Pintu besi penjara teritorial Fort Mallory berderit dibuka pukul enam pagi, dan Elias Crane melangkah keluar ke cahaya yang terlalu terang untuk mata yang selama empat tahun hanya mengenal jeruji dan lumut dinding sel.
Ia berhenti di anak tangga terbawah. Sipir melemparkan sebuah karung kanvas berisi seluruh harta dunianya: satu mantel kulit yang sudah retak di siku, sebuah jam saku tanpa rantai yang macet di pukul sebelas lewat dua, dan dua dolar perak yang menurut catatan adalah uang yang ada di sakunya pada malam ia ditangkap. Tidak ada pistol. Pistolnya, mereka bilang, sudah jadi barang bukti yang lenyap entah ke mana, seperti banyak hal lain di sekitar perkaranya yang lenyap dengan rapi.
"Jangan kembali ke sini, Crane," kata sipir tanpa menatapnya. "Orang yang dua kali masuk biasanya tak pernah keluar lagi."
Elias tidak menjawab. Ia menghitung. Kebiasaan lama. Dua dolar perak. Empat tahun. Tujuh ratus mil lebih ke utara dari sini terbentang kota yang merampas semuanya. Ia memanggul karung itu dan berjalan ke arah kandang kuda umum, di mana ia tahu ada kereta angkut yang akan lewat menuju jalur kereta api kecil di Bitter Springs.
Di sepanjang perjalanan, ingatan itu datang lagi, sebagaimana ia datang hampir tiap malam selama empat tahun.
Malam itu basah. Gerbong bijih Perusahaan Angkut Meridian merangkak di tikungan tebing dekat Hollow Bend, roda besinya menjerit di lengkung rel. Elias duduk di atap gerbong pengawal, senapan laras pendek di pangkuan, hujan menetes dari pinggir topinya. Di sampingnya Tom Bissell mengeluh soal kaki yang basah; di gerbong belakang, Gantry yang muda dan banyak omong menyanyi pelan untuk mengusir kantuk. Mereka mengawal sebelas peti bijih emas. Elias hafal nomor segel timahnya, karena memang tugasnya menghafal: tujuh peti berakhiran ganjil, empat berakhiran genap, dan satu peti, peti yang paling berat, bersegel nomor empat-tujuh-satu-sembilan.
Lalu lentera-lentera muncul dari balik batu, dan dunia meledak.
Elias menembak ke arah kilatan moncong di kegelapan. Ia ingat dingin yang menjalar saat Tom terlempar dari atap tanpa suara. Ia ingat Gantry berteriak satu kali, lalu diam. Ia ingat seseorang — sosok besar berleher tebal dengan syal menutup separuh wajah — berdiri di rel di depan lokomotif, dan cara orang itu mengangkat tangan bukan untuk menembak melainkan untuk memberi isyarat, seakan semua ini sudah diatur jam demi jam. Lalu sesuatu menghantam tengkuk Elias dari belakang, dan malam menjadi hitam pekat.
Ia terbangun di samping rel saat fajar, satu-satunya yang hidup, dengan senapannya kosong dan kantong pelurunya juga kosong. Sebelas peti hilang. Dan ketika para penyidik Meridian datang, mereka tidak menemukan jejak kawanan perampok berkuda yang masuk akal — yang mereka temukan hanya satu pengawal yang selamat tanpa luka tembak, dengan senjata yang sudah ditembakkan habis, di samping dua mayat rekannya. Cerita itu menulis dirinya sendiri tanpa perlu kebenaran. Pengawal yang berkomplot. Pengawal yang membiarkan kawanan lewat lalu pura-pura pingsan. Hakim teritorial mengetuk palu dalam waktu kurang dari satu hari.
Kereta angkut yang Elias tumpangi sekarang berderak melintasi dataran kering, dan ia menarik dirinya kembali ke masa kini. Di sebelahnya seorang pedagang keliling mengoceh soal harga garam dan soal demam emas yang katanya sudah mulai padam di mana-mana kecuali di beberapa kantong tertentu.
"Cedar Gulch masih jalan," kata pedagang itu sambil mengunyah tembakau. "Aneh, kota-kota lain mengering, tapi Cedar Gulch malah ramai. Katanya tanahnya kaya. Tapi anehnya tak ada satu pendulang pun di sana yang jadi kaya. Semua emas seperti masuk ke satu lubang dan tak keluar lagi."
Elias diam, tapi telinganya terbuka penuh. Satu lubang. Ia tahu lubang itu. Ia tahu siapa yang menjaganya.
Selama empat tahun di sel, ia tidak menyusun rencana balas dendam yang berdarah. Ia bukan tipe itu, dan ia tahu betul bahwa pria yang masuk kota dengan amarah dan timah panas hanya akan berakhir di liang kubur tanpa nama, persis seperti yang diinginkan orang-orang yang menjebaknya. Yang ia susun, malam demi malam, adalah hitungan. Sebelas peti bijih. Berat tercatat empat ribu dua ratus troy ounce. Jika benar dirampok kawanan berkuda, emas sebanyak itu mestinya muncul kembali di pasar gelap, dicairkan sedikit demi sedikit. Tapi selama empat tahun, di setiap kabar yang berhasil ia korek dari tahanan baru dan sipir yang bisa diajak bicara, tidak satu ounce pun dari emas itu pernah muncul di mana pun.
Emas yang tidak pernah muncul kembali bukanlah emas yang dirampok. Itu emas yang tidak pernah benar-benar pergi.
Ia menggenggam jam saku yang macet itu di dalam saku. Bukan dendam yang menuntunnya, ia berkata pada dirinya sendiri, walau ia tahu itu setengah dusta. Yang menuntunnya adalah satu pertanyaan yang harus dijawab dengan angka, bukan dengan peluru: ke mana sebenarnya emas itu pergi, dan tangan mana yang mengubah jalannya hanya dengan menggerakkan sebuah pena di atas buku catatan.
Kereta angkut berhenti di Bitter Springs menjelang senja. Dari sana, sebuah jalur kereta api sempit berliku ke utara, ke kaki pegunungan tempat Cedar Gulch berlumpur menunggu. Elias membayar tiket kelas paling murah dengan satu dari dua dolar peraknya. Tinggal satu dolar tersisa di dunia ini sebagai miliknya.
Di peron, ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela gerbong. Wajah yang lebih kurus, lebih keras, dengan janggut yang tak lagi ia cukur rapi seperti dulu. Wajah yang tak akan dikenali orang sebagai Elias Crane si pengawal kawat yang teliti. Itu bagus. Ia membutuhkan wajah yang tidak dikenali.
Sebab ke kota yang merampas namanya itu, ia tidak akan kembali sebagai Elias Crane. Ia akan kembali sebagai orang lain, seorang pendulang lugu yang datang terlambat ke demam emas, seseorang yang cukup bodoh untuk mengantre di kantor penaksir dan menyerahkan sampelnya untuk ditimbang oleh tangan-tangan yang ia tahu berbohong.
Peluit kereta menjerit. Elias naik, mencari tempat di sudut gerbong yang gelap, dan menatap rel yang berkelok masuk ke pegunungan. Suatu tempat di ujung sana, sebuah timbangan kuningan sedang menanti, dan ia berniat membuat timbangan itu, pada akhirnya, mengatakan yang sebenarnya.