Rasa sakit datang semakin kuat. Tabib Baek memberi arahan, Miran membantu Ayana mengikuti napas, dan Seungwoo tidak melepaskan tangannya.
"Sedikit lagi, Ayana," ujar Tabib Baek. "Ikuti suaraku."
Ayana mengerahkan tenaga. Ia menangis, tetapi terus berusaha. Seungwoo membisikkan dukungan di dekatnya, memastikan ia tahu bahwa ia tetap berada di sana.
Sesaat kemudian, tangis bayi memenuhi ruangan.
Miran menutup mulutnya, air mata haru mengalir di pipinya. Tabib Baek mengangkat bayi laki-laki yang sehat dan segera memeriksanya. Rambut bayi itu lembut, dengan bulu cokelat halus di bagian atas kepalanya—tanda kecil dari darah serigala yang diwarisinya.
"Bayi kalian sehat," kata Tabib Baek.
Seungwoo menunduk, tak mampu menahan tangis. Ayana menangis lega. Setelah Tabib Baek memastikan keadaan mereka stabil, ia meletakkan bayi itu di pelukan Ayana.
Ayana memandang wajah kecil itu. "Halo, sayang."
Seungwoo duduk di sampingnya dan meminta izin untuk menyentuh tangan bayi. Ayana mengangguk. Jari mungil itu menggenggam ujung jarinya.
"Terima kasih sudah berjuang," bisik Seungwoo kepada Ayana. "Aku akan menjaga kalian."
"Aku akan mengingatkanmu kalau kau lupa," jawab Ayana lemah, berusaha tersenyum.
Di luar, kabar kelahiran segera sampai kepada Hangyul dan Eunha. Hangyul menghela napas lega, tetapi tetap bertahan di gerbang sampai ancaman rogue benar-benar selesai.
***
Ayana beristirahat di kamar dengan Miran mendampinginya. Bayi mereka berada dalam buaian kecil di dekat ranjang. Tabib Baek meminta semua orang membatasi kunjungan agar Ayana dapat pulih.
Seungwoo keluar sebentar ke ruang komando di dalam istana bersama Seungyoun untuk menerima laporan dari garis depan. Pasukan rogue mundur dari sebagian perbatasan, tetapi beberapa orang masih belum ditemukan. Go Jeong juga belum tertangkap. Sebelum pergi, Seungwoo mengingatkan penjaga agar tidak seorang pun mendekati Ayana atau bayi tanpa izin.
Tabib Baek kemudian meminta Miran membawa bayi ke ruang pemeriksaan kecil yang terhubung dengan aula, agar ia dapat memeriksa kondisinya tanpa mengganggu istirahat Ayana. Seorang penjaga mengawal buaian. Ayana tetap di kamar atas arahan tabib.
Saat pemeriksaan berlangsung, sebuah alarm palsu terdengar dari gerbang barat. Penjaga yang mengawal buaian dipanggil untuk membantu. Tabib Baek meminta Miran mengambil selimut bersih dari kamar Ayana, sehingga ia meninggalkan bayi hanya sebentar di ruang pemeriksaan.
Seorang pelayan berkedok pengantar kain menyelinap melalui lorong sempit dengan membawa pesan palsu dari dapur. Ia masuk ke ruang pemeriksaan, mengambil bayi, lalu mendorong buaian menuju aula. Ketika Miran kembali, tempat itu sudah kosong.
Seungyoun menyadari ada yang tidak beres ketika menemukan pintu samping terbuka dan buaian tidak lagi berada di ruang pemeriksaan. Ia mengikuti jejak roda ke aula kecil, tetapi terlambat beberapa menit.
Di kamar, Miran memanggil Tabib Baek dan bergegas mencari Seungwoo. Ayana berusaha bangkit dari ranjang, tetapi tabib meminta ia tetap diam agar tidak memperparah kondisinya.
Di aula, buaian berhenti dekat pilar. Sosok berjubah gelap berdiri di sisinya sambil menggendong bayi. Wajahnya tersembunyi, tetapi suaranya dikenali Seungyoun.
"Go Jeong," katanya. "Letakkan bayi itu."
Go Jeong tertawa pelan. "Raja kalian selalu terlambat."
***
Go Jeong mendekap bayi itu erat di lengannya. Seungyoun mengangkat tangan kepada para penjaga agar tidak menyerang sembarangan.
Seungwoo tiba di aula setelah mendengar keributan. Begitu melihat bayinya berada di tangan Go Jeong, ia berhenti. Wajahnya mengeras, tetapi ia tidak maju.
"Lepaskan anak itu," katanya.
"Jangan mendekat," balas Go Jeong. "Kau sudah mengambil semuanya dariku—tahta, pengaruh, dan sekarang kau menganggap bayi ini akan menyatukan seluruh negeri di bawahmu."
"Bayi itu tidak terlibat dalam perebutan kekuasaanmu."
"Dia adalah pewarismu. Selama ia hidup, para bangsawan akan mengikutimu."
Ayana, yang masih lemah setelah persalinan, dibantu Miran sampai ke ambang aula. Tabib Baek berusaha menahannya, tetapi ia ingin melihat bayinya sendiri. Seungwoo menoleh dan meminta Ayana tetap di belakangnya.
"Jangan sakiti dia," kata Ayana kepada Go Jeong.
Go Jeong menatapnya sekilas. "Kau seharusnya tidak pernah berada di Taewon."
Ayana memegang gelang zamrud di pergelangannya. Cahaya tipis berdenyut di permukaannya, tetapi ia belum menggunakannya. Ia menunggu celah yang aman agar bayi tidak terkena bahaya.
Seungwoo dan Go Jeong saling berhadapan. Seungyoun serta para penjaga menutup jalan keluar, tetapi tidak ada yang bergerak mendekat.
"Ini berakhir malam ini," kata Seungwoo.
Go Jeong mengeratkan pegangannya pada bayi. "Kalau begitu, maju dan buktikan."
Seungwoo melangkah satu kali, lalu berhenti saat Go Jeong mengangkat bayi lebih tinggi. Ketegangan memenuhi aula. Ayana menggenggam gelangnya, mencari cara menyelamatkan anaknya tanpa membuatnya terluka.
***
Go Jeong berdiri di tengah aula dengan bayi dalam pelukannya. Seungwoo tidak berani menyerang langsung. Para penjaga menutup pintu, tetapi menjaga jarak agar tidak membuat Go Jeong panik.
Ayana berdiri di belakang Seungwoo, tubuhnya masih lemah setelah persalinan. Miran mencoba membantunya kembali ke kamar, namun Ayana menolak pergi sebelum bayinya aman.
"Jangan bergerak," ancam Go Jeong. "Aku tidak akan menyerahkan anak ini kepadamu."
Seungwoo menahan diri. "Kau bisa meletakkan bayi itu dan menyerah. Tidak ada yang perlu terluka lagi."
Go Jeong tertawa sinis. "Kau masih bicara seolah semua orang akan tunduk padamu."
Ayana merasakan gelang zamrud di pergelangannya bergetar. Cahaya samar muncul dari batu hijau itu. Tabib Baek, yang berdiri dekat pintu, melihatnya dan segera memahami bahwa energi gelang sedang bereaksi.
"Jangan memaksakan diri," bisik Tabib Baek kepadanya. "Kau baru saja melahirkan."
Ayana tetap mengamati Seungwoo. Ia melihat Raja itu berusaha melindungi bayi tanpa menyerang Go Jeong. Jika gelang itu dapat membantu, ia harus menemukan cara menggunakannya tanpa membahayakan anaknya.
Seungwoo menggeser posisi, mencoba membuka ruang agar Go Jeong menurunkan bayi. Go Jeong menangkap gerakan itu dan mundur ke dekat pilar.
"Ayana, jangan mendekat," kata Seungwoo tanpa menoleh.
Ayana menatap gelangnya. Cahaya itu semakin terang saat ia memikirkan Seungwoo dan bayinya. Ia teringat penjelasan Tabib Baek: gelang tersebut berhubungan dengan ikatan dan ingatan yang tersegel.
Ia tidak tahu apa akibatnya jika gelang itu digunakan. Namun ia juga tidak bisa hanya berdiri melihat Go Jeong mengancam anaknya.
***
Ayana melepas gelang zamrud dari pergelangan tangannya. Cahaya hijau menyala lebih kuat, memenuhi aula dengan kilau yang membuat semua orang terdiam.
"Seungwoo!" serunya.
Ia melemparkan gelang itu ke arah Raja. Seungwoo menangkapnya tepat saat Go Jeong mengangkat senjata.
Cahaya gelang menyebar ke tubuh Seungwoo. Energi yang selama ini tersegel mengalir kembali, menguatkan elemen keempat yang belum pernah ia kuasai sepenuhnya. Ia berdiri lebih tegak, tetapi tidak kehilangan kendali.
Go Jeong menyerang. Seungwoo menangkis serangan itu dan mendorongnya menjauh dari bayi. Seungyoun dan para penjaga bergerak ketika ada celah, tetapi Seungwoo memberi isyarat agar mereka tidak mendekat ke buaian.
Ayana berlari beberapa langkah, lalu berhenti ketika rasa sakit menjalar. Miran menopangnya. Seungwoo berhasil menjatuhkan senjata Go Jeong dan memaksanya berlutut.
"Ini berakhir," kata Seungwoo.
Go Jeong berusaha bangkit, tetapi penjaga segera menahannya. Bayi itu terlepas dari pelukannya. Seungwoo menangkapnya dengan hati-hati dan membawanya kepada Ayana.
Ayana menerima bayinya, memeluknya erat di dada. Tangis kecil terdengar, tanda bahwa ia masih baik-baik saja.
Seungwoo mengembalikan gelang zamrud kepada Ayana. Cahayanya perlahan meredup.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya darimu lagi," katanya.
Ayana menatapnya. "Kita pastikan dia aman dulu."
Seungwoo mengangguk. Ia memerintahkan para penjaga mengikat Go Jeong dan memanggil Tabib Baek untuk memeriksa bayi serta Ayana. Aula mulai tenang, tetapi seluruh istana tahu konflik itu belum selesai sampai para pengkhianat diadili.