Anya melangkah ringan memasuki rumahnya, melemparkan ransel ke sofa dan mencium aroma masakan dari dapur. "Hmm, pasti ibu sedang memasak sup favoritku," pikirnya sambil tersenyum. Anya merasa senang karena hari ini Ray memberikan pujian padanya tentang presentasinya di kelas.
Namun, kebahagiaannya lenyap seketika ketika ia mendengar suara lembut ibunya berbicara di telepon. Anya hendak menyapa, namun langkahnya terhenti ketika mendengar nada suara ibunya yang tidak biasa.
"Iya, aku juga merindukanmu. Sulit rasanya bertemu tanpa dicurigai," suara ibunya terdengar pelan namun jelas.
Anya terdiam di ambang pintu dapur, matanya membelalak saat menyadari bahwa ibunya sedang berbicara dengan seseorang yang bukan ayahnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa, kakinya terasa kaku dan hatinya mulai berdebar.
"Tunggu, siapa ini?" Anya berbisik pada dirinya sendiri.
"Aku juga mencintaimu," kata ibunya, menutup telepon dengan desahan pelan.
Anya merasa darahnya berhenti mengalir. Tidak mungkin. Ini pasti mimpi buruk. Ia berusaha mengatur napasnya yang memburu. Dengan hati-hati, ia melangkah mundur, berharap ibunya tidak menyadari kehadirannya.
Namun, sebelum Anya bisa melangkah lebih jauh, ibunya berbalik dan menatapnya. "Anya! Kamu sudah pulang?" Wajah ibunya berubah pucat saat melihat ekspresi Anya yang terkejut.
"Ibu... siapa itu di telepon?" Anya berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang, meskipun hatinya hancur berkeping-keping.
"Oh, itu... hanya teman lama ibu," jawab ibunya tergagap, namun matanya menghindari tatapan Anya.
"Teman lama? Kenapa ibu bilang mencintainya?" Anya semakin mendesak, suaranya bergetar.
"Anya, ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ibunya berusaha menjelaskan, namun Anya tidak mau mendengar lebih lanjut.
"Tidak seperti yang kupikirkan? Ibu, aku bukan anak kecil lagi!" teriak Anya dengan air mata mengalir di pipinya. "Aku mendengar semuanya. Ibu berselingkuh!"
Ibunya terdiam, air mata mulai menggenang di matanya. "Anya, maafkan ibu. Ibu tidak ingin ini terjadi. Ada banyak hal yang kamu tidak mengerti."
"Apa yang tidak aku mengerti, bu? Ibu mengkhianati ayah! Mengkhianati kita!" Anya berlari ke kamarnya, membanting pintu dengan keras.
Di dalam kamar, Anya jatuh terduduk di lantai, menangis tanpa suara. Ia merasa dunianya runtuh. Ibunya, orang yang selalu ia percayai, telah mengkhianatinya. Anya merasakan kesedihan yang mendalam, bercampur dengan kemarahan dan kebingungan.
Malam itu, saat makan malam, suasana rumah terasa dingin dan canggung. Ayah Anya, yang baru pulang kerja, tidak menyadari ketegangan yang terjadi. Ia bercerita tentang pekerjaannya, namun Anya hanya menjawab dengan anggukan singkat, sementara ibunya mencoba tersenyum meskipun jelas terlihat tertekan.
Setelah makan malam, Anya kembali ke kamarnya. Ia tidak bisa berhenti memikirkan percakapan yang ia dengar tadi siang. Ia tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia merindukan masa lalu, saat keluarganya masih utuh dan bahagia.
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Ray muncul di layar.
"Hey, kamu oke? Kelihatan sedih tadi di sekolah."
Anya menghela napas panjang. Ray selalu bisa merasakan jika ada yang tidak beres. Ia memutuskan untuk tidak menceritakan semuanya, setidaknya belum.
"Aku baik-baik saja, hanya lelah," balas Anya.
Ray cepat membalas. "Kalau butuh teman bicara, aku selalu ada."
"Terima kasih, Ray. Aku menghargainya," jawab Anya dengan senyum kecil, meskipun hatinya masih terluka.
Hari-hari berlalu dengan perlahan, Anya berusaha menjalani rutinitasnya seperti biasa. Namun, bayang-bayang percakapan ibunya selalu menghantuinya. Setiap kali ibunya berbicara di telepon, Anya merasa curiga dan khawatir. Ia merasa terasing di rumahnya sendiri, tidak tahu harus mempercayai siapa.
Suatu hari, setelah pulang dari sekolah, Anya mendapati ibunya menangis di dapur. Ia ingin mengabaikannya, tetapi hatinya tidak tega. Dengan perlahan, ia mendekati ibunya dan menyentuh pundaknya.
"Ibu, kenapa menangis?" tanya Anya lembut, meskipun hatinya masih dipenuhi rasa marah dan kecewa.
Ibunya menatap Anya dengan mata yang penuh air mata. "Maafkan ibu, Anya. Ibu tidak ingin kamu tahu tentang ini. Ibu hanya... ibu merasa kesepian. Ayahmu selalu sibuk bekerja, dan ibu merasa terabaikan."
Anya terdiam. Ia tidak pernah memikirkan perasaan ibunya sebelumnya. "Kenapa ibu tidak bicara dengan ayah?"
"Ayahmu... dia tidak pernah mendengar. Selalu tentang pekerjaannya," ibunya menghela napas panjang. "Ibu tahu ini salah, tapi ibu hanya ingin merasa dicintai."
Anya merasakan campuran emosi yang rumit. Ia masih marah dan kecewa, tetapi ia juga mulai memahami perasaan ibunya. "Ibu, aku... aku tidak tahu harus berkata apa. Ini semua terlalu rumit."
"Ibu tidak ingin kehilangan kamu, Anya. Kamu adalah segalanya bagi ibu," kata ibunya dengan suara bergetar.
Anya merasa air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tidak tahu apakah ia bisa memaafkan ibunya, tetapi ia tahu bahwa mereka perlu bicara lebih banyak. "Aku butuh waktu, bu. Semua ini sangat berat bagiku."
Ibunya mengangguk dengan sedih. "Aku mengerti. Ibu akan menunggu."
Malam itu, Anya berbaring di tempat tidurnya, merenungkan semua yang telah terjadi. Ia tahu bahwa rahasia ini akan mengubah hidupnya selamanya. Ia harus kuat dan berani menghadapi kenyataan ini, meskipun itu sangat menyakitkan.
Keesokan harinya, Anya memutuskan untuk berbicara dengan Ray. Ia tahu bahwa ia membutuhkan teman untuk mendukungnya melalui masa sulit ini. Di taman sekolah, Anya menemukan Ray sedang duduk sendirian.
"Ray, aku perlu bicara," kata Anya dengan suara pelan.
Ray menatapnya dengan khawatir. "Tentu, ada apa?"
Anya menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan air mata. "Aku menemukan sesuatu yang sangat mengerikan tentang keluargaku."
Ray meraih tangan Anya dengan lembut. "Kamu bisa cerita apa saja padaku, Anya. Aku akan selalu ada untukmu."
Dengan dukungan Ray, Anya mulai menceritakan semua yang telah terjadi. Ia merasa beban berat di hatinya sedikit terangkat. Ray mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan dukungan yang sangat dibutuhkan Anya.