di tengah ruangan, halaman robekan di satu tangan, segel timah di tangan yang lain, dan untuk satu detik penuh ia lupa bernapas. Empat tahun. Empat tahun ia menghafal angka ini tanpa tahu kenapa, dan kini angka itu memandang balik kepadanya dari telapak tangannya sendiri, dingin dan nyata dan tak terbantahkan.
Lalu lampu menyala.
Bukan lenteranya. Lampu minyak besar di langit-langit ruang depan, menyala terang sekaligus, membanjiri ruangan dengan cahaya kuning yang menelanjangi segalanya. Elias berbalik, segel masih di tangannya, dan di ambang pintu yang menghubungkan ruang depan dengan ruang brankas berdiri Roy Deglan, pistol di tangan, palu sudah terkokang, dan di wajahnya yang berleher tebal merekah sebuah senyum perlahan saat matanya menyapu wajah Elias dan, di balik janggut dan empat tahun penjara, mengenalinya.
"Kukira kau membusuk di penjara," kata Deglan, suaranya tenang, hampir senang, suara yang sama yang Elias dengar memerintahkan pembakaran gubuk Hu. "Anak pengawal. Crane."
Elias tidak menjawab. Otaknya, yang telah dilatih empat tahun untuk tetap dingin, sudah menghitung. Pintu depan, satu-satunya jalan keluar, terkunci di belakang Deglan; ia telah mendengar kuncinya diputar saat lampu menyala — Deglan masuk dan mengunci di belakangnya, memerangkapnya. Di tangan Elias buku bukti yang menyeretnya ke penjara sekaligus yang bisa membebaskannya, dan segel yang menggantung dua nyawa. Dan dari bawah, naik lewat tangga kayu, mulai terdengar derap kaki anak buah Deglan, berlari, dua atau tiga atau lebih, datang untuk menutup satu-satunya celah yang tersisa.
Elias menatap orang yang ikut menembak mati kedua rekannya empat tahun lalu, orang yang kini berdiri di antara dirinya dan kebenaran yang telah ia kejar lebih lama dari yang ia sadari, dan ia tahu dua hal dengan kejelasan yang dingin dan absolut. Buku ini tidak boleh kembali ke brankas. Dan ia tidak punya jalan keluar dari ruangan ini selain melewati orang yang sedang tersenyum sambil mengarahkan pistol ke jantungnya, sementara derap langkah di tangga semakin dekat, semakin keras, dan waktu yang ia hitung dengan begitu cermat selama berhari-hari menyusut, dalam sekejap, menjadi nol.