Mengitari tubuh pria tinggi semampai itu, Dinia menyentuh dagunya sambil tersenyum penuh makna.
“Mari menikah.”
Tanpa merasa Permintaan itu sudah kelewatan, Dinia malah menjelaskan beberapa kalimat yang membuat Sekertaris Ham, ingin melempari Gadis itu dengan sepatunya.
“Tidak perlu takut, aku tidak akan merampas kekayaanmu, aku hanya butuh kau menikahiku, dengan Kontak. setelah kakekku tahu aku menikah aku akan menceraikan mu.
mudah bukan. Jadi untuk membalas Ganti rugi karena anak buahmu itu parkir sembarangan, kau harus menikahiku okeh.”
Dinia berlari kecil kedalam mobilnya, tanpa memperdulikan jawaban sang pria, toh jika di tolak Dinia juga tidak akan menerima penolakan itu.
Boro-boro Dinia menyadari kelakuannya salah, gadis itu malah tertawa riang sambil memberi kisbye setelah melajukan mobilnya.
Mimik wajah Ham sangat marah, Bukan, Sebenarnya bukan dia yang bersangkutan dengan Dinia, tapi tuannya.
tapi pria itu tampak murka melihat gadis yang begitu berani mengolok Tuan muda seperti Sean.
“Tuan, anda tidak Apa.”
Sean hanya mengulum senyum.
“Menarik.”
Ham yang mendengar itu berdebar tak karuan bergetar bak setruman.
Astaga tuan! Apa anda bercanda. jangan bilang anda tertarik padanya.
Di dalam perjalanan pulang, Sean terus saja menatap keluar membuat Sekertaris Ham curiga.
Tuan, anda kenapa senyum-senyum begitu. jangan bilang anda menyukai gadis yang tadi ya.
“Ham, Cari tahu tentang gadis itu.”
Baru saja ingin ku pastikan, Ternyata Tuan Memang tertarik pada gadis itu.
“Eumm Tuan, Anda tidak sedang suka pada gadis itu akan.”
“Siapa bilang aku suka.?”
“Lalu kenapa Anda sangat antusias terhadap gadis itu.”
“Sekali lagi ngomong, mulutmu akan ku bungkam dengan Kotak Vaseo.” ujar Sean. membuat Ham langsung tutup mulut.
“Maaf Tuan.”
Setelah sampai di kantornya, Sean memasuki ruangan Presdir itu. duduk dengan santai. sambil mengingat kembali wajah jutek milik gadis yang ia temui di pasar tadi.
Gadis yang dandanannya seperti pria itu benar-benar menarik perhatiannya.
Jatuh cinta pandangan pertama?
sepertinya tidak.
pria itu tersenyum licik di balik Tangan yang menutupi Bibirnya.
Selang beberapa waktu, Sekertaris Ham datang, membawa beberapa dokumen.
“Tuan, saya sudah menemukan identitas gadis itu.”
“Bagus. katakan.”
“Dia bernama Dinia Basori Wijaya. Cucu dari Keran Wijaya.
CEO dari perusahaan Perta Jaya.
Beberapa waktu lalu, pria tua itu pernah mendatangi Anda tuan.”
“Oh ya. kapan?”
“Satu Minggu yang lalu, Kakek yang menawarkan Cucunya untuk anda nikahi tuan.”
Jawab Ham.
Sean menyeringai seram. jodoh memang tidak kemana, pikir pria itu.
“Atur pertemuan ku dengan gadis itu besok.
Jangan lupa menyiapkan dokumen yang ku suruh.”
“Baik tuan.”
.
.
.
Malam hari adalah waktunya untuk istirahat, Dinia baru keluar dari kamar mandi, setelah melakukan ritualandinya.
sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk,
Dinia merogoh kartu nama dari tas hitam yang mulai pudar itu, ia menyeringai seperti ekspresi mafia yang ingin menghabisi lawannya.
Dinia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, ia memasukkan nomor telpon Sean ke dalam kontaknya lalu menghubunginya.
“Halo.”
Telpon terhubung suara pria yang maskulin.
Ehemm
ehemm
ehemm
Dinia berdehem guna melegakan kerongkongannya.
“Hai calon suamiku.”
“Ini siapa.”
“Ahaha kau bercanda ya, tidak mengenali calon istri mu sendiri.”
Tuttt tutt
Sambungan telepon terputus
“Aishhh sialan, berani-beraninya dia memutuskan telpon dari preman kondang tanah Abang, kurang ajar ini mah.”
Dinia menghubungi kontak itu berulang kali, tapi tidak ada jawaban, membuat ia mengantuk dan tertidur sendiri.
Di rumah kerja Sean, ia dan Sekertarisnya sedang mengerjakan sesuatu tapi gawai Sean Yanga dan di meja atas sova terussaja berdering.
“Siapa yang menelpon malam-malam begini, kenapa tidak kau angkat Ham.”
“Sudah tuan, aku sudah tahu itu siapa.”
”Siapa?”
“Gadis preman yang kita temui di pasar tuan.”
“Hem, Sepertinya dia sudah tidak sabar menderita.
urus gadis itu, kita memiliki permainan baru.”
“Baik tuan muda.”
Ham terlihat sibuk dengan Gawainya, menghubungi dua orang sekaligus dari gawainya via pesan.
“Tunggu saja di tempat kemarin, kita akan bertemu dan membahasnya di sana.” begitu pesannya gak di tulis sekertaris Ham kepada Dinia.
Mimpi saja, kau tidak akan bisa berbuat sesukamu Nona.
batin Sekertaris Ham selagi mengetik pesan itu.
Sedangkan beberapa detik kemudian ia menghubungi seseorang, memberikan jadwal pertemuan pagi kepada seorang yang meminta tuan mudanya menikah dengan seorang gadis yang ternyata cucunya. dia lah Wijaya.
Waktu pun sudah tiba.
“Saya bisa datang menemui anda sekertaris Ham, maaf sudah merepotkan anda.” Ujar Wijaya sambil mengulum senyum di bibirnya.
“Tidak perlu sungkan pak Wijaya. saya sudah mempersiapkan semuanya, mengenai perjodohan cucu anda dengan tuan saya, Presdir Arsanna group.
dengan senang hati kami menyetujui perjodohan ini.” lugas Sekertaris Ham.
“Syukurlah sekertaris Ham, saya tidak menyangka orang hebat seperti tuan Sean mau menerima cucu perempuan saya menjadi istri, saya sangat tersanjung dan banyak berterimakasih.” Teramat senang, Kakek Wijaya tidak memiliki firasat buruk sedikitpun, yang ia pikirkan hanyalah kehidupan cucunya, orang seperti presdir dari perusahaan nomor satu di negara itu adalah pria yang menurutnya cocok untuk cucunya.
“Baiklah pak Wijaya, silahkan tanda tangani dokumen di bawah ini. sebagai pengikat persetujuan perjodohan antar tuan Sean dengan cucu anda.”
“Baik.”
Tanda tangan pun terjadi, tanpa membaca itu terlebih dahulu. Wijaya teramat senang, akhirnya impiannya terkabulkan.