Keesokan harinya, Seoul kembali berdenyut dengan ritme yang melelahkan dan tanpa ampun.
Bagi Nam Ryu, pagi bukanlah awal yang lembut. Matahari yang baru naik justru menjadi penanda dimulainya rutinitas ganda yang selama dua tahun terakhir ia jalani tanpa banyak keluhan—meski tubuhnya sering kali meminta jeda.
Pukul delapan pagi tepat, ia sudah berada di cabang The Abyss Itaewon.
Lampu bar masih temaram, bau alkohol sisa semalam bercampur dengan aroma pembersih lantai. Ryu berdiri di balik counter, memeriksa laporan stok di tablet, sesekali memberi instruksi singkat pada manajer shift pagi. Ekspresinya tenang, profesional—tidak ada sisa emosi dari malam sebelumnya yang terlihat di wajahnya.
Namun tubuhnya mengingat.
Sedikit ketegangan di bahu.
Sedikit denyut di pelipis.
Ia tahu itu b